Ada Lakon di Balik Bunyi

- Penulis

Minggu, 18 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

NTB, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki modal kuat untuk terus melangkah (Foto: aks)

NTB, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki modal kuat untuk terus melangkah (Foto: aks)

Oleh Lalu Suryadi Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB

CERAKEN. ID —  Jumat malam, 16 Januari 2026, Warjack Taman Budaya NTB kembali menjadi ruang temu bagi bunyi, tubuh, dan perasaan. Di bawah tajuk “Ada Lakon”, Yoiakustik menyanyikan sepuluh lagu, bukan sekadar menyusunnya sebagai daftar repertoar, melainkan merangkainya sebagai perjalanan.

Bukan perjalanan yang gamblang dengan peta makna yang jelas, melainkan perjalanan batin yang mengandalkan pendengaran, intuisi, dan kesediaan penonton untuk larut.

Sejak denting awal terdengar, terasa bahwa pementasan ini tidak diniatkan sebagai hiburan instan. Ia menuntut jeda, mengajak diam, bahkan meminta kesabaran.

Lampu yang tak berlebihan, tata panggung yang bersahaja, dan penempatan para pemusik yang seolah enggan menjadi pusat sorotan, justru menegaskan satu hal: yang utama malam itu adalah bunyi dan apa pun yang ia bangkitkan di dalam diri pendengarnya.

Yoiakustik tampil rapi secara musikal. Harmoni terjaga, dinamika mengalir, dan transisi antar lagu terasa matang. Tidak ada kesan tergesa. Setiap lagu diberi ruang bernapas.

Kadang bunyi mengalun lirih, nyaris seperti bisikan; di lain waktu ia mengeras, menghantam kesadaran, lalu kembali surut. Sepuluh lagu itu seperti sepuluh adegan, sepuluh fragmen cerita yang tidak selalu berurutan, namun saling terhubung oleh rasa.

Sebagai penonton, terus terang saya menikmati pementasan ini sepenuhnya secara musikal. Ada kepuasan mendengarkan bagaimana bunyi-bunyi itu disusun, dipertemukan, lalu dilepaskan.

Namun pada saat yang sama, saya juga menyadari bahwa makna syairnya belum sepenuhnya saya pahami.

Ada larik-larik yang terasa personal, simbolik, bahkan mungkin sengaja dibiarkan terbuka. Saya menangkap emosi, tetapi belum tentu menangkap maksud.

Baca Juga :  Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Di titik inilah ingatan saya melayang pada pernyataan Bli Mantra Ardhana:

“Jika seni terlalu dijelaskan, ia justru kehilangan daya hidupnya.”

Kalimat itu seperti menemukan relevansinya malam itu.

Dalam tradisi seni modern, terutama seni pertunjukan dan musik alternatif, penjelasan sering kali menjadi jebakan. Terlalu banyak keterangan justru mengeringkan pengalaman.

Seni yang hidup bukanlah seni yang selesai di kepala, melainkan yang terus bergerak di dalam perasaan. Yoiakustik, lewat “Ada Lakon”, tampaknya memilih jalur ini: membiarkan lagu-lagunya hidup dengan caranya sendiri di telinga dan batin masing-masing penonton.

Warjack Taman Budaya NTB malam itu bukan sekadar venue. Ia menjadi ruang resonansi.

Bunyi-bunyi yang dilontarkan dari panggung tidak berhenti di udara, tetapi memantul pada pengalaman personal setiap orang yang hadir. Bagi sebagian penonton, mungkin ada lagu yang terasa dekat, entah karena melodi, ritme, atau potongan lirik tertentu. Bagi yang lain, mungkin justru ada jarak. Dan jarak itu sah, bahkan perlu.

Sebab seni, seperti lakon kehidupan, tidak selalu meminta untuk dipahami secara utuh. Ada bagian-bagian yang memang dimaksudkan untuk dirasakan, bukan ditafsirkan.

Ada momen ketika kita hanya perlu duduk, mendengar, dan membiarkan diri disentuh tanpa harus tahu mengapa.

Tajuk “Ada Lakon” sendiri terasa menarik. Ia memberi isyarat bahwa di balik bunyi-bunyi itu ada cerita, ada peristiwa, ada drama. Namun lakon tersebut tidak disajikan seperti teater dengan alur jelas dan dialog eksplisit.

Ia hadir dalam bentuk fragmen: potongan emosi, suasana, dan getaran. Lakon itu mungkin berbeda bagi setiap orang. Apa yang menjadi konflik bagi satu penonton, bisa jadi menjadi kontemplasi bagi penonton lain.

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi NTB: Tinggi Angkanya, Perlu Merata Manfaatnya

Di sinilah kekuatan Yoiakustik: mereka tidak memaksakan satu makna tunggal. Musik mereka tidak berdiri sebagai khotbah atau pernyataan ideologis yang kaku. Ia lebih menyerupai cermin retak, memantulkan wajah pendengarnya dalam sudut yang berbeda-beda.

Sebagai sebuah pementasan, “Ada Lakon” juga menunjukkan kedewasaan artistik. Tidak ada upaya untuk memukau dengan gimmick.

Yang ditawarkan adalah kejujuran musikal. Ini bukan perkara mudah di tengah iklim pertunjukan yang sering menuntut sensasi cepat. Yoiakustik memilih jalan “hening”: membangun pengalaman pelan-pelan, mempercayai bahwa penonton mampu diajak berpikir dan merasa tanpa harus digurui.

Warjack Taman Budaya NTB sendiri, dalam konteks ini, memainkan peran penting sebagai ruang yang memungkinkan eksperimen semacam ini terjadi. Ia menjadi tempat di mana seni tidak harus tunduk pada selera pasar, tetapi bisa tumbuh sebagai proses.

Pementasan Yoiakustik malam itu menegaskan bahwa Taman Budaya masih relevan sebagai rumah bagi karya-karya yang mengutamakan pencarian, bukan sekadar tontonan.

Pada akhirnya, pulang dari pementasan itu, saya tidak membawa pulang pemahaman utuh tentang semua syair yang dinyanyikan. Namun saya membawa sesuatu yang mungkin lebih penting: pengalaman.

Pengalaman mendengar, mengalami jeda, dan merasakan getaran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dan mungkin, seperti kata Bli Mantra Ardhana, di situlah seni menemukan daya hidupnya.

Bukan ketika ia selesai diterjemahkan, melainkan ketika ia terus bekerja diam-diam di dalam diri kita. Menjadi lakon kecil yang berulang, setiap kali kita mengingatnya kembali.

Di Warjack malam itu, Yoiakustik telah menyanyikan lagunya. Selebihnya, lakon itu berpindah ke dalam diri para penonton.*

Penulis : lsm

Editor : Ceraken Editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore
Dari Tradisi ke Masa Depan: Mandalika Menjadi Panggung Kebudayaan
Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar
“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”
Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan
Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya
Kemiskinan NTB Menurun, Pekerjaan Berikutnya Lebih Berat
Pertumbuhan Ekonomi NTB: Tinggi Angkanya, Perlu Merata Manfaatnya

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:31 WITA

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:32 WITA

Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:33 WITA

“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:44 WITA

Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:33 WITA

Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA