Generasi Digital Menyapa Arsip Seni: Funlabs Warnai Pameran “Kronik” NTB 2025

Sabtu, 6 Desember 2025 - 10:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Digital Illustration membawa perspektif baru dalam membaca perkembangan budaya visual NTB di era digital (Foto: ist)

Digital Illustration membawa perspektif baru dalam membaca perkembangan budaya visual NTB di era digital (Foto: ist)

CERAKEN.ID- Mataram — Pameran seni rupa “Kronik: Lintasan Sebuah Perjalanan” resmi dibuka di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 29 November 2025. Menghadirkan karya-karya koleksi Taman Budaya yang telah menjadi arsip perjalanan seni rupa daerah, pameran ini sekaligus menjadi wadah dialog antara jejak sejarah visual NTB dan eksplorasi para perupa kontemporer.

Di antara peserta, Funlabs tampil menonjol sebagai representasi medium digital dalam ruang yang selama ini dominan diisi karya kanvas dan patung.

Funlabs menghadirkan karya “Digital Illustration by Funlabs”, ilustrasi digital berukuran 30 x 42 cm yang dicetak di atas kertas. Lewat sepuluh karya dari lima perupa—Redo Ilahi, I Gde Anjas Kharisma Nata, I Gusti Lanang Mardika, Dzakwan Audi Adiib, dan Ardian Alfarizi—Funlabs membawa perspektif baru dalam membaca perkembangan budaya visual NTB di era digital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai studio kreatif yang aktif dalam produksi ilustrasi digital, workshop wayang Sasak, penelitian, dan proyek lintas media, Funlabs dipandang sebagai jembatan antara praktik seni tradisional dan ekosistem visual kontemporer yang bersandar pada teknologi. Kehadiran mereka memperluas spektrum wacana pameran sekaligus menandai pergeseran generasi dalam cara mengolah dan memaknai visual.

Baca Juga :  Lombok, Nuh, dan Ingatan Peradaban yang Terkubur

Pameran “Kronik” turut menampilkan karya perupa senior seperti Abdullah Sidik, Gani Selim, Gusti Lanang Kebon, Satar Tacik, Tarfy Abdullah, hingga Tonie Moersajid. Lukisan-lukisan mereka menjadi penanda sejarah visual NTB, merekam pergeseran estetik dan tema dari masa ke masa.

Di sisi lain, perupa muda seperti Babat Nufus Tarenaksa, Lalu Arief Budiman, Lalu Rahman Hidayat, Mi’rajus Subyan, serta Funlabs menghadirkan cara pandang baru yang lebih responsif terhadap isu identitas, ekologi, pariwisata, hingga digitalisasi.

Kurator pameran, Sasih Gunalan, dalam narasi kuratorialnya menjelaskan bahwa “kronik” dipahami sebagai rangkaian jejak waktu yang terus bergerak. Ia menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar membuka kembali arsip lama, melainkan menghidupkan cara pembacaan baru terhadap perkembangan seni rupa NTB.

“Kronik bukanlah masa lalu yang membatu. Ia adalah proses pencatatan yang terus berlangsung,” tulisnya dalam katalog pameran.

Pendekatan itu tampak dalam format pameran yang mempertemukan dua arus besar: karya koleksi institusi sebagai arsip memori visual, serta karya perupa muda yang membawa kegelisahan kontemporer. Dialog ini menciptakan lanskap yang memperlihatkan bagaimana seni rupa NTB tumbuh dari penguatan identitas lokal, pergulatan antara tradisi dan modernitas, hingga masuknya praktik digital yang kini semakin dominan.

Baca Juga :  Gestur yang Bicara: Membaca “Untitled” Hujjatul Islam dalam Pameran Belian

Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menegaskan bahwa pameran “Kronik” merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam memperkuat ekosistem seni rupa di daerah.

“Taman Budaya ingin menjadi ruang apresiasi, ruang dialog, dan ruang keberlanjutan bagi perupa lintas generasi,” ujarnya.

Ia berharap kehadiran karya koleksi dan perupa muda dalam satu ruang dapat membuka jalur perjumpaan antara memori, eksplorasi, dan inovasi.

Lewat patung batu cadas Uma Dirga Efriyanto, cat air Lalu Rahman Hidayat, tanah liat Mi’rajus Subyan, hingga ilustrasi digital Funlabs, pameran ini menghadirkan spektrum medium yang beragam. Keseluruhan karya tersebut merekam bagaimana para perupa NTB terus menulis kronik baru dengan bahasa visual yang semakin luas dan berlapis.

Taman Budaya ingin menjadi ruang apresiasi, ruang dialog, dan ruang keberlanjutan bagi perupa lintas generasi (Foto: ist)

Pameran “Kronik: Lintasan Sebuah Perjalanan” dibuka untuk umum hingga 8 Desember 2025, pukul 08.00–17.00 WITA, dan menjadi salah satu agenda penting Taman Budaya NTB dalam mendorong ruang seni yang dinamis, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.(Aks)***

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan Tertulis

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA