CERAKEN.ID– Dinding putih itu menjadi semacam “kitab terbuka”. Garis-garis hitam yang ditorehkan tangan manusia membentuk jejaring makna: panah, kotak, dan kata-kata kunci yang saling terhubung.
Di sanalah tergambar sebuah peta kosmologis tentang Belian Sasak. Bukan sekadar praktik pengobatan tradisional, melainkan sistem pengetahuan hidup yang mengaitkan tubuh biologis, relasi sosial, spiritualitas, hingga iman.
Peta itu memperlihatkan bagaimana masyarakat Sasak memandang sakit dan sehat bukan sebagai peristiwa individual semata, melainkan akibat dari hubungan yang renggang: antara manusia dan tubuhnya, manusia dan sesamanya, manusia dan alam, bahkan manusia dengan yang tak kasatmata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Belian, kesehatan adalah keseimbangan; sementara sakit adalah tanda retak dalam jejaring kosmis.
Pandangan Kosmologis: Manusia sebagai Manifestasi Semesta
Di puncak peta tertulis “Pandangan Kosmologis”. Dari titik inilah seluruh alur makna bermula. Bagi masyarakat Sasak, tubuh biologis manusia bukan entitas terpisah, melainkan akumulasi pengalaman kosmis.
Semesta dimaknai sebagai sesuatu yang “memanifestasikan diri” melalui tubuh manusia. Dengan kata lain, tubuh adalah ruang tempat alam, leluhur, dan pengalaman hidup bersemayam.
Pandangan ini melahirkan kesadaran keterikatan pada dunia yang tak tampak. Leluhur hidup sebagai penjaga; bukan sekadar figur masa lalu, melainkan entitas yang terus hadir menjaga keseimbangan.
Di sinilah religiusitas Sasak menemukan bentuknya yang khas: bukan dogmatis, melainkan relasional.
Gunung Rinjani, misalnya, dimaknai sebagai axis mundi, poros dunia. Ia bukan hanya lanskap geografis, tetapi pusat orientasi spiritual. Dari Rinjani, keseimbangan semesta dijaga. Gangguan terhadap alam atau nilai leluhur dipercaya beresonansi hingga ke tubuh manusia.
Dalam peta itu, Belian Sasak berdiri di tengah, menghubungkan kosmologi dengan dimensi spiritual dan sosial. Belian bukan sekadar peran, melainkan institusi budaya.
Ia menjadi penjaga pengetahuan leluhur, penghubung manusia dengan entitas adikodrati, sekaligus penyeimbang relasi manusia–alam.
Secara spiritual, Belian bertugas menjaga agar pengetahuan lama tidak terputus. Mantra, rajah, ramuan, hingga tata ritual diwariskan bukan melalui teks tertulis, melainkan laku dan pengalaman.
Belian membaca tanda-tanda: mimpi, gejala tubuh, perubahan perilaku, hingga peristiwa alam.
Namun Belian juga berfungsi sosial. Ia memberi legitimasi sosial atas sakit dan sembuh. Dalam masyarakat tradisional, sakit bukan hanya perkara medis, tetapi juga persoalan relasi.
Dengan hadirnya Belian, seseorang yang sakit tidak lagi dipandang sebagai individu bermasalah, melainkan sebagai bagian dari sistem yang perlu dipulihkan.
Sakit: Gangguan Biologis, Relasional, dan Kosmis
Di sisi kiri peta tergambar konsep “Sakit”. Panah-panahnya bercabang: gangguan biologis, gangguan relasional, makhluk halus, teguran leluhur, hingga alam semesta. Semua itu menunjukkan bahwa sakit dipahami secara multidimensional.
Gangguan biologis memang diakui, tubuh bisa lelah, luka, atau terserang penyakit.
Namun bila sakit tak kunjung sembuh, masyarakat Sasak akan menengok dimensi lain: adakah relasi sosial yang rusak? Apakah seseorang melanggar pantangan adat? Ataukah ada teguran dari leluhur karena lupa menjaga harmoni?
Pemahaman ini menjadikan sakit sebagai pesan, bukan semata musibah. Tubuh menjadi medium komunikasi antara manusia dan semesta. Maka menyembuhkan tubuh tanpa memulihkan relasi dianggap belum tuntas.
Dari pusat peta, alur bergerak ke bawah: Pengobatan Tradisional. Di sini Belian bekerja.
Konsep penyembuhan tidak tunggal, melainkan berlapis. Ada tindakan medis berupa ramuan; ada tindakan ritual berupa mantra dan doa; ada tindakan relasional seperti memperbaiki hubungan sosial; bahkan ada tindakan simbolik seperti mengunjungi situs-situs tertentu.
Semua tindakan itu diarahkan pada satu tujuan: memulihkan keseimbangan. Menariknya, penyembuhan tidak selalu bersifat instan.
Proses menjadi bagian penting. Pasien, keluarga, dan komunitas terlibat bersama. Dengan demikian, sembuh bukan hanya kondisi fisik, tetapi peristiwa sosial dan spiritual.
Dalam konteks ini, Belian bekerja sebagai mediator. Ia menjembatani dunia kasatmata dan tak kasatmata, ilmu tubuh dan ilmu rasa, iman dan laku.
Sehat dan Keimanan
Di sisi kanan peta tertulis “Sehat”. Sehat bukan sekadar bebas penyakit, tetapi kondisi ketika manusia kembali selaras dengan dirinya, sesamanya, alam, dan Tuhannya.
Maka tak mengherankan bila seluruh alur peta, dari sakit hingga sehat, bermuara pada satu kata di bagian bawah: Keimanan.
Keimanan di sini tidak dibatasi oleh definisi formal agama, melainkan dimaknai sebagai kesadaran akan keterhubungan. Seseorang yang beriman adalah ia yang tahu batas, tahu hormat, dan tahu menjaga keseimbangan hidup.
Dalam Belian Sasak, iman tidak diucapkan, tetapi dijalani. Ia hadir dalam cara memperlakukan alam, menghormati leluhur, menjaga lisan, dan merawat sesama.
Belian di Tengah Zaman Modern
Di tengah modernisasi dan dominasi medis biomedis, Belian kerap dipinggirkan sebagai praktik “tradisional”. Namun peta kosmologis di dinding itu justru menunjukkan sebaliknya: Belian menawarkan cara pandang holistik yang kini kembali dicari dunia.
Ketika kesehatan mental, relasi sosial, dan krisis ekologis menjadi isu global, Belian mengingatkan bahwa manusia tak pernah hidup sendirian. Tubuh, alam, dan iman saling terkait. Merusak satu berarti mengguncang semuanya.
Belian Sasak, dengan segala kesederhanaannya, adalah arsip hidup pengetahuan Nusantara. Ia mengajarkan bahwa sembuh bukan sekadar urusan obat, tetapi soal menjadi manusia seutuhnya, yang tahu dirinya bagian dari semesta.
Di dinding putih itu, garis-garis hitam mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan filsafat hidup yang dalam: tentang sakit sebagai pesan, sembuh sebagai perjalanan, dan iman sebagai fondasi keseimbangan.
Sebuah pelajaran sunyi dari tanah Sasak, yang terus berdenyut di antara tubuh, doa, dan kosmos.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































