CERAKEN.ID– Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda masa lampau.
Di dalamnya, sejarah panjang perjuangan masyarakat NTB melawan kolonialisme dipresentasikan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan tidak pernah datang dengan mudah.
Di balik peta wisata dan keindahan alam Lombok dan Sumbawa hari ini, tersimpan kisah panjang penderitaan, perlawanan, dan keberanian masyarakat lokal menghadapi kekuasaan asing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Museum yang berada di Jalan Panji Tilar Negara No. 6, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram ini menjadi ruang penting bagi generasi kini untuk memahami bagaimana masyarakat NTB menghadapi masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.
Tempat ini memperlihatkan bahwa sejarah lokal memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia secara keseluruhan.
Seperti wilayah lain di Nusantara, NTB juga mengalami masa panjang kolonialisme. Berdasarkan catatan Museum Negeri Provinsi NTB, Belanda mulai menguasai Pulau Sumbawa sejak abad ke-17, terutama setelah Perjanjian Bongaya pada tahun 1667.
Sementara itu, Pulau Lombok jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1894 setelah mereka berhasil menaklukkan kekuasaan Kerajaan Bali di Lombok.
Selama kekuasaan Belanda, sistem pemerintahan kolonial sangat memberatkan masyarakat. Pemerintah kolonial mengontrol keamanan dan penertiban wilayah, sekaligus memaksa para raja dan penguasa lokal menyerahkan upeti.
Masyarakat diwajibkan membayar pajak hasil pertanian dan perkebunan, yang pada praktiknya seringkali memberatkan rakyat kecil.
Tidak hanya itu, Belanda juga menerapkan politik adu domba antar kerajaan, antar elite lokal, hingga antar kelompok masyarakat. Strategi ini melemahkan persatuan lokal, sehingga perlawanan menjadi terpecah dan mudah dikendalikan.
Namun tekanan kolonial tersebut justru memantik gelombang perlawanan di berbagai daerah di NTB.
Api Perlawanan di Pulau Sumbawa dan Bima
Pulau Sumbawa dan wilayah Bima menjadi salah satu pusat perlawanan terhadap kekuasaan Belanda. Ketidakpuasan terhadap pajak, kontrol ekonomi, serta campur tangan kolonial dalam pemerintahan lokal memicu konflik terbuka.
Perang Undru yang dipimpin Lalu Undru pada 1906 menjadi salah satu bentuk perlawanan rakyat terhadap tekanan kolonial. Gelombang perlawanan berlanjut melalui Perang Baham pada 1906–1907 di Sumbawa.
Di wilayah Bima, konflik serupa terjadi melalui Perang Donggo, Perang Dena, dan Perang Ngali antara tahun 1908 hingga 1910. Para pemimpin lokal bersama masyarakat melakukan perlawanan terhadap kebijakan kolonial yang dianggap merampas hak-hak rakyat dan merusak tatanan sosial.
Perlawanan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat lokal tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kekuasaan kolonial. Di banyak tempat, konflik berlangsung sengit meski sering berakhir dengan kekalahan akibat keterbatasan persenjataan dan strategi militer.
Lombok: Gelora Perlawanan dari Desa-desa
Di Pulau Lombok, perlawanan terhadap Belanda juga muncul di berbagai wilayah. Catatan sejarah menunjukkan sejumlah pemberontakan lokal yang dipimpin tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin agama.
Pemberontakan Sesela pada 1896 yang dipimpin Amaq Nurisah menjadi salah satu perlawanan awal terhadap kekuasaan kolonial di Lombok Barat.
Di Lombok Tengah, perlawanan muncul melalui Pemberontakan Mamelak dan Tuban yang dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal seperti Talip, Haji Ali, Haji Dolah, serta Lalu Purwata dan Lalu Pujut.
Sementara itu di Lombok Timur, perlawanan terjadi melalui Perang Gandor yang dipimpin Jero Eawit pada 1898, serta rangkaian konflik di Pringgabaya pada 1911 dan 1913 yang dipimpin Darwasih, Guru Kopak, dan Panganten Ratnayu.
Selain itu, konflik di Batu Geranting yang dipimpin Raden Ratsasih dan Raden Ratsayang menjadi bagian dari rangkaian perlawanan lokal terhadap kekuasaan kolonial.
Perlawanan-perlawanan ini menunjukkan bahwa desa-desa di Lombok bukanlah wilayah pasif, melainkan ruang perjuangan masyarakat yang mempertahankan martabat dan hak hidup mereka.
Jepang Datang dengan Janji, Pergi dengan Luka
Kekuasaan Belanda di NTB berakhir ketika Jepang mengalahkan Belanda pada Februari 1942. Karena Lombok dan Sumbawa berada di bawah keresidenan Bali, wilayah ini otomatis jatuh ke tangan Jepang.
Pasukan Jepang mendarat di Lombok pada 8 dan 12 Mei 1942, sementara di Sumbawa khususnya Bima pada 17 Juli 1942. Pada awal kedatangan, Jepang justru disambut baik oleh masyarakat. Banyak tokoh lokal menganggap Jepang sebagai pembebas dari kolonialisme Barat.
Hal ini tidak terlepas dari propaganda Jepang yang mengusung slogan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya, yang menjanjikan kebebasan bagi bangsa-bangsa Asia dari dominasi Barat.
Namun kenyataan yang terjadi jauh berbeda. Setelah menguasai wilayah, Jepang menerapkan kebijakan ekonomi perang yang lebih keras. Berbagai komoditas ekonomi diambil alih, produksi pertanian diarahkan untuk kebutuhan perang, dan terjadi monopoli berbagai bahan penting seperti kapas.
Dalam kehidupan sehari-hari, rakyat hidup dalam ketakutan, kekurangan pangan, dan tekanan sosial. Situasi ini memicu perlawanan baru terhadap pendudukan Jepang, meski dalam kondisi serba terbatas.
Museum Negeri Provinsi NTB yang diresmikan pada 23 Januari 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daoed Joesoef, kini menjadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat dan generasi muda.
Di museum inilah pengunjung dapat memahami bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia juga terjadi melalui konflik-konflik lokal di daerah, termasuk di NTB. Perlawanan di desa-desa Lombok, Sumbawa, dan Bima menjadi bagian penting dari narasi nasional yang sering kali kurang mendapat perhatian luas.
Saat ini museum dipimpin oleh Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H., yang terus mendorong museum sebagai pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan NTB.
Sejarah perlawanan rakyat NTB memperlihatkan bahwa masyarakat lokal memiliki daya juang tinggi menghadapi ketidakadilan.
Meski banyak perlawanan berakhir dengan kekalahan militer, semangat mempertahankan martabat dan hak hidup tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Museum menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu terjadi di medan perang besar, tetapi juga di desa-desa, ladang, dan komunitas kecil yang menolak tunduk pada penindasan.
Hari ini, ketika generasi muda menikmati kebebasan dan pembangunan, kisah perlawanan itu menjadi refleksi penting bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan panjang.
Dan di ruang-ruang Museum NTB, jejak perjuangan itu tetap terjaga, mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya masa lalu, melainkan fondasi bagi masa depan.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan


































