CERAKEN.ID — Dusun Gol, Desa Medana, Lombok Utara | 29 Juli 2026
Masih pukul sembilan pagi ketika puluhan orang mulai berkumpul di Makam Gollangge. Di antara pepohonan tua yang menaungi kawasan itu, para tetua, pemuda, anak-anak, mahasiswa, seniman residensi, hingga tamu yang datang dari berbagai daerah berdiri dalam lingkaran yang sama.
Tidak ada panggung. Tidak ada kursi-kursi kehormatan. Yang ada hanyalah sebuah perjalanan untuk membaca kembali sebuah kampung melalui jejak-jejak yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakatnya.
Hari itu, Rabu, 29 Juli 2026, menjadi hari puncak Festival Budaya Meriri Gubuk, presentasi publik dari Merajan Vol. 1, program belajar bersama yang digagas oleh Remaja Masjid Nurul Islam Dusun Gol bersama tiga seniman residensi Bangsal Menggawe 2026: Aden Firman, Made Virgie A., dan Yuga Anggana.
Selama hampir satu bulan sejak awal Juli, program ini menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan warga lintas generasi untuk menggali sejarah kampung, mendokumentasikan pengetahuan lokal, memetakan ruang-ruang penting, mengolah pangan tradisional, hingga menciptakan karya seni bersama.
Dalam bahasa Sasak, merajan berarti belajar. Kata sederhana itu kemudian berkembang menjadi sebuah metode. Belajar tidak lagi dipahami sebagai aktivitas di ruang kelas, melainkan sebagai proses mendengarkan, berjalan kaki, mengamati, berdiskusi, mendokumentasikan, dan merawat kembali pengetahuan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Festival Meriri Gubuk menjadi penanda dari seluruh proses tersebut — bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai perayaan atas perjalanan belajar yang telah ditempuh bersama.
Membuka Hari dengan Menyusuri Ingatan Kampung
Rangkaian kegiatan dimulai dengan Ziarah Budaya, tur kampung yang mengajak seluruh peserta menyusuri titik-titik penting dalam sejarah Dusun Gol.
Perjalanan diawali dari Makam Gollangge, salah satu ruang yang dipercaya menyimpan jejak awal kampung. Di tempat itu, warga melaksanakan Selakaran dan Menyembeq, dua praktik yang masih hidup dalam tradisi setempat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus doa keselamatan. Di sela-sela ritual tersebut, para tetua menceritakan kisah mengenai asal-usul Dusun Gol, hubungan masyarakat dengan makam, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perjalanan berlanjut menuju rumah pertama di Dusun Gol. Di tempat inilah sejarah kampung kembali dituturkan: bagaimana kawasan yang kini menjadi permukiman pernah dibuka, siapa tokoh-tokoh awal yang membangun kehidupan di sana, hingga bagaimana nama Gol lahir dari berbagai cerita yang diwariskan secara lisan.
Rombongan lalu bergerak menuju Lokoq Pegatan, sebuah titik yang bagi sebagian orang mungkin hanya tampak sebagai jembatan biasa. Namun melalui cerita para tetua, tempat ini menyimpan sejarah penting tentang keterhubungan ruang antarkawasan serta perubahan kehidupan masyarakat setelah akses tersebut hadir. Jembatan tidak hanya menghubungkan dua sisi sungai, tetapi juga menghubungkan manusia, aktivitas ekonomi, dan perjalanan sejarah kampung.
Perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Jami’ Nurul Islam, masjid tertua di Dusun Gol yang masih berdiri hingga hari ini. Selain menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat, masjid ini juga menyimpan sumur tua yang sejak dahulu menjadi sumber air bagi warga. Dari tempat ini, peserta diajak memahami bahwa sejarah kampung tidak hanya tersimpan dalam dokumen, tetapi juga hidup melalui bangunan, ruang ibadah, dan praktik keseharian masyarakat.
Menjelang tengah hari, rombongan tiba di berugak tertua di Dusun Gol. Berugak bukan sekadar bangunan terbuka tempat beristirahat; ia adalah ruang sosial tempat masyarakat berkumpul, berdiskusi, menyelesaikan persoalan bersama, hingga menjaga hubungan antargenerasi. Di tempat inilah para peserta kembali mendengar kisah-kisah kecil yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Tur budaya kemudian ditutup dengan makan bersama menggunakan berbagai pangan lokal hasil olahan masyarakat Dusun Gol. Hidangan-hidangan sederhana yang tersaji di atas meja bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari pengetahuan lokal yang selama proses Merajan juga dipelajari, didokumentasikan, dan diarsipkan bersama para ibu dan pemuda kampung.
Dari Proses Menjadi Karya
Memasuki sore hari, sekitar pukul 16.30 WITA, halaman festival mulai dipenuhi masyarakat yang ingin melihat berbagai karya hasil perjalanan Merajan.
Berbeda dengan pameran pada umumnya, karya-karya yang ditampilkan bukan lahir dari studio tertutup atau ruang kerja para seniman semata. Seluruhnya tumbuh dari percakapan, observasi, dokumentasi, dan kerja bersama masyarakat Dusun Gol.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah zine resep pangan lokal yang mendokumentasikan berbagai olahan singkong, kelapa, dan bahan pangan kampung beserta cerita-cerita yang menyertainya. Tidak jauh dari sana, dipamerkan pula mini kamus pangan lokal yang menghimpun berbagai istilah dan pengetahuan masyarakat mengenai bahan pangan yang selama ini hidup dalam bahasa sehari-hari.
Di sudut lain, pengunjung dapat melihat mini album Arsipelagol bertajuk “Gollangge”, kumpulan lagu yang diciptakan berdasarkan hasil wawancara, observasi lapangan, dan ingatan kolektif masyarakat selama residensi berlangsung. Lagu-lagu tersebut menjadi bentuk lain dari pengarsipan, tempat sejarah kampung diterjemahkan ke dalam bunyi dan musik.
Festival juga menghadirkan poster mengenai filosofi logo Meriri Gubuk, berbagai dokumentasi proses Merajan, benda-benda lama yang dahulu digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, hingga beragam produk pangan dan camilan lokal hasil usaha warga.

Pameran ini memperlihatkan bahwa sebuah kampung sebenarnya telah memiliki kekayaan pengetahuan yang melimpah. Yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk mengumpulkan, mendokumentasikan, dan memperlihatkannya kembali kepada masyarakatnya sendiri.
Ketika Kampung Menjadi Panggung
Selepas salat Isya, sekitar pukul 20.30 WITA, masyarakat mulai memenuhi arena utama festival. Panggung yang telah disiapkan menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi seni lintas generasi.
Anak-anak dari taman kanak-kanak di Dusun Gol menjadi pembuka malam itu melalui pertunjukan tari yang disambut hangat oleh masyarakat. Setelahnya, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) turut menampilkan pertunjukan tari sebagai bentuk partisipasi mereka selama berada di kampung.
Malam kemudian berlanjut dengan penampilan Arsipelagol, kelompok musik yang selama residensi mengembangkan lagu-lagu berdasarkan sejarah, ruang, dan kehidupan masyarakat Dusun Gol. Lagu-lagu yang sebelumnya lahir melalui wawancara, observasi, dan perjalanan kampung akhirnya diperdengarkan kembali kepada masyarakat yang menjadi sumber utama penciptaannya.
Di sela-sela rangkaian acara, pengunjung juga diajak menyaksikan video dokumentasi proses Merajan, menyimak wicara antara seniman residensi dan talenta muda Dusun Gol, serta melihat bagaimana proses belajar bersama selama hampir satu bulan telah melahirkan berbagai karya yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan oleh masyarakat.
Sebagai penutup, Sungkra Band dari Pemenang tampil menghidupkan suasana malam, menandai berakhirnya seluruh rangkaian Festival Budaya Meriri Gubuk 2026.
Sebuah Festival yang Tumbuh dari Percakapan
Meriri Gubuk tidak lahir secara tiba-tiba.

Sebelum masyarakat berkumpul pada hari puncak, telah berlangsung berbagai proses yang menjadi fondasi festival ini. Dimulai dari Meta Dina, ketika para tokoh masyarakat mencari hari baik untuk penyelenggaraan hajatan kampung.
Kemudian Sangkep, ruang musyawarah yang mempertemukan warga untuk menyusun gagasan dan pembagian peran. Dilanjutkan dengan Meleah, gotong royong membersihkan ruang-ruang penting kampung, serta Ngempok Komboq, tradisi membawa kelapa muda yang melibatkan seluruh kepala keluarga dari lima RT sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas.
Seluruh tahapan tersebut menunjukkan bahwa festival ini bukan sekadar rangkaian acara hiburan. Ia dibangun mengikuti ritme kehidupan masyarakat, menghormati tata cara adat yang masih hidup, sekaligus membuka ruang baru bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam proses kebudayaan.
Kampung yang Belajar Membaca Dirinya Sendiri
Lebih dari sekadar festival, Meriri Gubuk memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi metode untuk membaca kampung.
Melalui lagu, masyarakat mengingat kembali sejarahnya. Melalui ziarah budaya, ruang-ruang yang selama ini dilewati setiap hari memperoleh makna baru. Melalui buku, zine, kamus, dokumentasi foto, video, dan musik, pengetahuan yang sebelumnya hanya hidup dalam ingatan perlahan berubah menjadi arsip bersama.
Yang paling penting, seluruh proses ini memperlihatkan bahwa masyarakat Dusun Gol bukan hanya objek dari sebuah program kebudayaan. Mereka adalah pelaku utama yang menghasilkan pengetahuan, menciptakan karya, dan merayakan kampungnya sendiri.
Meriri Gubuk akhirnya menjadi lebih dari sebuah perayaan tahunan. Ia adalah penanda bahwa sebuah kampung mampu membaca dirinya sendiri, merawat ingatannya, dan membayangkan masa depannya melalui kebudayaan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, itulah karya terbesar yang lahir dari Merajan Vol. 1. (*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: yagna



























































