CERAKEN.ID– Di antara deretan karya seni kontemporer yang memenuhi Galeri Taman Budaya NTB, dalam Pameran Belian yang digelar Komunitas Pasir Putih Lombok Utara hingga 17 Januari 2026, sosok Abdul Haris hadir tanpa pretensi artistik yang dibuat-buat.
Ia tidak datang sebagai “perupa” dalam pengertian konvensional, tidak pula menyematkan jarak antara dirinya dan karyanya. Abdul Haris, akrab disapa Bang Ali, hadir sebagai dirinya sendiri: Belian.
Karya yang ia tampilkan berjudul Ramuan Minyak. Sebuah instalasi yang terdiri atas video satu kanal tentang proses pembuatan minyak, puluhan botol berisi ramuan obat, serta rajah-rajah yang biasa digunakan dalam praktik pengobatan tradisional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Medium yang dipilih beragam, namun esensinya tunggal: menghadirkan pengetahuan yang hidup, yang bekerja melalui tubuh, alam, dan keyakinan.
Disajikan dalam konteks pameran, Ramuan Minyak bukan sekadar dokumentasi praktik pengobatan tradisional. Ia adalah pernyataan bahwa seni, pengetahuan, dan kehidupan tidak selalu berdiri terpisah.
Instalasi ini menyingkap proses panjang yang melatarbelakangi praktik Belian. Video memperlihatkan bagaimana minyak diracik, bagaimana bahan-bahan alam dipilih, diperlakukan, dan disatukan.
Botol-botol minyak tersusun rapi, bukan sebagai artefak mati, melainkan sebagai jejak pengalaman. Setiap botol menyimpan kisah relasi antara manusia dan lingkungannya.
Dalam praktik pengobatan para Belian, pengetahuan tidak hadir sebagai sistem abstrak atau teori tertulis. Ia tumbuh dari pengamatan, pengulangan, dan pengalaman langsung.
Apa yang diketahui Belian tentang tumbuhan, akar, kulit kayu, atau daun tertentu, adalah hasil dari relasi panjang dengan alam, relasi yang diwariskan lintas generasi.
Melalui susunan material dan citra bergerak, karya ini menegaskan bahwa kecakapan Belian merupakan bentuk kecerdasan ekologis dan kultural yang kompleks.
Sebuah kecerdasan yang tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi terus bekerja di tengah lanskap kesehatan kontemporer, terutama ketika pengobatan modern belum mampu menjawab seluruh persoalan manusia.
Menjadi Belian Sejak Kecil
Abdul Haris tidak pernah merencanakan dirinya menjadi Belian. Peran itu datang sebagai warisan sekaligus panggilan. Dalam bahasa Samawa, ia mengenal istilah Sandro Ode (Belian Kecil) dan Sandro Rea (Belian Besar).
Ia mulai belajar sejak kecil, ketika kakeknya mengajak membantu seseorang yang menderita penyakit, baik medis maupun nonmedis.
“Saya diajak meracik obat-obatan dari bahan alam yang ada di sekitar kita,” tutur Bang Ali.
Satu pengalaman membekas dalam ingatannya. Suatu hari, kakeknya mengajaknya mengobati seorang pasien dengan perut membengkak. Secara medis, pasien itu divonis menderita penyakit lever.
Namun menurut kakeknya, penyakit tersebut bukan semata persoalan fisik, melainkan akibat perbuatan sihir. Pasien itu percaya pada penjelasan tersebut, dan pengobatan pun dilakukan. Perlahan, pasien itu sembuh.
Peristiwa itu menjadi titik balik. Sejak saat itu, Abdul Haris mulai bersungguh-sungguh menekuni peran sebagai Belian, terutama untuk membantu orang-orang yang menderita penyakit nonmedis.
Setelah kakeknya wafat, ia tidak berhenti belajar. Pengetahuan pengobatan terus ia dalami, bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai laku hidup.
Di Antara Dunia Pariwisata dan Panggilan Tradisi
Dalam perjalanan hidupnya, Abdul Haris sempat bekerja sebagai juru masak di sebuah hotel di Gili Trawangan. Dunia pariwisata memberinya penghidupan, tetapi tidak pernah sepenuhnya menggantikan perannya sebagai Belian.
Di sela-sela kesibukan dapur, ia tetap menerima pasien, tetap meramu obat, tetap menjalani laku spiritual yang diwariskan.
Hingga pada satu titik, ia memilih keluar dari profesi tersebut. Keputusan itu tidak ringan. Namun ia merasa perlu sepenuhnya fokus pada peran yang selama ini ia jalani dengan setengah waktu.
Keputusan itu segera diuji. Dalam praktik mandirinya sebagai Belian, ia menangani seorang pasien dengan penyakit yang menurut pengamatannya “tak masuk akal”, penyakit kiriman atau sihir.
Dengan keyakinan dan kepercayaan dari pasien, proses pengobatan dilakukan. Beberapa hari kemudian, pasien yang berasal dari Sidemen itu sembuh total.
Bagi Abdul Haris, pengalaman tersebut menegaskan keyakinannya bahwa alam menyediakan obat bagi makhluk hidup. Ia menyebut babak bantenan dan babak juwet sebagai contoh bahan alam yang mujarab untuk menyembuhkan perut bengkak.
Pengetahuan ini bukan klaim sepihak, melainkan hasil praktik berulang yang ia jalani selama bertahun-tahun.
Dalam menjalankan praktik Belian, Abdul Haris memegang prinsip Sabalong Samalewa, membangun keseimbangan dan keserasian antara fisik material (dunia) dan mental spiritual (akhirat), serta menumbuhkan semangat gotong royong, tolong-menolong, dan kebersamaan.
Prinsip ini tampak dalam cara ia memaknai simbol. Salah satunya adalah Benteng Badan berupa gelang dari benang putih dan hitam yang diberikan kepada pasien tertentu.
Simbol ini merujuk pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 187, tentang batas gelapnya malam (benang hitam) dan terangnya fajar (benang putih). Bukan sebagai benang fisik, melainkan sebagai kiasan, sebagaimana dijelaskan Nabi Muhammad SAW.
Bagi Abdul Haris, simbol tersebut menjadi pembenteng spiritual, penanda batas, perlindungan, dan kesadaran. Di sinilah praktik Belian memperlihatkan dialog antara tradisi lokal dan pemahaman religius yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Seni, Tradisi, dan Kehidupan yang Menyatu
Dalam konteks Pameran Belian, karya Ramuan Minyak menempati posisi unik. Ia bukan sekadar representasi tradisi, tetapi tradisi itu sendiri yang dihadirkan ke ruang seni.
Abdul Haris tidak sedang “memainkan peran” sebagai Belian. Ia adalah Belian.
“Saya jadi Belian dari kecil. Saya keturunan dari tujuh generasi, bang,” ujarnya menutup perbincangan.
Pernyataan itu menjelaskan segalanya. Bahwa yang dipamerkan bukan nostalgia masa lalu, melainkan pengetahuan yang terus diwariskan, diuji, dan dipraktikkan.
Di hadapan botol-botol minyak dan citra bergerak itu, pengunjung tidak hanya diajak melihat karya seni, tetapi juga berhadapan dengan sebuah cara hidup.
Cara memahami sakit, sembuh, alam, dan manusia dalam satu tarikan napas yang utuh.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































