Ampenan: Kota Tua yang Tak Pernah Sepenuhnya Pergi

Kamis, 25 Desember 2025 - 15:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Daya tariknya  memang terletak pada kemampuannya menggugah imaji (Foto: aks)

Daya tariknya memang terletak pada kemampuannya menggugah imaji (Foto: aks)

CERAKEN.ID- Siapa yang tak kenal Kota Tua Ampenan. Kawasan di pesisir barat Pulau Lombok ini bukan sekadar kumpulan bangunan tua, melainkan ruang ingatan yang hidup. Tempat sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari bertaut erat. Ampenan adalah saksi bisu perjalanan panjang Lombok sebagai wilayah persinggahan, perdagangan, dan perjumpaan lintas etnis.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ampenan kembali hadir di ruang publik melalui unggahan media sosial. Salah satu yang konsisten “menghidupkan” kota tua ini adalah Dimas Valentino, penyiar radio kondang pada masanya.

Lewat akun media sosialnya, Dimas kerap memotret sudut-sudut kehidupan Ampenan: gang sempit, bangunan kusam, ruko tua, hingga denyut ekonomi kecil yang nyaris luput dari sorotan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu unggahan terbarunya mengangkat kisah tentang Pabrik Kecap Wie Sin, sebuah detail kecil, namun justru membuka lapisan sejarah yang lebih dalam.

“Pabrik kecap satu-satunya di Lombok, bahkan mungkin di NTB. Bertahan dari jaman VOC sampai jaman now. Tersembunyi dan berproduksi dalam hening. Dari luar, pabriknya seperti tidak ada aktivitas apa-apa, tapi produknya terbang lintas provinsi,” tulis Dimas.

Unggahan itu segera memantik nostalgia dan kekaguman. Bukan hanya soal kecap, melainkan tentang daya tahan sebuah tradisi, tentang ketekunan sunyi yang bertahan di tengah gempuran industri modern.

Apresiasi serupa datang dari Lalu Mara Satriawangsa. Dalam catatan Facebook-nya, ia menulis singkat namun padat makna.

“Salut sama pemilik Pabrik Kecap Wie Sin, Kampung Banjar, Ampenan. Bisa bertahan dari gempuran kecap pabrikan luar Lombok. Saya tidak tahu kapan berdirinya, tapi kecap ini ada sejak saya kecil.”

Pernyataan ini menegaskan satu hal penting: keberadaan Pabrik Kecap Wie Sin telah melewati lintas generasi. Ia bukan sekadar unit produksi, melainkan bagian dari memori kolektif warga Ampenan dan Lombok secara luas.

Pabrik ini, sebagaimana banyak entitas di Kota Tua Ampenan, hidup dalam kesenyapan. Tidak mencolok, tidak agresif dalam promosi, tetapi tetap berdenyut.

Produk-produknya menembus batas wilayah, sementara ruang produksinya nyaris tak berubah dari masa ke masa. Inilah Ampenan: bertahan tanpa gegap gempita.

Kota Tua sebagai Pemantik Imaji

Daya tarik Kota Tua Ampenan memang terletak pada kemampuannya menggugah imaji. Berjalan di lorong-lorongnya serasa melintasi lapisan waktu.

Dinding-dinding tua, jendela kayu, pintu besi berkarat, dan jejak arsitektur kolonial menghadirkan sensasi “pulang” ke masa lampau—sebuah ingatan purba yang tetap hidup dalam keseharian.

Lebih serius melakukan restorasi, revitalisasi, dan penataan Kota Tua Ampenan (Foto: aks)

Namun, daya pikat ini juga menyimpan keprihatinan. Dimas Valentino, ketika ditanya lebih jauh soal unggahannya, mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan banyak orang.

“Sepertinya Ampenan dengan heritage-nya kurang dapat perhatian. Kasian, banyak bangunan yang terbengkalai dan kurang perawatan, kecuali yang berpenghuni.”

Pernyataan ini bukan sekadar keluhan personal, melainkan potret kondisi struktural. Ampenan memang telah ditetapkan sebagai kawasan bersejarah dan ikon wisata Kota Mataram, tetapi perhatian yang diterima sering kali bersifat parsial dan sporadis.

Baca Juga :  Saksak Dance Production: Merawat Keberanian, Menempa Tubuh Zaman

Kegelisahan itu juga tercermin dalam dunia akademik. Agus Purbathin Hadi, akademisi Universitas Mataram, menuangkan refleksinya tentang Ampenan dalam Kumpulan Puisi Bermain di Pasar Ampenan (Karya Agus K. Saputra, September, 2021, hal.79).

Ia menyuarakan harapan yang sangat konkret: agar Pemerintah Kota Mataram dan Pemerintah Provinsi NTB lebih serius melakukan restorasi, revitalisasi, dan penataan Kota Tua Ampenan.

Menurut Agus, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pemerintah daerah. Namun, persoalannya terletak pada ketiadaan konsep yang menyeluruh. Terutama dalam memperlakukan bangunan cagar budaya serta melibatkan masyarakat dan komunitas dalam proses pengembangan.

Ampenan, dalam pandangan ini, bukan sekadar proyek fisik, melainkan ruang sosial yang membutuhkan pendekatan partisipatif. Tanpa keterlibatan warga, revitalisasi berisiko berubah menjadi kosmetik belaka.

Secara historis, Kota Tua Ampenan memiliki posisi yang sangat penting. Kawasan ini dibangun oleh Belanda pada tahun 1895 sebagai pusat perdagangan utama sekaligus ibu kota Lombok. Lokasinya yang strategis di pesisir menjadikannya pelabuhan vital: gerbang masuk dan keluar manusia, barang, dan gagasan.

Nama “Ampenan” sendiri berasal dari kata Sasak amben, yang berarti tempat persinggahan. Nama ini merekam fungsi sosialnya sejak awal: ruang pertemuan berbagai suku dan bangsa. Arab, Tionghoa, Bugis, Jawa, Melayu, Bali, dan Sasak hidup berdampingan, membentuk mosaik budaya yang unik.

Ampenan juga dikenal sebagai gerbang haji pertama Lombok. Dari pelabuhan inilah, jemaah haji diberangkatkan menuju Tanah Suci. Aktivitas ini menciptakan denyut ekonomi dan budaya tersendiri. Termasuk perdagangan minyak wangi, tekstil, dan kebutuhan perjalanan.

Ketika ibu kota Lombok dipindahkan ke Mataram pada tahun 1953, Ampenan kehilangan status administratifnya. Namun ia tidak pernah benar-benar mati. Ia bertransformasi menjadi kawasan bersejarah yang menyimpan lapisan memori kolektif.

Daya tarik utama Kota Tua Ampenan terletak pada warisan arsitekturnya. Bangunan-bangunan bergaya kolonial Belanda berdiri berdampingan dengan rumah toko Tionghoa dan hunian etnis Arab.

Banyak di antaranya masih difungsikan sebagai ruko, kantor, atau kafe, menjadikan sejarah hadir dalam aktivitas sehari-hari.

Kemudahan akses belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas penataan yang merata (Foto: aks)

Masjid Tua Ampenan menjadi salah satu ikon kawasan ini, berdampingan dengan Klenteng Po Hwa Kong (Vihara Bodhi Darma), klenteng tertua di Lombok yang berdiri sejak 1840. Keberadaan dua bangunan ibadah ini dalam radius yang berdekatan menjadi simbol toleransi dan keberagaman yang telah lama mengakar.

Kampung-kampung etnis, Arab, Tionghoa, Bugis, Jawa, Melayu, dan Bali, mencerminkan Ampenan sebagai ruang perjumpaan budaya. Identitas multietnis ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi masih hidup dalam praktik sosial warganya.

Baca Juga :  Merekap Kegagalan, Merayakan Masa Depan: Dari Pentas Saksak Dance Production 2025

Kini, Kota Tua Ampenan berkembang sebagai destinasi wisata edukasi. Aktivitas yang ditawarkan pun beragam: berjalan menyusuri gang-gang sejarah, menikmati kuliner khas Lombok, hingga berburu spot foto di ruko-ruko tua yang dialihfungsikan menjadi kafe, seperti “Kotatua Kopi”.

Terletak di Ampenan Tengah, sekitar 5–7 kilometer dari pusat Kota Mataram, kawasan ini mudah diakses. Namun kemudahan akses belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas penataan yang merata.

Pandangan Kebijakan dan Visi Masa Depan

Dalam sebuah kesempatan, Prof. Muhamad Ali, calon Rektor Universitas Mataram periode 2026–2030, menyebut Kota Tua Ampenan sebagai contoh baik kawasan bersejarah yang rumah-rumah lamanya jika dipugar pemerintah tanpa mengubah bentuk asli. Bagi Prof. Ali, keaslian adalah kunci.

Ia bahkan mengidamkan agar setiap Sabtu atau Minggu, kuliner Sasambo (Sasak, Samawa, dan Mbojo) hadir dan lestari di seputaran Ampenan. Gagasan ini menempatkan Ampenan sebagai ruang hidup, bukan sekadar etalase sejarah.

Dari perspektif kebijakan kebudayaan, Ampenan mengajarkan bahwa:

  1. Kota lama bukan beban, melainkan aset budaya.
  2. Restorasi harus berorientasi pada keaslian.
  3. Keterlibatan masyarakat adalah kunci.
  4. Referensi kota dunia perlu disesuaikan dengan konteks lokal.

Jika visi ini diperluas, Ampenan berpotensi menjadi “Roma kecil”—ruang yang memadukan sejarah, kreativitas, dan ekonomi pariwisata tanpa kehilangan jati diri.

Koordinator Tenaga Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan dan Penguatan Koordinasi (KTAG P3K), Adhar Hakim, juga kerap menjadikan Ampenan sebagai contoh konkret dalam menjelaskan kebijakan pemajuan kebudayaan. Dalam program nasional, Ampenan diarahkan sebagai kota metropolitan. Namun NTB menambahkan misi afirmatif: menjadikannya kota tua dan kota pusaka.

Pendekatan ini bertumpu pada ceruk potensi budaya yang terdiri dari tiga lapis. Pertama, sosio-politik—sejarah Sunda Kecil yang membentuk identitas kawasan. Kedua, geopolitik—posisi NTB sebagai chokepoint jalur laut internasional. Ketiga, multi-etnis—yang menjadikan NTB sebagai ruang perjumpaan budaya sejak lama.

Begitulah, Ampenan bukan kota mati. Ia hidup dalam denyut kecil: di pabrik kecap yang bekerja dalam hening, di gang sempit yang masih berpenghuni, di masjid tua dan klenteng yang terus digunakan, serta di ingatan warga yang tumbuh bersamanya.

Merawat Kota Tua Ampenan berarti menjaga yang masih hidup, bukan sekadar memugar yang lama. Ia membutuhkan kebijakan yang sensitif, partisipasi warga, dan kesadaran kolektif bahwa masa lalu bukan beban melainkan fondasi.

Seperti kecap Wie Sin yang diam-diam menembus batas provinsi, Ampenan pun sesungguhnya memiliki daya jelajah yang jauh. Tinggal apakah kita memilih membiarkannya pudar, atau merawatnya sebagai pusaka bersama.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA