CERAKEN.ID— Manggarai Barat, NTT — Di tengah padatnya agenda penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Regional Bali–Nusa Tenggara Barat–Nusa Tenggara Timur (Sunda Kecil), Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Paguyuban Ikatan Keluarga Besar Lombok (IKBAL) Labuan Bajo.
Pertemuan tersebut menjadi ruang hangat untuk menegaskan peran diaspora Lombok dalam membangun harmoni sosial dan kebudayaan di tanah perantauan.
Silaturahmi itu bukan sekadar temu kangen. Di Labuan Bajo, kawasan strategis pariwisata super prioritas, masyarakat Lombok telah tumbuh sebagai bagian dari denyut kehidupan sosial dan ekonomi setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Paguyuban IKBAL Labuan Bajo, Suhaeli, menyampaikan bahwa jumlah warga Lombok yang tergabung dalam paguyuban mencapai sekitar 500 orang.
Mereka berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari pedagang, anggota TNI dan Polri, hingga aparatur sipil negara. Meski demikian, mayoritas warga Lombok di Labuan Bajo menggantungkan hidup pada sektor perdagangan.
Di luar aktivitas ekonomi, Paguyuban IKBAL juga menaruh perhatian serius pada bidang pendidikan dan sosial keagamaan. Suhaeli melaporkan, paguyuban telah mendirikan Sekolah Islam Terpadu (IT) yang kini menampung sekitar 300 siswa.
Sekolah tersebut tumbuh dari embrio sederhana, bermula hanya dengan 20 siswa saat pertama kali berdiri, hingga kini menjadi salah satu ruang pembelajaran penting bagi masyarakat setempat.
Tak hanya pendidikan formal, paguyuban juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan berupaya membaur dengan masyarakat asli Labuan Bajo. Upaya tersebut menjadi fondasi penting bagi terciptanya kohesi sosial di wilayah multikultural, sekaligus membantah stigma eksklusivitas komunitas perantau.
Menanggapi paparan tersebut, Gubernur NTB yang akrab disapa Miq Iqbal menyampaikan apresiasi atas kontribusi positif warga Lombok di Labuan Bajo. Ia menekankan pentingnya peran paguyuban sebagai jembatan budaya, bukan sekadar wadah kekeluargaan.
Miq Iqbal mendorong agar Paguyuban IKBAL dapat bertransformasi menjadi duta budaya NTB, dengan menampilkan nilai-nilai budaya Lombok secara santun, beretika, dan kontekstual.
“Perlihatkan bahwa kita adalah bagian dari masyarakat Labuan Bajo. Jaga dan hormati nilai-nilai adat dan budaya setempat, sambil tetap memegang teguh adat dan budaya Lombok sebagai pemersatu dan penjaga marwah kesasak-an kita,” ujarnya.
Lebih jauh, Gubernur NTB menilai bahwa keberlanjutan gerakan sosial dan keagamaan paguyuban memerlukan fondasi kelembagaan yang lebih kuat. Karena itu, ia mendorong agar Paguyuban IKBAL segera membentuk yayasan resmi sebagai payung hukum yang memungkinkan pengelolaan program sosial, ekonomi, dan keagamaan secara lebih terstruktur dan profesional.
“Saya sangat mendukung keberadaan saudara-saudara kita di Labuan Bajo. Segera bentuk yayasan resmi agar gerakan sosial, ekonomi, dan keagamaan bisa dikembangkan lebih luas dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Sebagai wujud konkret dukungan terhadap pelestarian budaya, Miq Iqbal juga menyatakan komitmennya untuk membantu pengadaan Gendang Beleq bagi Paguyuban IKBAL setelah yayasan resmi terbentuk.
Bantuan tersebut diharapkan menjadi medium diplomasi budaya memperkenalkan seni dan tradisi Lombok sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara di wilayah timur Indonesia.
“Ini sekaligus untuk memperkenalkan budaya dan kesenian Lombok sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara,” pungkas Miq Iqbal.
Pertemuan singkat namun bermakna itu menegaskan bahwa diaspora bukan sekadar entitas demografis, melainkan aktor penting dalam merawat persatuan, memperkaya kebudayaan lokal, dan membangun Indonesia dari pinggiran.
Di Labuan Bajo, warga Lombok membuktikan bahwa identitas budaya dapat dirawat tanpa kehilangan semangat kebersamaan sebagai satu bangsa. (AKA/DiskominfotikNTB)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Akun Pemprov NTB































