Gerbang Sangkareang dan Kerja Sunyi Merawat Identitas Kota

Kamis, 8 Januari 2026 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerbang Sangkareang sebagai simbol budaya sekaligus dikembangkan sebagai simbol masa depan Kota Mataram. (Foto: ist)

Gerbang Sangkareang sebagai simbol budaya sekaligus dikembangkan sebagai simbol masa depan Kota Mataram. (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Di tengah arus modernisasi kota-kota Indonesia yang kian seragam, dipenuhi bangunan kaca, beton, dan simbol global, Kota Mataram justru menemukan jalannya sendiri. Pilihan itu tercermin ketika Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, terpilih menjadi satu dari sepuluh nominator terbaik Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026.

Sebuah capaian yang tidak sekadar bersifat personal, melainkan penegasan arah kebijakan budaya kota.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram, H. Muhammad Ramadhani, ST., M.Si, menyebut pencapaian tersebut sebagai kebanggaan bersama. Bagi Ramadhani, nominasi ini bukan hanya pengakuan terhadap figur wali kota, melainkan apresiasi atas ikhtiar kolektif Pemerintah Kota Mataram dalam merumuskan identitas kota melalui karya budaya bertajuk “Gerbang Sangkareang”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tema inilah yang diusung Pemkot Mataram dalam ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026. Sebuah tema yang pada pandangan pertama mungkin tampak sederhana, sebuah gerbang kota, namun menyimpan makna simbolik dan ideologis yang dalam.

“Kominfo sebagai public relation-nya wali kota dan Pemkot Mataram memiliki peran dan tugas untuk memperkenalkan kebaikan dan keunikan Mataram dalam konteks modernisasi kota yang mengarah serba seragam menjadi kota modern yang memiliki karakter dan identitas kuat,” ujar H. M. Ramadhani.

Pernyataan ini menegaskan posisi strategis Diskominfo, bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai penjaga narasi. Dalam dunia yang dipenuhi citra instan dan branding artifisial, narasi tentang kota tidak cukup dibangun dengan slogan, melainkan dengan makna yang hidup dan dapat dirasakan warga.

Baca Juga :  Teman Baca: “Revolusi” dari Lapak Buku ke Produksi Pengetahuan

Dari perspektif tugas dan fungsi Diskominfo, Anugerah Kebudayaan PWI Pusat menjadi ruang penting untuk mempertemukan pemerintah daerah dengan media sebagai mitra strategis. Ramadhani secara jujur mengakui bahwa selama ini Kota Mataram kerap “kebingungan” dalam membranding dirinya. Banyak potensi, namun belum menemukan simbol pemersatu yang kuat dan mudah dikenali.

“Dengan mengangkat ikon Gerbang Sangkareang dalam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 ini, Kota Mataram seolah menemukan momentum dan ‘cara cepat’ memperkenalkan Gerbang Sangkareang sebagai simbol budaya sekaligus dikembangkan sebagai simbol masa depan Kota Mataram. Itulah makna heritage meets modernity,” kata Ramadhani.

Di titik inilah “Gerbang Sangkareang” menjadi lebih dari sekadar proyek arsitektur. Ia adalah jawaban atas kegelisahan kota yang ingin maju tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Sebagaimana telah diberitakan media ini, di permukaan “Gerbang Sangkareang” mungkin tampak sebagai penanda wilayah. Namun di balik struktur fisiknya, ia adalah manifestasi cara sebuah kota memaknai dirinya sendiri.

Konsep “Lumbung Kehidupan” yang diadopsi bukan sekadar ornamen visual. Dalam kebudayaan Sasak, lumbung adalah simbol sakral: tempat menyimpan hasil panen, lambang kesejahteraan, ketahanan pangan, dan semangat kebersamaan. Ia merepresentasikan filosofi hidup masyarakat agraris yang menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan masa depan.

Di tangan Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana dan timnya, bentuk tradisional lumbung ini tidak dibekukan sebagai artefak masa lalu. Ia ditransformasikan menjadi desain kontemporer yang menyatu dengan denyut kota modern tetap berakar, namun relevan dengan zaman.

Baca Juga :  Sekambuh: Bahasa Simbolik Pengobatan dan Keyakinan dalam Instalasi Muhammad Gozali

“Gerbang Sangkareang adalah titik temu antara nilai tradisi dan kebutuhan estetika modern,” kata Mohan Roliskana.

Pernyataan tersebut mencerminkan visi kepemimpinan yang tidak melihat budaya sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya. Budaya tidak ditempatkan di museum, tetapi dihadirkan di ruang publik, menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari warga kota.

Lebih jauh, “Gerbang Sangkareang” diposisikan sebagai ruang publik yang hidup. Ia bukan hanya dilalui, tetapi dirasakan.

Dengan menjaga Sangkareang sebagai ruang yang terbuka bagi interaksi sosial, Pemkot Mataram tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merawat kebiasaan budaya: cara orang bertemu, berbincang, dan merasa memiliki kota ini.

Inilah yang sering luput dari laporan resmi dan statistik pembangunan. Kerja-kerja kebudayaan kerap berlangsung sunyi, tidak selalu terukur dengan angka, namun dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari warga. Kota menjadi lebih dari sekadar ruang tinggal; ia menjadi ruang bermakna.

Dalam konteks inilah nominasi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan pengakuan bahwa di tengah derasnya modernisasi, masih ada kota yang memilih merawat jiwanya.

Dan “Gerbang Sangkareang” berdiri sebagai simbol pilihan itu. Sebuah penanda bahwa Mataram melangkah ke masa depan tanpa meninggalkan dirinya sendiri. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA