Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID– Puluhan tahun lalu, di ruang redaksi sederhana Koran Kampus Mahasiswa Media Universitas Mataram, diskusi kami berkisar pada deadline, tata bahasa, dan idealisme pers mahasiswa. Di tempat itulah saya mengenal Giri Arnawa: senior yang tekun, kritis, dan selalu tertarik pada bagaimana sistem bekerja di balik peristiwa.
Waktu berjalan, jalan hidup membawa kami ke lintasan masing-masing. Namun, jejaring pertemanan lama itu tiba-tiba berpendar kembali lewat sebuah story Whatsapp.
Giri Arnawa mengunggah tentang 9-Box ASN Talent Mapping: Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebuah bagan sederhana, tapi sarat makna: pemetaan kinerja dan potensi aparatur sipil negara dalam sembilan kotak strategis. Saya menanggapi lewat pesan singkat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau di tempat saya kerja dulu, sudah lama hal ini diterapkan.”
Percakapan itu tak berbalas. Namun justru di situlah kisah ini bermula. Sebuah refleksi tentang bagaimana gagasan manajemen talenta bergerak dari wacana ke praktik, dari korporasi ke birokrasi, dari masa lalu ke masa kini.
Dari Pengalaman Pribadi ke Kebijakan Publik
Pengalaman bekerja di institusi yang lebih dahulu menerapkan talent mapping membuat saya melihat unggahan itu dengan perspektif berbeda. 9-Box bukan sekadar diagram.
Ia adalah alat untuk membaca manusia dalam organisasi: siapa yang berkinerja tinggi, siapa yang berpotensi besar, dan siapa yang membutuhkan pengembangan atau reposisi.
Di sektor swasta, pendekatan ini lazim. Ia menjadi dasar promosi, rotasi, hingga perencanaan suksesi.
Ketika pendekatan itu masuk ke birokrasi ASN, maknanya berubah menjadi lebih politis dan strategis. Birokrasi tidak hanya mengelola kinerja, tetapi juga keadilan, transparansi, dan akuntabilitas publik.
Maka, 9-Box ASN di NTB bukan sekadar adopsi manajemen modern, melainkan sinyal perubahan cara pandang terhadap aparatur negara: dari sekadar pengisi struktur menjadi penggerak kinerja.
Unggahan Giri Arnawa terasa seperti penanda zaman. Bahwa NTB, provinsi yang kerap dipersepsikan berada di pinggiran pusat, sedang mencoba merapikan mesin internalnya.
Talent mapping menjadi bahasa baru birokrasi, bahasa yang dulu mungkin hanya kita temukan dalam buku manajemen atau ruang rapat korporasi.
NTB dan Tantangan Meritokrasi
Penerapan 9-Box ASN Talent Mapping tidak berdiri di ruang hampa. Ia hadir di tengah tuntutan reformasi birokrasi, desakan publik terhadap layanan yang lebih cepat dan bersih, serta kebutuhan daerah untuk bersaing secara nasional maupun global.
NTB, dengan dinamika sosial dan geografisnya, membutuhkan aparatur yang tidak hanya loyal, tetapi juga adaptif dan inovatif.
Di sinilah meritokrasi diuji. Apakah pemetaan talenta benar-benar digunakan untuk menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat? Ataukah ia berhenti sebagai formalitas administrasi?
Pengalaman banyak daerah menunjukkan, alat secanggih apa pun akan kehilangan makna jika budaya organisasi belum berubah. 9-Box bisa menjadi cermin jujur, tetapi juga bisa menjadi etalase kosong.
Sebagai mantan jurnalis kampus, saya terbiasa membaca di balik teks. Unggahan Whatsapp itu mungkin singkat, tetapi ia membuka ruang tafsir: ada optimisme, ada kehati-hatian.
Optimisme bahwa birokrasi NTB bergerak ke arah profesionalisme. Kehati-hatian bahwa perubahan sistem harus diiringi perubahan mental.
Percakapan yang Tak Berbalas, Gagasan yang Terus Hidup
Chat saya kepada Giri Arnawa tak berbalas. Namun, seperti banyak percakapan penting dalam hidup, maknanya tidak terletak pada respons instan. Ia hidup dalam ingatan dan refleksi.
Dari ruang redaksi kampus hingga ruang kebijakan publik, benang merahnya adalah satu: keyakinan bahwa sistem yang baik dapat melahirkan kerja yang bermakna.
Mungkin, di masa mahasiswa, kami belum membayangkan akan berbincang, meski sepihak, tentang manajemen talenta ASN. Tetapi justru di situlah menariknya perjalanan waktu.
Ide-ide yang dulu terasa jauh kini menjadi kebutuhan nyata. Dan media sosial, dengan segala kesederhanaannya, menjadi jembatan lintas generasi dan pengalaman.
9-Box ASN Talent Mapping di NTB adalah cerita tentang upaya merawat harapan.
Harapan bahwa birokrasi bisa belajar dari praktik terbaik, bahwa daerah bisa berbenah tanpa kehilangan identitas, dan bahwa percakapan, meski tak berbalas, tetap mampu menyalakan refleksi.
Seperti Koran Kampus Media dahulu, yang oplahnya sangat terbatas, tetapi gagasannya menjangkau jauh melampaui zamannya.
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































