CERAKEN.ID — Dalam lintasan panjang sejarah kebudayaan Nusantara, ada sejumput tradisi yang terus menyalakan bara kesadaran lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Salah satunya adalah ritus kebangru’an dari Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Tradisi ini bukan sekadar ritual adat, melainkan sebentuk dialektika antara seni, spiritualitas, dan memori kolektif masyarakat yang hidup dalam kesadaran kebersamaan. Ia adalah ruang di mana musik, doa, dan makna bersenyawa.
Ritus kebangru’an menempuh perjalanan panjang, bukan hanya sebagai ritual penyembuhan, tetapi juga sebagai ekspresi estetika masyarakat lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di bawah gagasan dan inisiatif tokoh budaya seperti Akeu Surya Panji, kebangru’an menembus batas-batas desa, menapaki panggung regional, bahkan menjejak dalam sistem kelembagaan negara melalui pengakuan hak kekayaan intelektual komunal dan warisan budaya tak benda.
Inilah jejak-jejak kegiatannya:
Jejak Awal: Menggugah Melalui Suara (2009–2011)
Tahun 2009 menjadi tonggak awal kebangkitan tradisi kebangru’an dalam ranah publik modern. Pentas musik tradisi kebangru’an di Pasar Seni Senggigi dan di layar TVRI NTB menjadi momentum kultural penting. Musik yang awalnya lahir dari ritual desa tampil di ruang publik, memperlihatkan bagaimana tradisi tidak sekadar dijaga, tetapi juga dikomunikasikan.

Pada 2010, langkah ini makin kuat. TVRI Nasional menayangkan dokumenter berjudul “Reinkarnasi Musik Tradisional Kebangru’an” dalam acara “Pesona Budaya Nusantara”.
Dokumenter ini menegaskan bahwa kebangru’an bukan warisan statis, tetapi tradisi yang mampu bertransformasi. Tahun yang sama, Dinas Pariwisata NTB mengundang grup kebangru’an dalam ajang “Lombok Begendang 2010”, mempertemukannya dengan ragam tradisi musik lain di Nusantara.
Tahun 2011 menjadi tahun konsolidasi kultural. Kebangru’an tampil di Taman Budaya NTB dalam acara peluncuran lembaga pendidikan seni budaya kebangru’an. Tahun ini juga melahirkan produksi album musik tradisional kebangru’an sebanyak 200 keping CD, serta pergelaran budaya di Dusun Benyer, Desa Telagawaru.
Semua ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan penegasan identitas bahwa musik tradisional ini hidup, tumbuh, dan memiliki daya cipta baru.
Menjadi Obyek Ilmiah Dan Ruang Dialog Akademis (2012–2013)
Tahun 2012 membuka babak baru ketika kebangru’an dikaji secara akademik oleh Dewi Maha Putri dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzanwadi Selong sebagai bahan skripsi berjudul “Sejarah Musik Tradisional Kebangru’an sebagai Aktivitas Sosio-Kultural Masyarakat di Dusun Benyer”.
Kajian ini menempatkan kebangru’an sebagai aktivitas sosial dan kultural yang memiliki fungsi pengikat solidaritas dan spiritualitas masyarakat.
Setahun kemudian, 2013, penelitian Budi Hastono di ISI Yogyakarta menyoroti aspek musikologis dan fungsi kebangru’an dalam kerangka estetika dan sejarah. Tradisi ini mulai mendapatkan tempat dalam diskursus seni pertunjukan nasional.
Konsistensi Dan Eksistensi Di Panggung Publik (2016–2019)

Setelah jeda, tahun 2016 menjadi tanda bahwa kebangru’an tetap berdenyut. Grup ini tampil di TVRI NTB dalam acara “Musik Cilokaq”, dan juga di Universitas Nahdlatul Ulama Mataram dalam kegiatan Lailatul Art 2. Musik kebangru’an kini menjadi bahasa kultural yang bisa berbicara di ruang akademis dan artistik sekaligus.
Tahun 2018 memperluas jangkauan. Dalam acara launching “Kopang Rinjani Shelter” di Lombok Tengah yang dihadiri oleh Kementerian Desa PDTT, kebangru’an tampil sebagai representasi tradisi lokal yang berjiwa nasional. Satu tahun kemudian, 2019, mereka kembali ke Taman Budaya NTB, menegaskan kesinambungan antara akar dan sayap tradisi.
Pengakuan Negara: Dari Tradisi Ke Warisan (2020)
Tahun 2020 adalah tahun monumental. Seni tradisi kebangru’an resmi tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal (HKI) di Kementerian Hukum dan HAM. Tak hanya itu, tari kebangru’an juga diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dua pengakuan ini menandai bahwa tradisi lokal yang dahulu hanya dikenal masyarakat Benyer kini menjadi bagian dari khazanah nasional.
Ritus Penyembuhan Dan Penelitian Spiritualitas (2021–2022)
Pada 2021, kebangru’an dikaji dalam konteks medis dan psikologis melalui penelitian berjudul “Studi Fenomenologi tentang Pengobatan Tradisional pada Gangguan Mental melalui Musik Kebangru’an”. Ini menegaskan bahwa kebangru’an bukan hanya seni, tetapi juga sarana penyembuhan dan pemulihan jiwa.
Setahun kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Yuga Anggana, M.Sn., di bawah program Dana Indonesiana Kemdikbud Ristek, mengupas “Kajian Kearifan Lokal dalam Ritual Tradisi Kebangru’an di Desa Telagawaru.” Melalui penelitian ini, ritus kebangru’an diposisikan sebagai objek pemajuan kebudayaan yang memiliki nilai filosofis dan sosial tinggi.

Era Visual Dan Digital (2023–2024)
Tahun 2023, ritus kebangru’an kembali diabadikan dalam bentuk film dokumenter oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Wilayah Bali. Film ini menampilkan sisi ritual dan musikal kebangru’an, menghubungkan penonton pada akar spiritualitas yang hidup di Lombok Timur.
Pada 2024, kegiatan “Mulang Maliq Mualan Benyer dan Ritus Kebangru’an” mendapat dukungan dari Dana Indonesiana Kemdikbud Ristek RI dalam kategori pendayagunaan ruang publik.
Selain itu, perwakilan kebangru’an menghadiri sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia bersama tim ahli Yuga Anggana, Kabid Kebudayaan NTB Lalu Abdurrahim Jagat, dan Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah XV.
Meniti Jejak Kedepan (2025 – dst)
Tahun 2025 menandai konsolidasi tradisi. Kegiatan “Mulang Maliq Mualan Benyer” kembali diinisiasi oleh Pemerintah Desa Telagawaru bersama Perkumpulan Seni Menduli Selayar. TVRI Nasional juga menayangkan program “Inspirasi Indonesia”, menampilkan kebangru’an sebagai model ketahanan budaya lokal.
Meretas jalan dan menebar ritus kebangru’an bukan hanya perihal menjaga tradisi, tetapi meneguhkan eksistensi manusia di tengah perubahan. Di Desa Telagawaru, kebangru’an menjadi cermin: bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, tetapi justru menyalakan yang purba agar tetap bercahaya dalam masa kini.
Jejak dari 2009 hingga 2025 menunjukkan bahwa ritus ini telah melewati tiga fase: dari ruang sakral menuju panggung publik, dari ekspresi lokal menuju pengakuan nasional, dan kini menuju era digital di mana tradisi menjadi narasi identitas bangsa.
Di sinilah letak kekuatan kebangru’an, ia bukan sekadar seni, melainkan cara hidup, cara mengingat, dan cara merayakan kemanusiaan.
Kebangru’an adalah nyala kecil yang terus hidup di Benyer, di hati manusia Lombok Timur, dan di denyut nadi kebudayaan Indonesia yang tak henti menari antara masa lalu dan masa depan.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan









































