Oleh Gde Agus Mega Saputra*
CERAKEN.ID- Musik tradisi Gula Gending adalah salah satu kekayaan budaya yang unik dan secara historis melekat erat dengan kehidupan masyarakat Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Gula Gending adalah sebuah fenomena budaya yang menggabungkan fungsi niaga (perdagangan) dengan fungsi artistik, di mana instrumen musiknya secara inheren menyatu dengan wadah dagangan.
Gula Gending, yang dimainkan oleh para penjual penganan manis sejenis arum manis atau ‘rambut nenek’ (sering disebut juga harum manis), berfungsi sebagai sarana promosi untuk menarik perhatian pembeli, terutama anak-anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinamika yang terjadi pada tradisi Gula Gending mencerminkan pertarungan antara pelestarian identitas budaya lokal dan adaptasi terhadap tantangan modernitas, ekonomi, dan gempuran budaya global.
Secara etimologi, Gula Gending berasal dari dua kata: “Gula” yang merujuk pada penganan manis yang dijual (Harum Manis), dan “Gending” yang berarti irama atau tabuhan musik.
Kesenian ini pertama kali dikenal di Desa Kembang Kerang, dan tokoh yang diyakini sebagai pembuat instrumen pertama adalah Almarhum Amaq Sakidep (Wahyuni & Kaharudin, 2022). Inti dari pertunjukan Gula Gending terletak pada instrumen musiknya yang tidak konvensional.
Instrumen ini adalah bagian dari rombong (kotak atau gerobak) yang digunakan sebagai wadah penyimpanan dan penjualan Gula Harum Manis. Rombong ini umumnya terbuat dari bahan seng atau stainless.
Bagian rombong yang berfungsi sebagai instrumen terdiri dari serangkaian kotak atau kantong yang dipukul menggunakan jari atau terkadang alat pemukul kecil.
Musik Gula Gending menghasilkan nada-nada unik, sering disebut sebagai the miracles sound dalam kajian etnomusikologi (Good News From Indonesia, 2023). Nada yang dihasilkan tidak mengikuti tangga nada diatonis atau pentatonis yang baku secara berurutan.
Kotak-kotak kaleng yang dipukul menghasilkan antara lima hingga enam nada (Wahyuni & Kaharudin, 2022). Pola Ritme yang dimainkan oleh pedagang cenderung repetitive secara musikalnya.
Tujuan utamanya adalah menciptakan bunyi yang unik, khas, dan cukup keras agar dapat memancing khalayak ramai, terutama anak-anak, untuk berkumpul dan membeli dagangan.
Beberapa nama lagu atau pola tabuhan yang dikenal dalam Gula Gending antara lain Semarang (Sembarang), Bua Oda (Pinang Muda), Tempong Gunung (Menembus Gunung), Enyek Setoe, Turun Tangis, dan Bao Daya (Wahyuni & Kaharudin, 2022). Nama-nama lagu ini sering kali bersifat situasional atau melambangkan keadaan.
Pada masa kejayaannya, terutama di era 1980-an hingga 1990-an, peran Gula Gending sangat sentral dalam kehidupan masyarakat Kembang Kerang. Sebagai fungsi niaga (ekonomi) Gula Gending adalah sebagai sarana promosi yang efektif.
Bunyi tabuhan yang khas menjadi signature sound bagi para pedagang Harum Manis. Suara ini mengumumkan kehadiran pedagang dari jarak jauh, menarik perhatian, dan mengumpulkan calon pembeli.
Kisah Masa Lalu
Lebih mendalam, profesi sebagai penjual Gula Gending merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian besar kaum laki-laki di Kembang Kerang Daya. Kearifan lokal ini telah mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi warganya.
Para pedagang Gula Gending dari Kembang Kerang dikenal sebagai perantau ulung. Mereka tidak hanya berkeliling di Pulau Lombok, tetapi juga merantau jauh hingga ke luar daerah dan luar pulau (Bima, Sumbawa hingga Kalimantan) demi berdagang (Sumber wawancara youtube BPNB Bali).
Peran ekonomi Gula Gending memiliki dampak sosial yang signifikan, terutama dalam bidang pendidikan. Banyak warga Kembang Kerang mampu menyekolahkan anak- anak mereka hingga jenjang sarjana, bahkan hingga doktor, dari hasil berjualan Gula Gending.
Kisah sukses para pedagang, seperti yang dialami oleh H. Muhamad Sahdan, yang mampu menunaikan ibadah haji dari hasil berjualan sejak tahun 1985, menjadi bukti nyata peran kesenian ini sebagai sumber kehidupan dan penentu masa depan masyarakat (Lombok Post, 2021).
Gula Gending adalah ekspresi budaya lokal. Bagi masyarakat Kembang Kerang, pekerjaan ini dimaknai sebagai warisan yang diberikan oleh nenek moyang mereka. Pertunjukan ini juga berfungsi sebagai media komunikasi sosial yang menghimpun massa dan menciptakan interaksi di ruang publik.
Meskipun demikian, Gula Gending sering kali dipandang sebagai kebudayaan minor dibandingkan dengan kesenian mayor seperti Gendang Beleq.
Dinamika dan Eksistensi di Era Modern
Eksistensi Gula Gending dalam dinamika budaya Lombok dihadapkan pada dua kutub: ancaman kepunahan dan upaya revitalisasi.
Seiring dengan perkembangan waktu dan perubahan zaman, pertunjukan musik Gula Gending sempat menjadi langka dan jarang ditemukan di masyarakat (Triyanuartha, 2015). Penyebab kemunduran ini multidimensi:
- Perubahan Pola Konsumsi: Munculnya aneka jajanan modern dan cepat saji menggantikan posisi Harum Manis tradisional.
- Perubahan Media Promosi: Pedagang modern beralih ke strategi pemasaran yang lebih kontemporer, menjadikan bunyi tabuhan Gula Gending kurang relevan dalam menarik perhatian generasi baru.
- Marginalisasi Budaya: Kesenian ini terpinggirkan di tengah gempuran budaya mayoritas dan hiburan modern (ANTARA News, 2022).
Dalam dimensi sonorik, visual, dan kinestetik, instrumen Gula Gending telah mengalami perkembangan:
- Evolusi Kotak Nada: Pada mulanya, rombong hanya terdiri dari tiga kantong kotak sebagai sumber bunyi. Kemudian, sekitar tahun 1945, muncul inovasi dengan enam kotak sumber suara (Wahyuni & Kaharudin, 2022). Perkembangan ini memungkinkan variasi nada yang lebih kaya.
- Kombinasi Musik: Meskipun pola ritme dasarnya repetitif, para pelaku Gula Gending modern seringkali mengombinasikannya dengan berbagai lirik lagu, termasuk lagu Sasak, dangdut, dan lagu populer lainnya, untuk menjaga daya tariknya (Journal UWKS, 2021).
- Respon Etnomusikologi: Kalangan musisi dan etnomusikolog lokal, seperti mulai merespons Gula Gending sebagai aset luar biasa dan alat musik original khas lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi alat musik baru.
Konsep dinamika budaya (cultural dynamic) sangat relevan dalam menganalisis Gula Gending. Awalnya, ia lahir sebagai respons fungsional terhadap kebutuhan niaga (promosi jualan). Perkembangannya menunjukkan bahwa budaya bukanlah entitas statis, melainkan terus bergerak dan beradaptasi.
Gula Gending mengalami proses akulturasi fungsi. Jika dulunya murni niaga-artistik, kini ia bergeser menjadi seni pertunjukan murni yang juga dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif dan objek pelestarian.
Transformasi ini menjamin kelangsungan hidupnya di tengah tantangan zaman, mengubah statusnya dari sekadar bunyi penarik pembeli menjadi warisan budaya yang memiliki nilai estetika dan sejarah.
Kisah Gula Gending dari Kembang Kerang Daya adalah epos tentang perjuangan kaum laki-laki Sasak yang merantau, sebuah narasi yang terekam dalam setiap tabuhan musik, menjadikannya simbol ketangguhan dan kearifan lokal yang mampu menyokong kehidupan dan pendidikan generasi muda.
Revitalisasi dan Upaya Pelestarian
Kini, Gula Gending mulai muncul kembali dengan beberapa perkembangan, mencerminkan adanya upaya pelestarian. Desa Kembang Kerang Daya secara proaktif menjadikan Gula Gending sebagai aset budaya yang perlu dipertahankan:
- Pusat Kerajinan: Desa Kembang Kerang menjadi pusat kerajinan Gula Gending, baik untuk pembuatan penganannya maupun instrumen musiknya.
- Inovasi UMKM: Upaya pengembangan dilakukan melalui inovasi produk, seperti perbaikan kemasan, pembuatan logo, dan varian rasa, untuk meningkatkan daya saing UMKM Gula Gending (Aulia Putri, dkk., 2024).
- Atraksi Wisata: Gula Gending mulai dipromosikan sebagai atraksi wisata budaya di Desa Wisata Kembang Kerang Daya, memberikan panggung baru bagi pertunjukan ini selain di jalanan (Jadesta NTB).
- Kajian Akademik: Banyak penelitian dan kajian ilmiah yang fokus pada eksistensi Gula Gending dalam dinamika budaya, yang turut mengangkat status kesenian ini dari minor menjadi objek studi yang penting (Triyanuartha, 2015; Wahyuni & Kaharudin, 2022).
Sebagai simpulan, maka musik tradisi Gula Gending di Desa Kembang Kerang, Lombok Timur, merupakan sebuah fenomena budaya yang kaya akan nilai sejarah, ekonomi, dan artistik.
Berawal dari instrumen sederhana yang melekat pada rombong penjual Harum Manis, ia berevolusi menjadi identitas komunitas perantau ulung Kembang Kerang yang mampu menopang kesejahteraan keluarga dan pendidikan anak-anak mereka.
Dalam dinamika budaya, Gula Gending telah menunjukkan ketahanan. Meskipun sempat terancam kelangkaan, upaya revitalisasi melalui inovasi produk, pengembangan sebagai atraksi wisata, dan pengakuan akademik, membuktikan bahwa Gula Gending adalah warisan yang masih hidup.
Ia bertransformasi dari sekadar alat promosi menjadi aset budaya berharga yang harus terus dijaga agar tetap bergema melintasi zaman.***
*Akademisi Sendtratasik Universitas Nahdlatul Ulama NTB
Penulis : Aks
Editor : Ceraken Editor































