Ada Lakon dan Otentisitas: Yoiakustik di Warjack Taman Budaya NTB

Sabtu, 17 Januari 2026 - 07:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Empat musisi ini menenun bunyi akustik dengan kecenderungan “eksperimental”, menempatkan vokal bukan sekadar pembawa melodi, melainkan medium artikulasi gagasan (Foto: aks)

Empat musisi ini menenun bunyi akustik dengan kecenderungan “eksperimental”, menempatkan vokal bukan sekadar pembawa melodi, melainkan medium artikulasi gagasan (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Jumat malam, 16 Januari 2026, Warjack Taman Budaya NTB kembali menjadi ruang perjumpaan bunyi, kata, dan perenungan. Yoiakustik. kelompok musik yang sejak awal menempatkan musikalitas sejajar dengan laku reflektif,  kembali naik pentas.

Bukan sekadar mengulang kebiasaan tampil, tetapi menghadirkan sebuah tawaran konseptual yang mereka sebut sebagai repertoar “Ada Lakon”.

Sejumlah nama tampak hadir menyaksikan pementasan itu: Kepala Taman Budaya NTB Lalu Surya Mulawarman, perupa Lalu Syaukani, Winsa Le Embrio, Pamela Paganini, perupa S. La Radek, Gottar Parra, Sidzia Mandvox, Ari Garmono, Reva Adhitama, serta para partisipan Pameran Belian yang sedang berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa Yoiakustik tidak hanya diposisikan sebagai tontonan musik, tetapi sebagai peristiwa budaya yang melintasi disiplin: musik, rupa, sastra, hingga “ruang pembelajar makna”.

Di atas panggung, Yoiakustik tampil dengan formasi yang sudah dikenal: Wing Irawan pada gitar dan vokal, Arif Prasojo pada biola, Yuga Anggana pada bass, dan Gde Agus Mega Saputra pada cajón.

Empat musisi ini menenun bunyi akustik dengan kecenderungan “eksperimental”, menempatkan vokal bukan sekadar pembawa melodi, melainkan medium artikulasi gagasan.

Repertoar sebagai Lakon

Repertoar “Ada Lakon” tidak lahir sebagai tema kosong. Wing Irawan, penggagas utama Yoiakustik, menjelaskan bahwa konsep ini berangkat dari pemahaman filosofis tentang “Ada”.

Ia merujuk pada pemikiran Martin Heidegger, yang memandang “Ada” (Sein) sebagai dasar dari segala keberadaan, bukan sekadar objek atau entitas yang bisa ditunjuk.

Manusia, sebagai Dasein, adalah makhluk yang “ada di situ”, yang mampu mempertanyakan makna keberadaannya sendiri melalui keterlibatan dengan dunia, waktu, dan sesama.

Penjelasan itu, dalam konteks pementasan, diterjemahkan secara sederhana namun tajam.

Bagi Wing, karya-karya Yoiakustik selama ini adalah kumpulan repertoar, yang masing-masing memiliki “lakon”. Semacam pengalaman, peristiwa, dan kesadaran yang pernah dihadirkan di atas panggung.

Mengapresiasi Yoiakustik, dengan demikian, tidak cukup hanya mendengar bunyi, tetapi juga mengenali lakon-lakon yang menyertainya.

Baca Juga :  Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

“Ada Lakon,” kata Wing, adalah ajakan untuk kembali pada otentisitas. Pada pengakuan bahwa keberadaan manusia sejatinya adalah kemanusiaan itu sendiri.

Dari sana, lahir jarak yang sehat dalam menyikapi realitas: kesadaran bahwa selalu ada hikmah, bahkan dalam pengalaman yang getir atau gelap. Repertoar bukan sekadar daftar lagu, melainkan jejak kesadaran yang terus diolah dan dihadirkan ulang.

Ciri khas Yoiakustik kembali terasa kuat malam itu: syair-syair yang tidak mudah ditangkap maknanya secara harfiah. Penonton kerap mengernyitkan dahi, mencoba mengurai kata demi kata, metafora demi metafora.

Namun, pada saat yang sama, mereka tetap tenggelam dalam harmonisasi musikalitas yang dibangun perlahan dan konsisten.

Salah satu syair yang menonjol adalah “Tahiyat Awal”. Larik-lariknya bergerak seperti ombak: kadang lirih, kadang menggulung:

Ombak adalah perasaan sungkan

menua
Padanya rindu fajar

Di tungku…

Syair itu tidak menawarkan cerita linear. Ia lebih menyerupai fragmen-fragmen kesadaran: ombak, bakul rotan, amis umpan, cahaya bulan, tasbih asin di ujung jari.

Semua hadir sebagai simbol yang saling bersahut, membentuk suasana batin ketimbang makna tunggal. Dalam konteks “Ada Lakon”, syair semacam ini justru menjadi pintu masuk pada pengalaman keterbukaan: sebuah undangan untuk merasakan, bukan sekadar memahami.

Wing bahkan melemparkan pertanyaan balik kepada apresiator: repertoar apa saja yang mereka ingat, dan potongan syair mana yang melekat dalam ingatan. Pertanyaan itu menegaskan bahwa makna tidak dipaksakan dari panggung, tetapi lahir dari perjumpaan antara karya dan kesadaran penonton.

Di sanalah “Ada” bekerja. Bukan sebagai wujud yang beku, melainkan sebagai proses konektivitas yang terus dikelola.

Musikalitas sebagai Penyangga

Secara musikal, Yoiakustik menunjukkan kematangan. Gitar akustik Wing menjadi tulang punggung, memberi struktur ritmis sekaligus ruang bagi improvisasi.

Biola Arif Prasojo mengalir sebagai aksen emosional, kadang melengking lirih, kadang mengiris suasana. Bass Yuga Anggana menjaga kedalaman, sementara cajón Gde Agus Mega Saputra memberi denyut yang bersahaja namun presisi.

Baca Juga :  Mendengar yang Tak Terucap: Kisah Para Belian dalam Kamera Anton Sumekah

Harmonisasi ini menjadi penyangga utama bagi syair-syair yang abstrak. Ketika kata-kata terasa sulit dijangkau, bunyi justru membuka jalan.

Tidak mengherankan jika sebagian penonton mengaku menikmati pementasan meski tidak sepenuhnya memahami makna lirik.

Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyatakan kesannya secara jujur: pementasan Yoiakustik keren dan layak dinikmati secara musikal, meski makna syairnya belum sepenuhnya ia pahami.

Pernyataan itu justru menegaskan posisi Yoiakustik. Mereka tidak menuntut pemahaman seragam. Musik dan syair dibiarkan bekerja pada lapisan yang berbeda-beda, sesuai kesiapan dan pengalaman masing-masing penonton.

Dalam repertoar “Ada Lakon”, Yoiakustik menyajikan sepuluh karya: Candra Arunika, K’setra Taruna, Candra Nau, Loro Telu Telu Loro, Berbaid Apa, Wolu Lima Telu, Niskala, Bunga Itu Debu, dan Tahiyat Awal, dengan Niskala kembali dinyanyikan di penghujung pementasan sebagai semacam penutup sekaligus pengingat.

Urutan lagu-lagu ini terasa seperti perjalanan. Bukan klimaks tunggal, melainkan rangkaian lakon yang saling menyambung.

Ada momen hening, ada letupan emosi, ada pula ruang jeda yang memberi kesempatan penonton untuk bernapas dan merenung. Warjack Taman Budaya NTB malam itu tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi ruang kontemplasi kolektif.

Antara Bunyi dan Kesadaran

Pementasan Yoiakustik dengan repertoar “Ada Lakon” memperlihatkan konsistensi mereka dalam menjadikan musik sebagai medium refleksi.

Di tengah kecenderungan hiburan yang serba instan, Yoiakustik memilih jalur yang lebih sunyi: mengajak penonton berhadapan dengan pertanyaan tentang keberadaan, kemanusiaan, dan otentisitas.

Bahwa sebagian penonton mengernyitkan dahi adalah konsekuensi yang mereka terima dengan sadar. Justru di sanalah kekuatan Yoiakustik: memelihara ketegangan antara bunyi yang memikat dan kata yang menantang.

Dalam ketegangan itu, “Ada” tidak hadir sebagai jawaban, melainkan sebagai pengalaman. Sebuah lakon yang terus berlangsung, bahkan setelah bunyi terakhir mereda.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA