Benang yang Menjaga Ingatan: Tenun sebagai Nafas Kebudayaan Nusa Tenggara Barat

- Penulis

Kamis, 19 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Koleksi kain di Museum Negeri NTB menunjukkan kekayaan ragam wastra daerah (Foto: aks/ceraken.id)

Koleksi kain di Museum Negeri NTB menunjukkan kekayaan ragam wastra daerah (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Kebiasaan menenun telah hidup sejak masa lampau di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Aktivitas ini bukan sekadar teknik membuat kain, melainkan bagian dari cara hidup masyarakat yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi tersebut masih dapat disaksikan hingga kini, baik di Pulau Lombok maupun di kawasan Sumbawa dan Bima, di mana sebagian masyarakat masih memintal benang secara tradisional sebelum kain ditenun.

Jejak panjang kebudayaan tenun itu kini tersimpan rapi di Museum Negeri NTB, yang memelihara berbagai koleksi kain tenun dari berbagai daerah. Di sana, publik dapat melihat bagaimana tenun bukan sekadar produk tekstil, tetapi penanda identitas budaya masyarakat NTB.

Proses menenun bermula dari pekerjaan panjang memintal kapas menjadi benang. Hingga kini, di sejumlah komunitas di NTB, proses tradisional ini masih dijaga.

Kapas dibersihkan dari bijinya menggunakan alat golong atau lili, kemudian dihaluskan dengan betuk atau mbenti. Kapas lalu digulung, dipintal menggunakan alat arah atau janta, hingga menjadi benang yang siap digunakan.

Benang hasil pintalan manual biasanya menghasilkan kain dengan tekstur lebih kasar, dikenal sebagai kain beberut. Untuk menghasilkan kain yang lebih halus, penenun kini sering menggunakan benang pabrik yang tersedia di pasaran.

Kain Tembe Nggoli & Songke asal Bima (Foto:aks/ceraken.id)

Perpaduan metode tradisional dan bahan modern ini menunjukkan bagaimana tradisi menenun beradaptasi tanpa meninggalkan akar budayanya.

Setelah benang siap, proses menenun dilakukan menggunakan alat tradisional yang dikenal masyarakat Sasak sebagai ranggon atau alat tenun gedogan.

Perangkatnya cukup kompleks, terdiri atas jajak sebagai tempat penggulungan benang lungsi, suri sebagai sisiran benang, belide untuk menekan anyaman, hingga telekot yang menopang tubuh penenun saat bekerja.

Setiap komponen memiliki fungsi penting, dan seluruh proses dilakukan dengan ketelatenan tinggi. Tidak mengherankan jika satu lembar kain dapat memerlukan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk diselesaikan.

Baca Juga :  Meriri Gubuk: Membaca Kampung, Menemukan Jati Diri Bersama
Tenun sebagai Identitas Perempuan

Di sejumlah desa adat Lombok, menenun bukan sekadar keterampilan, melainkan bagian dari syarat kedewasaan perempuan.

Di desa tenun seperti Desa Sukarare dan Desa Sade, perempuan diwajibkan mampu menenun sebelum menikah. Kemampuan ini menjadi simbol kesabaran, ketekunan, sekaligus kesiapan menjalani kehidupan berumah tangga.

Kain Kre Alang & Cipo Cila asal Sumbawa (Foto: aks/ceraken.id)

Kain tenun kemudian hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat: menjadi bagian mahar pernikahan, perlengkapan ritual adat, hingga digunakan dalam upacara kematian. Motif-motifnya sering kali menggambarkan alam sekitar, struktur sosial, hingga nilai spiritual masyarakat.

Di wilayah Bima dan Sumbawa, kain tenun juga berkaitan erat dengan tradisi Rimpu, cara berpakaian perempuan menggunakan dua lembar sarung sebagai bentuk kesopanan sekaligus identitas religius masyarakat setempat.

Koleksi kain di Museum Negeri NTB menunjukkan kekayaan ragam wastra daerah. Dari Bima terdapat Tembe Nggoli dan Tembe Songke, sementara dari Sumbawa dikenal Kre Alang dan Cipo Cila.

Lombok sendiri memiliki beragam motif songket dan tenun seperti Songket Payung Agung, Songket Subahnala, Songket Bintang Empet, Sare Rurung, Sokong, Tapo Kemalo, hingga Umbaq.

Songket Lombok dikenal dengan penggunaan benang emas atau perak yang memberi kesan mewah dan biasa digunakan dalam upacara adat. Sementara tenun ikat lebih sederhana dan sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring perkembangan zaman, makna menenun turut mengalami perubahan. Jika dahulu kain hanya diproduksi untuk kebutuhan adat, kini tenun juga menjadi sumber ekonomi penting bagi masyarakat.

Desa-desa penghasil tenun berkembang menjadi destinasi wisata budaya, tempat wisatawan dapat menyaksikan langsung proses menenun, bahkan mencoba menenun sendiri.

Ekonomi kreatif berbasis tenun memberi peluang baru bagi perempuan desa untuk memperoleh penghasilan tanpa meninggalkan tradisi. Di sinilah terlihat bagaimana warisan budaya mampu berdialog dengan kebutuhan ekonomi modern.

Baca Juga :  Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Kain Songket & Sokong asal Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

Para antropolog dan budayawan memandang menenun sebagai warisan budaya takbenda yang tak ternilai. Tenun bukan hanya produk materi, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kesabaran, keterampilan, filosofi hidup, serta hubungan manusia dengan alam.

Keterampilan ini diwariskan melalui jalur keluarga, biasanya dari ibu kepada anak perempuan, melalui proses belajar yang berlangsung secara alami sejak usia dini. Dengan demikian, menenun menjadi media pendidikan budaya yang menjaga kesinambungan identitas masyarakat.

Diplomasi Budaya melalui Wastra

Upaya memperkenalkan wastra NTB ke dunia internasional kini terus dilakukan. Hal ini terlihat dari pertemuan Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, dengan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon pada 18 Februari 2026 di kantor Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Pertemuan tersebut, sebagaimana diberitakan Ceraken.id, turut dihadiri kolektor sekaligus penulis Michael Abbot serta akademisi Muhammadun. Agenda utama membahas peluncuran buku internasional tentang wastra Lombok yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026 di Adelaide.

Menurut Ahmad Nuralam, buku tersebut diharapkan membuka ruang bagi masyarakat dunia untuk mengenal identitas budaya Lombok melalui kain tenun yang kaya nilai sejarah, simbol, dan filosofi kehidupan.

Pada akhirnya, di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi menenun di NTB tetap bertahan karena masyarakat memandangnya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Setiap helai kain bukan hanya benda pakai, tetapi rekaman perjalanan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Benang-benang yang ditarik perlahan oleh tangan para penenun bukan sekadar membentuk kain, melainkan merajut identitas, memelihara ingatan kolektif, serta menjaga kebudayaan agar tetap hidup di tengah arus zaman.

Tenun, pada akhirnya, menjadi bukti bahwa kebudayaan dapat terus bernapas selama masih ada generasi yang mau merawatnya.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA