Catatan Agus K Saputra
Minggu, 16 November 2025, atmosfer tenang Markas Sagatrah di Gunungsari berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat sekaligus intens.
Beberapa pegiat seni, peneliti budaya, warga lokal, serta perwakilan komunitas dari berbagai wilayah Wallacea hingga Papua berkumpul untuk membuka rangkaian Lingkar Seni Wallacea (LSW) 2025.
Gelaran tahunan yang selalu bergerak lintas pulau ini kembali hadir dengan tema besar: “Tembuku: Ruang Pertemuan Air”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tema tersebut tidak sekadar menjadi slogan, melainkan gagasan kuratorial yang menempatkan air sebagai pusat refleksi, air sebagai medium yang menghubungkan, sebagai aliran pengetahuan, sebagai ruang kosmologis, sekaligus arena perlawanan terhadap ketidakadilan ekologis yang terus terjadi di kawasan kepulauan.
Dalam konteks Lombok, air bukan hanya soal sumber daya, tetapi juga memori. Dari hulu ke hilir Sungai Meninting, tercatat beragam pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sinilah LSW 2025 memilih untuk memulai pertemuannya: pada tubuh air yang selama berabad-abad menjadi saksi perjalanan manusia, budaya, dan perubahan lanskap ekologis.

Merawat Sungai sebagai Ruang Kosmologis
Acara resmi dibuka oleh Mamiq Raden Muhammad Rais, tokoh budaya dan sesepuh yang telah lama dikenal sebagai penjaga pengetahuan lokal Gunungsari. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Sungai Meninting bukan sekadar jalur air, tetapi ruang kosmologis yang merawat hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan yang ilahi.
“Sungai ini bukan hanya mengalirkan kehidupan, tetapi juga mengalirkan ingatan kita. Air menyambungkan manusia dengan sejarahnya. Jika kita kehilangan sungai, kita kehilangan sebagian dari diri kita sendiri,” ujar Mamiq Rais.
Ia mengajak seluruh peserta LSW untuk menjadikan forum ini sebagai arena belajar bersama, tempat menyimak kembali kearifan lokal, serta momentum menguatkan solidaritas masyarakat dalam merawat sumber-sumber kehidupan. Pesannya sederhana namun mendalam: jangan menunggu sungai rusak baru kita tergerak untuk merawatnya.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Mambalan Sayid Abdillah Alkaff menegaskan komitmen pemerintah desa terhadap pemajuan kebudayaan dan perlindungan ruang hidup masyarakat sekitar Sungai Meninting. Ia menyoroti dinamika pembangunan di wilayah Gunungsari dan risiko ekologis yang mengikutinya, mulai dari alih fungsi lahan, sedimentasi, hingga tekanan pariwisata.
Menurutnya, LSW bukan semata kegiatan seni, tetapi wadah kolaboratif antara:
• seniman dan komunikan,
• tokoh adat dan akademisi,
• warga desa dan jejaring kebudayaan lintas pulau.
Dengan pertemuan seperti ini, Sayid berharap terbuka ruang untuk membangun model pemajuan kebudayaan berbasis warga yang berakar kuat pada pengetahuan lokal.
Perwakilan Lingkar Seni Wallacea Gorontalo Zulkifli Junaidi mengingatkan kembali perjalanan LSW sejak pertama kali dirintis pada 2015. Jaringan ini hadir untuk memecah hierarki pusat-pinggiran dalam dunia seni Indonesia. Wallacea, kawasan gugus pulau yang kerap dianggap jauh dari pusat, justru ingin menegaskan identitasnya sendiri melalui praktik seni berbasis wilayah.
“Di LSW, kami percaya bahwa tidak ada pusat seni. Setiap pulau adalah pusatnya sendiri. Pengetahuan lahir dari tanah, sungai, dan pengalaman hidup masyarakatnya.”
Zulkifli menegaskan bahwa LSW tahun ini bukan hanya tentang memamerkan karya, tetapi menyatukan pengalaman ekologis dari Gorontalo, Bima, Flores, Maluku, hingga Papua untuk membaca pola-pola kerusakan maupun ketahanan wilayah. Dari pengalaman-pengalaman itu, lahir solidaritas antar-pulau dan gagasan baru untuk memperkuat resiliensi budaya.

Tema Besar: Air sebagai Ruang Pengetahuan, Perjumpaan, dan Perlawanan
“Tembuku”—dalam bahasa lokal berarti tempat air bertemu—menjadi metafora utama perhelatan ini. Ia memvisualkan bagaimana:
• pengetahuan lokal mengalir dan bertemu,
• memori ekologis saling bersentuhan,
• komunitas lintas pulau saling belajar.
Sungai Meninting dipilih sebagai laboratorium ekologis tempat para peserta dapat membaca ulang hubungan manusia–air–tanah secara langsung. Dalam konteks perubahan iklim, air menjadi isu kritis: banjir kiriman, kekeringan, pencemaran, hingga tambang dan pembangunan di hulu yang mengganggu tata air kawasan.
Pembukaan LSW 2025 juga memberi perhatian khusus pada gerakan warga Gawe Ninting, sebuah inisiatif ekologis berbasis masyarakat Gunungsari yang menjadikan sungai sebagai sumber pengetahuan dan kewaspadaan lingkungan. Gerakan ini menyasar pemulihan ekosistem sungai melalui edukasi, kolaborasi seni, dan praktik pemetaan pengetahuan lokal.
Di ujung acara pembukaan hadir performance khas dari Zaeni Mohammad, seniman yang dikenal dengan eksplorasi tubuh dan ruang ekologis. Dalam aksi performatifnya, Zaeni menyuguhkan rangkaian gestur tubuh yang merespons interaksi antara air dan tanah, dua elemen yang selama ini membentuk lanskap Lombok dan kehidupan masyarakatnya.
Air dihadirkan sebagai ingatan, tanah sebagai penyangga. Dalam tarikan napas, hentakan kaki, dan pertemuan tubuh dengan material sungai, Zaeni mengajak audiens merasakan:
• ketegangan ekologis yang dialami masyarakat,
• perubahan lanskap akibat pembangunan,
• relasi intim yang sering terlupakan antara manusia dan sungai.
Performance ini menjadi pengingat bahwa seni bukan hanya medium estetika, melainkan juga cara merasakan dan memahami ulang dunia.
Rangkaian Kegiatan 16–23 November 2025
Setelah pembukaan, peserta akan memasuki rangkaian aktivitas selama satu pekan penuh, meliputi diskusi, kelas budaya, praktik lapangan, hingga pertunjukan seni.
1. Diskusi Lingkar Seni Wallacea Sesi I–III (17 November)
Sesi diskusi ini akan membahas:
• jejak ekologi kawasan Wallacea,
• peran seni dalam membaca krisis lingkungan,
• strategi membangun solidaritas budaya lintas pulau.
Para pembicara berasal dari komunitas seni, aktivis lingkungan, akademisi, serta tokoh adat yang membawa perspektif kritis dari berbagai wilayah.
2. Kelas Budaya bersama Tokoh Lokal (18 November)
Para peserta akan belajar langsung dari para penjaga pengetahuan desa—mulai dari juru cerita, pembuat perahu tradisional, petani hulu, hingga penari ritual. Kelas ini menempatkan warga sebagai narasumber utama dan seni sebagai media pembelajaran.
3. Penyusuran Sungai Meninting & Aksi Tanam Pohon (19 November)
Ini merupakan kegiatan inti yang mempertemukan peserta dengan tubuh sungai. Penyusuran dari hulu hingga titik-titik krisis akan membuka percakapan baru tentang degradasi ekologis, sekaligus menyatukan refleksi melalui aksi tanam pohon di area rawan longsor.
4. Lokakarya Kolaboratif Seniman–Warga (20–21 November)
Selama dua hari, para seniman akan bekerja bersama warga membuat karya berbasis pengalaman sungai—mulai dari instalasi, peta naratif, suara-suara sungai, artefak keseharian, hingga catatan lisan.
5. Pementasan Seni Lintas Medium di Bendungan Meninting (22 November)
Bendungan Meninting dipilih sebagai panggung pergelaran bukan tanpa alasan. Ia adalah ruang simbolik yang mempertemukan kepentingan ekologis, ekonomi, dan politik.
Pementasan ini menjadi ajang membaca ulang ketegangan dalam infrastruktur air, sekaligus membayangkan masa depan sungai.
6. Refleksi & Penutupan (23 November)
Kegiatan ditutup dengan forum refleksi bersama untuk merumuskan gagasan tindak lanjut dan memperluas jejaring seni ekologis di kawasan Wallacea.
Melalui tema “Tembuku: Ruang Pertemuan Air”, LSW 2025 diharapkan mampu memberikan sejumlah dampak strategis bagi komunitas seni dan warga di kawasan Wallacea:
1. Memperkuat jejaring seni berbasis warga
Pertemuan lintas pulau ini membuka ruang kolaborasi baru, memperkuat jaringan seniman dan aktivis budaya yang selama ini bergerak secara mandiri.
2. Mengangkat kembali pengetahuan lokal tentang air, sungai, dan tanah
Pengetahuan yang berakar dari pengalaman warga menjadi fondasi penting untuk memahami krisis ekologis hari ini.
3. Mendorong refleksi bersama atas isu hidrometeorologi dan arah pembangunan
Seni menjadi medium untuk menghadirkan kritik yang lebih peka dan humanis terhadap kebijakan pembangunan.
4. Menguatkan posisi masyarakat lokal dalam mengelola ruang hidup
LSW menempatkan warga sebagai pemilik suara utama dalam merumuskan masa depan sungai, tanah, dan ruang ekologisnya.
Dengan pembukaan yang hangat dan sarat makna ini, Lingkar Seni Wallacea 2025 menegaskan kembali posisinya sebagai ruang belajar bersama, ruang perjumpaan lintas pulau, dan ruang perlawanan terhadap ketidakadilan ekologis yang terus mengancam kawasan gugus pulau Wallacea.
Dari Sungai Meninting, gagasan-gagasan baru mengalir, sebagaimana air yang mengalir dari hulu ke hilir membawa harapan bagi masa depan.
#Akuair-Mambalan, 16-11-2025
Penulis : Agus K Saputra
Editor : Editor Ceraken































