Catatan Agus K Saputra
Rplay Lombok kembali menghidupkan ruang seni lokal dengan menghadirkan sebuah pameran yang menggugah kesadaran estetik dan kultural. Sepanjang 6–30 November 2025, ruang pamer di kompleks Rplay Lombok menjadi tempat perjumpaan gagasan, emosi, dan kritik melalui karya-karya perupa Lalu Syaukani.
Mengusung tajuk “Transition”, pameran ini tidak hanya memanggungkan lukisan, tetapi juga memperlihatkan sebuah proses batin dan pergulatan kultural yang mendalam.
Kurator pameran, H.L. Agus Fathurrahman (Agus FN), memaknai “Transition” sebagai ruang kontemplasi tentang perubahan, baik perubahan yang dialami manusia secara personal maupun perubahan yang terjadi pada tubuh budaya. Bagi Rplay Lombok, pameran ini bukan sekadar agenda seni tahunan, tetapi sebuah kerja penguatan ekosistem kreatif yang terus berkembang di Lombok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penjelasannya, Agus FN menegaskan bahwa perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia. Ia datang tanpa permisi, mengalir secara halus namun dalam, dan sering kali sulit ditangkap dengan bahasa verbal.
Melalui serangkaian karya “Transition”, Lalu Syaukani menawarkan medium visual untuk menyimak bagaimana perubahan itu bekerja di dalam diri manusia dan kebudayaan.
“Dalam perjalanan manusia, perubahan adalah keniscayaan. Ia datang tanpa permisi, mengalir di antara kesadaran dan ketidaksadaran, menggeser cara kita melihat dunia, dan mengubah cara kita memahami diri,” tulis Agus FN.
Karya-karya Syaukani, menurutnya, bukan sekadar objek visual. Ia merupakan peta batin yang menangkap denyut transisi: dari tradisi menuju modernitas, dari keheningan nilai-nilai lama menuju ritme cepat dunia digital, dari akar budaya menuju arah baru yang terbuka sekaligus membingungkan.
Agus FN melihat bahwa dalam setiap goresan Syaukani, hadir lapisan-lapisan memori dan pengalaman yang saling menindih. Perubahan tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang linear atau stabil, tetapi sebagai gerak yang cair, lentur, penuh kejutan, dan sesekali menyakitkan.
“Warna-warna yang mengalir, bentuk-bentuk yang cair, serta tekstur yang seolah hidup, menjadi simbol dari gerak waktu dan lapisan memori yang saling menindih,” ujarnya.
Transisi, dalam konteks ini, bukanlah sebuah akhir. Ia adalah perjalanan.

Dialektika Tradisi dan Modernitas
Lalu Syaukani tumbuh dan berproses dalam kultur Lombok, sebuah ruang sosial yang kaya tradisi, simbol, dan ritual. Namun ia juga berada di tengah arus globalisasi yang deras, yang tidak hanya mengubah cara manusia berpikir, tetapi juga cara manusia memaknai keberadaannya.
Dialektika inilah yang menjadi inti dari banyak karya dalam pameran “Transition”.
Agus FN melihat bahwa Syaukani tidak menolak perubahan, tetapi juga tidak tunduk sepenuhnya pada modernitas. Ia berdiri pada posisi negosiasi: memetakan apa yang hilang, menemukan apa yang baru, dan menimbang ulang makna identitas. Lukisannya memperlihatkan pergulatan seimbang antara akar dan arah; antara memori kultural dan realitas sosial kontemporer.
Karya-karyanya melintasi tema ekologi, budaya, kehilangan, kerinduan, hingga kritik sosial. Meski demikian, bentuk visualnya tidak selalu bersifat representasional; Syaukani lebih banyak menggunakan bahasa-bahasa simbolis, deformasi bentuk, dan permainan ruang untuk memberi pengalaman persepsi yang lebih personal bagi penonton.
Menurut Dhea, Manager Bistro Daum dan Space Eum Rplay Lombok, pameran ini dimaksudkan sebagai ruang edukasi visual tentang hubungan masa lampau dan masa kini. Ia memandang bahwa lukisan-lukisan Syaukani memberikan gambaran tentang bagaimana manusia, alam, dan kebudayaan mengalami perubahan.
“Tujuan dari Pameran Lukis ‘Transition’ adalah lebih ke pengenalan atau memberikan gambaran tentang masa lampau ke masa sekarang. Entah itu dari segi individunya, dan alamnya tersampaikan melalui lukisan-lukisan yang sudah dipajang,” jelasnya.
Dhea menyoroti beberapa karya yang menghadirkan refleksi mendalam tentang perubahan, terutama karya-karya yang menyinggung bencana, eksploitasi alam, dan memudarnya tradisi.
Misalnya:
• “Lombok Crying” yang mengingatkan pada duka bencana gempa.
• “The Last Big Tree” yang menjadi peringatan ekologis tentang hilangnya pepohonan besar.
• “The Last Dancer” yang mengisyaratkan surutnya tradisi di tengah modernitas.
Menurutnya, karya-karya tersebut membangkitkan kembali kepekaan terhadap hal-hal yang seharusnya dijaga. Ia juga melihat bahwa realitas digital dan gaya hidup “kebarat-baratan” semakin menjauhkan generasi baru dari tradisi dan kearifan lokal.
“Apalagi di era sekarang yang serba digital, banyak sudah berubah, kebarat-baratan. Saya kira itu gambaran yang ditampilkan Mamiq Syaukani,” tutup Dhea.

Ruang Batin Perupa: Menafsir Transisi sebagai Perjalanan Eksistensial
Ketika ditanya tentang ruang batin yang ia tuangkan, Lalu Syaukani menjelaskan bahwa ia sedang merefleksikan pergeseran kesadaran yang ia lihat dan rasakan sendiri. Transisi baginya adalah fase universal yang dialami manusia. Perubahan tidak hanya terjadi di luar, tetapi juga di dalam diri.
“Saya mencoba membaca perubahan atau pergeseran kesadaran tentang apa yang saya lihat dan saya rasakan. Sepertinya semua orang pasti mengalami fase transisi dalam hidup, pemikiran, dan perasaannya,” ujarnya.
Ia memaknai transisi sebagai ruang kosong yang perlu dipahami—ruang yang sering tidak memiliki jawaban, tetapi justru menawarkan kesadaran.
Seni, menurutnya, hadir untuk membuka pintu sadar itu.
“Saya percaya dalam Transisi ada ruang kosong yang menunggu untuk dipahami. Di sinilah seni itu bekerja. Dia tidak memberikan jawaban tetapi membuka kesadaran kita bahwa Transisi atau perubahan itu adalah tentang perjalanan hidup untuk menemukan diri yang baru.”
Dalam konteks pribadinya sebagai perupa, “Transition” juga menandai perubahan dalam cara ia berkarya. Ia ingin mengajak “penikmat” pameran untuk merasakan ulang posisi dirinya dalam alur perubahan yang sedang berlangsung.
Pameran ini menghadirkan lebih dari dua puluh karya, masing-masing dengan tema, simbol, dan pesan yang saling berkait. Beberapa yang mencuri perhatian antara lain:
1. Home Land
Karya yang menegaskan hubungan manusia dengan tanah asal. Syaukani mengolah tema identitas dan akar budaya dalam perpaduan bentuk representasional dan simbolik.
2. The Last Big Tree
Narasi ekologis tentang ancaman kerusakan lingkungan. Lukisan ini menampilkan sebuah “pohon terakhir” yang menjelma simbol kehilangan dan sekaligus harapan.
3. Lombok Crying
Sebuah elegi visual tentang trauma kolektif pascagempa. Warna-warna gelap, tetesan, dan garis patah menjadi simbol luka yang masih hidup dalam ingatan sosial.
4–5. The Last Dancer #01–02
Menampilkan figur-figur penari tradisional dalam distorsi bentuk, menggambarkan memudarnya tradisi dan kultur performatif di tengah modernitas.
6. Dedare Series (5 buah)
Dedare, melambangkan perempuan atau gadis Sasak, ditafsir ulang dalam bentuk-bentuk cair, menghadirkan identitas perempuan dalam pusaran zaman.
7. Lost Face Series (10 buah)
Seri yang memuat wajah-wajah tanpa bentuk jelas, simbol identitas yang kabur, manusia modern yang kehilangan diri, atau jiwa-jiwa yang terhempas oleh perubahan.
8. Prossetion
Komposisi figuratif yang menggambarkan ritus sosial atau arak-arakan tradisional, namun ditempatkan dalam ruang visual kontemporer.
9–10. Back Home #01–02
Karya tentang kepulangan, kerinduan, dan pencarian akar di tengah hidup yang terus bergerak.
11–13. Dedare On Blue, Dedare #01, Dedare #02
Variasi visual perempuan Sasak dalam gestur yang lembut namun misterius. Warna biru dan bentuk abstrak merepresentasikan ruang batin dan pengalaman feminin.
Apa yang membuat pameran ini memiliki kekuatan? Menurut Agus FN, jawabannya terletak pada “kejujuran rasa” dan “kepekaan membaca zaman”. Syaukani tidak hanya menghadirkan keindahan visual; ia juga menghadirkan pengalaman emosional yang bersifat reflektif.
Transisi dalam karya-karya ini bukan hanya tentang perubahan sosial, tetapi juga tentang bagaimana manusia mengelola kehilangan, nostalgia, harapan, dan kebingungan. Ia adalah cermin perjalanan eksistensial yang tidak pernah selesai.
Pameran “Transition” mengajak penonton untuk berhenti sejenak—mengambil jarak dari hiruk-pikuk digital dan dunia yang serba cepat—untuk bertanya kepada diri:
Apakah kita sedang menuju sesuatu, atau justru sedang kehilangan sesuatu?
Apakah kita sedang berubah menjadi lebih baik, atau hanya sedang berubah tanpa arah?
Apa yang hilang dari diri kita saat memasuki dunia yang semakin modern dan serba instan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi napas utama dari pameran ini.

Sebuah Ruang untuk Menemukan Diri
“Transition” bukan hanya pameran seni. Ia adalah ruang dialog antara seniman, penonton, dan dinamika zaman. Karya-karya Lalu Syaukani bukan hanya objek estetika, tetapi juga medium untuk memahami perubahan yang sering mengalir diam-diam dalam kehidupan.
Rplay Lombok melalui pameran ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya visual, tetapi juga emosional dan intelektual. Sebuah pengalaman yang relevan bagi masyarakat yang sedang berada di tengah pusaran modernitas, globalisasi, dan digitalisasi.
Transisi adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan melalui pameran ini, penonton diajak untuk menemukan ulang posisi dirinya—di mana ia berdiri, ke mana ia melangkah, dan apa yang ingin ia tinggalkan.
“Pada akhirnya saya ingin mengajak apresiator untuk merenung sejenak di mana posisi kita di dalam Transisi saat ini,” kata Syaukani.
Pameran ini, dengan demikian, bukan hanya menyentuh mata, tetapi juga mengetuk kesadaran. Sebuah undangan lembut untuk kembali melihat diri, budaya, dan dunia yang terus berubah. ***
#Akuair-Ampenan, 16-11-2025
Penulis : Agus K Saputra
Editor : Editor Ceraken































