CERAKEN.ID — Di balik berbagai kegiatan sosial yang kini ramai digerakkan anak muda di Lombok, ada kisah sederhana yang bermula dari candaan sehari-hari. Istilah “mager”, malas gerak, yang kerap dipakai generasi muda, justru menjadi inspirasi lahirnya sebuah komunitas sosial bernama Mari Gerak Indonesia.
Pendiri komunitas tersebut, Baiq Ratu Nurwahidah Vazira, menceritakan bahwa gagasan itu muncul saat dirinya bersama teman-teman semasa kuliah di Ilmu Komunikasi Universitas Mataram ingin melakukan sesuatu yang lebih bermakna.
Alih-alih terus terjebak dalam kebiasaan malas bergerak, mereka berpikir bahwa semangat berbagi bisa tumbuh jika tersedia wadah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Maka kelas belajar pertama pun digelar di Mantang, Lombok Tengah, tepatnya di rumah Ratu sendiri. Anak-anak sekitar dikumpulkan, lalu setiap minggu diadakan kelas berbagi pengetahuan.
Materinya sederhana: siapa pun boleh mengajar, selama mau berbagi apa yang mereka kuasai. Dari situ muncul kebutuhan akan nama komunitas. Candaan “mager” kemudian diubah menjadi ajakan: Mari Gerak.
Seiring waktu, gerakan kecil ini berkembang lewat berbagai kolaborasi. Dukungan penting datang dari seorang donatur di Bogor, Heni Sri Sundani, melalui komunitas Anak Petani Cerdas.
Komunitas ini bahkan membantu pembiayaan pendidikan sejumlah anak hingga lulus sarjana, termasuk Ratu sendiri yang mendapatkan beasiswa penuh.
Pengalaman tersebut menjadi motivasi kuat baginya untuk meneruskan manfaat yang pernah ia terima kepada generasi berikutnya.
Dari Bantuan Bencana ke Charity Shop
Momentum penting lain muncul pascagempa Lombok tahun 2018. Banyak bantuan pakaian dan barang layak pakai berdatangan, namun tidak semuanya dapat disalurkan karena kebutuhan korban sudah terpenuhi.
Komunitas Mari Gerak kemudian mencari cara lain agar bantuan tetap bermanfaat. Mereka mencoba menjual pakaian sumbangan di kawasan Car Free Day Jalan Udayana, Mataram, dengan harga sangat murah, dua ribu hingga sepuluh ribu rupiah.
Hasilnya cukup mengejutkan: barang-barang itu laku keras, dan dana yang terkumpul dapat disalurkan dalam bentuk bantuan tunai.
Dari pengalaman itu lahirlah konsep charity shop: barang layak pakai dikumpulkan, dijual kembali, dan seluruh hasilnya digunakan untuk beasiswa pendidikan serta kegiatan sosial. Tidak hanya pakaian, tetapi juga berbagai barang lain yang masih bisa digunakan.
Kolaborasi dan Ruang Baru Gerakan Sosial
Perkembangan berikutnya terjadi saat komunitas ini berpindah lokasi kegiatan ke Denkspa Learning Center. Di tempat ini, Mari Gerak berbagi ruang dengan lembaga lain, termasuk Island English Lombok.
CEO Denkspa, Girindra Wiratni Puspa, memberikan ruang bagi komunitas tersebut untuk mengelola charity shop mereka. Ratu sendiri pernah ikut membantu membangun Denkspa pada awal berdirinya, sehingga kolaborasi itu terasa natural.
Alih-alih membuat peresmian kantor biasa, mereka memilih mengemasnya dalam kegiatan sosial agar lebih menarik minat masyarakat. Dari sinilah lahir acara bertajuk “Beriuk Betukah”.
“Beriuk Betukah” merupakan istilah dalam bahasa Sasak yang berarti bersama-sama bertukar. Konsep acaranya sederhana namun bermakna: peserta membawa barang layak pakai, lalu panitia mengkurasi barang tersebut dan memberikan poin.
Poin itu kemudian dapat ditukar dengan barang lain yang mungkin lebih bermanfaat bagi pemiliknya.
Dengan begitu, barang yang sudah tidak terpakai tidak menjadi sampah, melainkan kembali berfungsi bagi orang lain.
Acara ini juga melibatkan berbagai komunitas dan pelaku usaha lokal, seperti Lombok Book Party, Dersi Coffee Roastery yang menyumbangkan sebagian hasil penjualan untuk donasi, penampil seni dari Leading Education Centre dan Kelas Bimbel BB, serta komunitas lingkungan Komunitas Kompos (KOMPLIT).
Kegiatan literasi juga dihadirkan melalui Rumah Baca Nusa, Yayasan Jage Kastare Lombok Tengah dan berbagai tamu undangan lainnya.
Gerakan Kecil yang Terus Bertumbuh
Cerita Mari Gerak menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu bermula dari program besar atau pendanaan besar.
Kadang, semuanya berawal dari candaan sederhana, ruang kecil untuk berkumpul, dan keinginan tulus untuk berbagi.
Kini, “mager” bukan lagi simbol kemalasan bagi komunitas ini, melainkan ajakan untuk bergerak bersama.
Dari kelas belajar kecil di kampung, charity shop sederhana, hingga kolaborasi lintas komunitas, semangat Mari Gerak terus tumbuh sebagai gerakan sosial anak muda Lombok yang memilih bergerak daripada diam.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan


































