Jejak Maulana Syaikh di Museum NTB: Merawat Warisan Ulama, Pendidik, dan Pejuang Kebangkitan Tanah Air

Rabu, 11 Februari 2026 - 11:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, pada 19 April 1908 dengan nama kecil Muhammad Syaggaf (Foto: aks/ceraken.id)

Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, pada 19 April 1908 dengan nama kecil Muhammad Syaggaf (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID– Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak hanya menyimpan artefak sejarah, tetapi juga merawat jejak spiritual, intelektual, dan perjuangan tokoh-tokoh besar yang membentuk wajah masyarakat NTB hari ini.

Di antara koleksi penting yang tersimpan, benda-benda peninggalan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menempati posisi istimewa.

Berada di Jalan Panji Tilar Negara No. 6, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram, museum yang diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daoed Joesoef, pada 23 Januari 1982 itu menjadi ruang perjumpaan generasi kini dengan sejarah panjang perjuangan sosial-keagamaan di Pulau Lombok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sanalah publik dapat melihat secara langsung benda-benda yang berkaitan dengan perjalanan hidup ulama besar yang dikenal luas sebagai pendiri Nahdlatul Wathan.

Koleksi tersebut bukan sekadar benda mati. Setiap item menyimpan cerita tentang perjalanan spiritual, intelektual, serta perjuangan sosial yang membentuk masyarakat NTB modern.

Wasiat, Doa, dan Jalan Spiritualitas

Di antara koleksi paling penting adalah buku Wasiat Renungan Masa Pergumulan Hidup. Buku ini memuat nasihat, refleksi, dan wasiat Maulana Syaikh mengenai dinamika kehidupan yang beliau jalani.

Tulisan tersebut memperlihatkan pergulatan batin seorang ulama yang bukan hanya mengajar agama, tetapi juga memikirkan arah masa depan umat dan bangsanya.

Bagi para pengunjung, buku tersebut menghadirkan sisi personal seorang tokoh besar: bagaimana seorang guru besar agama tetap bergulat dengan persoalan kehidupan, pendidikan, dan kemasyarakatan. Wasiat itu menjadi semacam pesan lintas generasi yang terus relevan.

Koleksi lain yang memiliki pengaruh luas di kalangan jamaah adalah buku Hizib Nahdlatul Wathan, kumpulan doa dan wirid yang disusun sejak 1360 Hijriah atau sekitar 1940 Masehi. Bacaan di dalamnya dihimpun dari ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, serta amalan para ulama dan awliya.

Hizib ini diamalkan oleh ribuan jamaah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menjadi identitas spiritual komunitas Nahdlatul Wathan.

Keberadaan naskah tersebut di museum memperlihatkan bagaimana spiritualitas menjadi fondasi perjuangan sosial yang dijalankan Maulana Syaikh.

Sorban, Simbol Cinta Guru dan Murid

Beberapa koleksi lain yang menarik perhatian pengunjung adalah dua buah sorban yang berkaitan langsung dengan perjalanan hidup Maulana Syaikh.

Sorban pertama merupakan duplikat dari sorban yang diberikan oleh guru beliau di Makkah, Syaikh Hasan al-Massyat, pada tahun 1973.

Pemberian itu menjadi simbol kasih sayang dan penghargaan guru terhadap murid yang sangat dicintainya. Sorban bernama Musnaf tersebut dikenal berasal dari kawasan Jizan, Arab Saudi.

Baca Juga :  Kinerja Melampaui Target, Strategi Tim Jadi Kunci Sukses Pegadaian Cabang Ampenan

Sementara sorban lainnya merupakan milik Maulana Syaikh yang kemudian beliau berikan kepada muridnya, TGH Yusuf Ma’mun, pada tahun 1995 sebagai kenang-kenangan.

Perjalanan sebuah sorban dari guru kepada murid, lalu dari murid kepada generasi berikutnya, menjadi simbol kuat kesinambungan keilmuan dalam tradisi Islam Nusantara.

Benda sederhana seperti sorban menjadi penanda bahwa hubungan keilmuan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga ikatan spiritual dan emosional antara guru dan murid.

Cenderamata Sang Guru untuk Murid-muridnya

Museum NTB juga menyimpan benda-benda yang memperlihatkan kedekatan Maulana Syaikh dengan para murid dan jamaahnya. Salah satunya adalah pin yang dahulu diberikan kepada murid-murid serta jamaah Nahdlatul Wathan.

Ada pula pulpen yang dikenal sebagai Pulpen Hamzanwadi. Pulpen ini unik karena tidak berisi tinta, melainkan minyak, sehingga tidak dapat digunakan untuk menulis.

Meski demikian, benda tersebut menjadi cenderamata yang sarat makna dan menjadi simbol kedekatan antara sang guru dan para muridnya.

Benda-benda tersebut menunjukkan sisi lain seorang ulama besar: kedekatan personal, perhatian, dan kasih sayang kepada jamaahnya.

Keberadaan koleksi Maulana Syaikh di Museum NTB memperlihatkan pentingnya museum sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat (Foto: aks/ceraken.id)
Pengakuan atas Kejeniusan dan Jasa Bangsa

Museum juga menampilkan ijazah yang ditulis tangan oleh guru Maulana Syaikh sebagai bentuk pengakuan atas kecerdasan dan kecemerlangan beliau dalam menuntut ilmu. Dokumen tersebut menjadi bukti bagaimana perjalanan intelektual beliau mendapat penghargaan sejak masa muda.

Selain itu, tersimpan pula Piagam Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Utama yang dianugerahkan pada tahun 2000, serta Piagam Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2017.

Kedua penghargaan tersebut menegaskan bahwa perjuangan beliau tidak hanya diakui masyarakat NTB, tetapi juga oleh negara.

Pengakuan negara itu menjadi penutup perjalanan panjang seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan, dakwah, dan perjuangan kebangsaan.

Dari Pancor Menuju Kebangkitan Tanah Air

Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, pada 19 April 1908 dengan nama kecil Muhammad Syaggaf. Setelah menunaikan ibadah haji, namanya berganti menjadi Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Sepulang dari Makkah pada tahun 1934, beliau mendirikan pesantren Al-Mujahidin. Nama tersebut mencerminkan semangat perjuangan yang saat itu masih berkobar di tengah rakyat Lombok yang menghadapi masa penjajahan.

Beliau kemudian mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), lembaga pendidikan yang menjadi tonggak kebangkitan pendidikan Islam di Lombok.

Nama Nahdlatul Wathan sendiri berarti kebangkitan tanah air, menunjukkan bahwa pendidikan dan perjuangan nasional berjalan beriringan.

Langkah besar berikutnya terjadi pada 21 April 1943 ketika beliau mendirikan madrasah perempuan pertama, Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI).

Baca Juga :  Menjaga Keselamatan di Jalan Raya: Komitmen Bersama melalui Operasi Keselamatan Rinjani 2026

Langkah ini merupakan bentuk pendidikan emansipatoris yang membuka akses pendidikan bagi kaum perempuan, sesuatu yang pada masa itu masih sangat jarang dilakukan.

Pada masa penjajahan, madrasah NWDI dan NBDI tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi basis pergerakan kemerdekaan.

Bersama para guru dan santri, Maulana Syaikh membentuk Gerakan al-Mujahidin yang turut bergabung dalam perjuangan rakyat Lombok mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tragedi perjuangan juga menyentuh keluarga beliau ketika pada 7 Juli 1946, adiknya, TGH Muhammad Faizal Abdul Majid, gugur bersama dua santri NWDI dalam penyerbuan markas militer NICA di Selong.

Mereka kemudian dikenang sebagai syuhada dan menjadi bagian sejarah perjuangan kemerdekaan di Lombok Timur.

Warisan Besar untuk NTB dan Indonesia

Tahun 1953 menjadi tonggak penting dengan berdirinya organisasi Nahdlatul Wathan, yang kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di NTB.

Organisasi ini memberi dampak besar bagi perkembangan pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial masyarakat.

Hizib Nahdlatul Wathan yang berkembang di dalamnya turut memperkuat tradisi keagamaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, menjadikan Islam hadir sebagai kekuatan sosial yang menyejukkan.

Ketika Maulana Syaikh wafat pada 21 Oktober 1997 di Pancor dalam usia 99 tahun, NTB kehilangan sosok ulama kharismatik.

Namun beliau meninggalkan warisan besar: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan ratusan lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang tersebar di berbagai daerah bahkan hingga mancanegara.

Perjuangan beliau juga diyakini turut mengubah wajah Lombok menjadi daerah yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, di mana masjid hadir di hampir setiap kampung sebagai pusat ibadah dan aktivitas sosial masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan koleksi Maulana Syaikh di Museum NTB memperlihatkan pentingnya museum sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat.

Benda-benda itu mengingatkan bahwa kebangkitan sosial dan pendidikan di NTB tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi melalui perjuangan panjang para ulama, guru, dan pejuang.

Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda, tetapi ruang refleksi generasi muda untuk memahami bahwa pendidikan, spiritualitas, dan nasionalisme pernah berjalan bersama membentuk masa depan daerah ini.

Di ruang-ruang pamer itu, pengunjung tidak hanya melihat sorban, buku, atau piagam penghargaan, tetapi menyaksikan perjalanan panjang seorang ulama yang menjadikan ilmu, iman, dan cinta tanah air sebagai satu kesatuan.

Dan melalui benda-benda itulah, jejak Maulana Syaikh terus hidup, mengingatkan bahwa kebangkitan umat dan bangsa selalu bermula dari pendidikan dan keteladanan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB
Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram
Konsultasi Publik RKPD 2027: Menyatukan Arah Pembangunan Kota Mataram
Mayura dan Ikhtiar Merawat Ingatan Kota
Rutin Nongkrong di Warkop, AB Iwan Azis Justru Tak Pernah Ngopi
Pentas Selasa Warjack: Ruang Kreatif yang Menghidupkan Denyut Seni di Taman Budaya NTB
Menata Hati ASN Menyambut Ramadhan di Kota Mataram
Kinerja Melampaui Target, Strategi Tim Jadi Kunci Sukses Pegadaian Cabang Ampenan

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 07:25 WITA

Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB

Jumat, 13 Februari 2026 - 19:59 WITA

Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram

Jumat, 13 Februari 2026 - 11:56 WITA

Konsultasi Publik RKPD 2027: Menyatukan Arah Pembangunan Kota Mataram

Kamis, 12 Februari 2026 - 16:05 WITA

Mayura dan Ikhtiar Merawat Ingatan Kota

Rabu, 11 Februari 2026 - 11:53 WITA

Rutin Nongkrong di Warkop, AB Iwan Azis Justru Tak Pernah Ngopi

Berita Terbaru

Puisi-puisi tersebut tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu menyampaikan rasa secara langsung. Dari kesederhanaan itu, pembaca menemukan kedalaman makna (Foto: aks/ceraken,id)

BEDAH BUKU

Menyusuri Utara, Menemukan Kembali Jejak Persahabatan dan Puisi

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:17 WITA

BUDAYA

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:28 WITA

Pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari hubungan kemanusiaan yang hangat antara pemimpin dan mereka yang bekerja di lapangan (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram

Jumat, 13 Feb 2026 - 19:59 WITA