Dialog Kebudayaan Seri Ke-4 Tekankan Pentingnya Pembentukan DKD Kabupaten/Kota

Kamis, 4 Desember 2025 - 16:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DKD kabupaten menjadi motor penggerak ekosistem budaya di tingkat lokal dan memastikan sinkronisasi PPKD antara provinsi dan daerah (Foto: Aks)

DKD kabupaten menjadi motor penggerak ekosistem budaya di tingkat lokal dan memastikan sinkronisasi PPKD antara provinsi dan daerah (Foto: Aks)

CERAKEN.ID- Lombok Barat, 4 Desember 2025 — Upaya memperkuat sinergitas pemajuan kebudayaan di Nusa Tenggara Barat kembali digulirkan melalui Dialog Pemajuan Kebudayaan NTB Seri Ke-4 yang digelar di Hotel Aruna, Senggigi, Rabu (3/12). Kegiatan yang melibatkan perwakilan Lombok Barat, Kota Mataram, dan Lombok Utara ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.

Dalam penyampaiannya, Badan Pengurus Harian Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) NTB, Prof. Drs. H. Mahyuni, MA., PhD., menegaskan bahwa dialog ini bertujuan mengenalkan kelembagaan DKD, memperkuat pemahaman tentang landasan hukum pemajuan kebudayaan, serta mendiskusikan keberadaan DKD di kabupaten/kota.

Selain itu, forum ini juga membahas isu, tantangan, strategi, dan rencana aksi penguatan kebudayaan daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mahyuni menjelaskan bahwa DKD NTB dibentuk berdasarkan Pergub NTB No. 83/2022 sebagai wadah koordinasi, komunikasi, dan pemberi rekomendasi kebijakan kebudayaan. “DKD hadir untuk menjembatani pemerintah, komunitas, akademisi, serta pelaku budaya dalam memperkuat arah kebijakan kebudayaan di NTB,” ujarnya.

Struktur kelembagaan DKD terdiri dari Organ Etik dan Kebijakan serta Badan Pengurus Harian beranggotakan delapan orang.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Etika Kebudayaan Kota (Membaca Mataram dalam Narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026)

Berlandaskan visi menjadikan NTB sebagai pusat unggulan pemajuan kebudayaan yang partisipatif dan berkelanjutan, DKD NTB memaparkan beberapa misi penting. Di antaranya membantu perencanaan program pemajuan kebudayaan, melakukan pengawasan dan koordinasi lintas daerah, memberikan rekomendasi kebijakan kepada gubernur, serta memfasilitasi pendataan dan sertifikasi lembaga maupun SDM kebudayaan.

DKD juga memaparkan program kerja strategis, termasuk penyusunan peta potensi 10 objek pemajuan kebudayaan, penyusunan rencana strategis dan roadmap kebudayaan 2025–2030, pendampingan pelaku budaya di kabupaten/kota, hingga penguatan kolaborasi pentahelix.

Dalam paparannya, Mahyuni menyoroti sejumlah tantangan pemajuan kebudayaan NTB. Indeks Pemajuan Kebudayaan Daerah (IPKD) tahun 2021 berada pada angka 54,73 atau kategori sedang, menurun dari tahun sebelumnya. Sejumlah dimensi masih menunjukkan skor rendah seperti ekonomi budaya (47,97), warisan budaya (47,08), kesetaraan gender (43,18), dan ekspresi budaya (31,43).

Baca Juga :  Gestur yang Bicara: Membaca “Untitled” Hujjatul Islam dalam Pameran Belian

Partisipasi masyarakat juga tergolong rendah, termasuk dalam kegiatan seni, kunjungan perpustakaan, serta keterlibatan dalam ritual adat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, DKD NTB menyiapkan sejumlah strategi dan rencana aksi, antara lain finalisasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) kabupaten/kota dan integrasinya ke RPJMD 2025–2029, penguatan literasi budaya, penyusunan kalender budaya, inkubasi UMKM berbasis budaya, hingga digitalisasi data kebudayaan dan penguatan SDM melalui berbagai pelatihan.

Mahyuni juga menegaskan pentingnya pembentukan DKD kabupaten/kota sebagai amanat Perda NTB No. 16/2021. “DKD kabupaten menjadi motor penggerak ekosistem budaya di tingkat lokal dan memastikan sinkronisasi PPKD antara provinsi dan daerah,” ujarnya.

Dialog ini diharapkan menjadi langkah konkret memperkuat sinergi antarwilayah dalam meningkatkan Indeks Pemajuan Kebudayaan NTB serta memperluas partisipasi publik dalam pelestarian dan pengembangan budaya daerah (Aks).

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA