Bandara Lombok dan Mandalika: Menyusun Gerbang Baru Pariwisata Kelas Dunia

- Penulis

Rabu, 4 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketika bandara, destinasi, serta masyarakat lokal bergerak dalam satu ekosistem, maka pariwisata tidak sekadar menjadi industri, tetapi menjadi penggerak kesejahteraan daerah (Foto: ist)

Ketika bandara, destinasi, serta masyarakat lokal bergerak dalam satu ekosistem, maka pariwisata tidak sekadar menjadi industri, tetapi menjadi penggerak kesejahteraan daerah (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Mataram, 4 Februari 2026 menjadi momentum penting dalam membaca arah pembangunan pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di tengah percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai destinasi sportainment dan lifestyle kelas dunia, perhatian kini tertuju pada satu simpul utama: Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid atau Lombok Airport.

Bandara bukan sekadar tempat datang dan pergi. Ia adalah wajah pertama yang dilihat wisatawan dan kesan terakhir sebelum mereka pulang.

Karena itu, pembenahan bandara menjadi langkah strategis agar pertumbuhan pariwisata Mandalika berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur penerbangan.

Dorongan ini secara tegas disampaikan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang meminta percepatan peningkatan kualitas layanan dan fasilitas bandara, terutama untuk kenyamanan penumpang transit.

“Saya berharap Bandara Lombok segera melakukan perbaikan fisik agar wisatawan yang transit merasa betah berlama-lama. Desain ruang tunggu perlu dipercantik dan peralatan bagasi harus diperbarui dengan teknologi yang lebih modern,” ujar Gubernur Iqbal.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persaingan destinasi wisata saat ini tidak hanya terjadi di lokasi wisata, tetapi sejak wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di bandara.

Mandalika dan Peta Besar Pariwisata NTB

Dorongan pembenahan bandara tidak dapat dilepaskan dari pembaruan Masterplan Mandalika 2026.

Kawasan seluas sekitar 1.175 hektare ini dikembangkan dengan konsep keberlanjutan, di mana 66 persen kawasan dapat dikembangkan dan 34 persen lainnya dipertahankan sebagai area non-developable.

Menariknya, ruang terbuka hijau publik mencapai 19 persen dari total kawasan. Ini menandakan bahwa pembangunan Mandalika tidak hanya mengejar investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Masterplan terbaru membagi Mandalika ke dalam sejumlah distrik tematik seperti Kuta District, Circuit District, Marina West, West Lagoon, Golf Resort Community, hingga Merese Sunset Hill District.

Kawasan ini dirancang sebagai destinasi terpadu dengan fasilitas kelas dunia: sirkuit internasional Mandalika, kawasan MICE, hotel dan resort premium, marina, lapangan golf 27-hole, pusat budaya, hingga Mandalika Central Park sebagai ruang publik utama.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Dengan konsep tersebut, Mandalika diarahkan bukan hanya sebagai lokasi balap motor atau event olahraga, tetapi destinasi gaya hidup dan hiburan internasional.

Namun, semua rencana ini membutuhkan satu pintu masuk utama yang kuat: bandara yang nyaman, efisien, dan berkelas internasional.

Gubernur Iqbal juga membuka peluang kerja sama pengelolaan layanan VIP Airport dengan pihak swasta guna meningkatkan layanan bagi tamu penting, investor, dan delegasi internasional.

Langkah ini menunjukkan bahwa NTB mulai menyesuaikan diri dengan standar pelayanan destinasi global, di mana pengalaman perjalanan menjadi faktor penting bagi investor maupun wisatawan premium.

Bahkan, penyediaan mobil listrik sebagai bagian dari layanan bandara memperlihatkan arah pembangunan menuju konsep ramah lingkungan.

Di sisi lain, Lombok Airport menegaskan kesiapan menjadi hub baru pariwisata dan logistik Indonesia Timur.

Dengan kapasitas terminal mencapai tujuh juta penumpang per tahun dan kemampuan melayani pesawat berbadan lebar hingga Boeing 777, bandara ini dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang.

Sepanjang 2025, pemulihan trafik penerbangan menunjukkan tren positif. Pergerakan penumpang dan pesawat telah melampaui 80 persen dibandingkan kondisi sebelum pandemi, sementara sektor kargo bahkan tumbuh lebih dari 130 persen.

Pertumbuhan ini didorong e-commerce domestik, kebutuhan logistik event internasional, hingga pengiriman komoditas perikanan.

Fakta ini menunjukkan bahwa bandara tidak lagi sekadar fasilitas transportasi, tetapi juga simpul ekonomi daerah.

Peran InJourney dan Ekosistem Pariwisata

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan bahwa pengembangan bandara harus berjalan seiring dengan penguatan destinasi wisata.

Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney mengelola 37 bandara dengan layanan lebih dari 156 juta penumpang per tahun serta mengembangkan destinasi prioritas nasional seperti Mandalika, Nusa Dua, dan Golo Mori.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

“InJourney tidak hanya mengelola bandara, tetapi membangun ekosistem pariwisata terpadu dari hulu ke hilir,” ujar Maya.

Melalui enam pilar bisnisnya: bandara, layanan aviasi, pengembangan pariwisata, manajemen destinasi, perhotelan, dan ritel, InJourney berupaya memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, termasuk UMKM lokal.

Artinya, pembangunan bandara dan destinasi wisata harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, bukan hanya menjadi proyek infrastruktur semata.

Saat ini Lombok Airport melayani 15 rute domestik serta penerbangan internasional ke Singapura dan Malaysia, dengan rencana pembukaan rute baru menuju Darwin, Australia.

Penguatan slot penerbangan pada musim Summer 2026 diperkirakan akan semakin mengukuhkan posisi Lombok sebagai simpul penghubung Bali, NTB, NTT, hingga pasar global.

Investasi landside dan airside senilai lebih dari Rp130 miliar juga dilakukan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan estetika terminal, termasuk penonjolan identitas budaya NTB melalui konsep Dress Up NTB serta ikon baru Mayung Lombok.

Langkah ini penting agar bandara tidak kehilangan identitas lokal di tengah modernisasi.

Ke depan, kawasan bandara dan Selaparang Area direncanakan berkembang menjadi pusat kreatif, sportainment, logistik, dan UMKM, membentuk ekosistem bandara terpadu yang memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Menyambut Gerbang Baru Pariwisata

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Lombok siap menjadi destinasi kelas dunia, melainkan seberapa cepat kesiapan infrastruktur pendukung dapat mengikuti pertumbuhan pariwisata.

Bandara Lombok dan Mandalika berada dalam satu tarikan napas pembangunan. Ketika wisatawan mendarat dengan nyaman, menikmati layanan yang baik, lalu menemukan destinasi yang tertata, pengalaman positif itu akan menjadi promosi terbaik bagi NTB.

Dan ketika bandara, destinasi, serta masyarakat lokal bergerak dalam satu ekosistem, maka pariwisata tidak sekadar menjadi industri, tetapi menjadi penggerak kesejahteraan daerah.

Bandara menjadi gerbang, Mandalika menjadi panggung, dan NTB menyiapkan diri tampil di hadapan dunia. (edo/her/kominfotik)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: Diskominfotik NTB

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA