CERAKEN.ID– Sabtu malam, 17 Januari 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi ruang pertemuan yang berbeda dari biasanya. Lampu panggung tak hanya menyorot gerak tari, alunan musik, dan garis-garis lukisan.
Ia juga menerangi satu niat bersama: mengulurkan kepedulian bagi sesama manusia yang sedang terluka oleh bencana alam di Sumatera dan Aceh.
Melalui tajuk “Artunity: Art Speaks, Humanity Listens” dengan tema A Charity Night for Sumatera, Komunitas Seni NTB untuk Kemanusiaan (Artunity), sebuah komunitas independen yang bergerak di bidang seni, budaya, dan kegiatan sosial kemasyarakatan, menginisiasi kolaborasi lintas disiplin seni.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lukis pasir, tari, musik, hingga pameran lukisan disatukan dalam satu malam penggalangan solidaritas, di mana seluruh hasil donasi disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB.
Bukan sekadar pertunjukan, acara ini dirancang sebagai ruang empati. Seni dijadikan bahasa bersama untuk menyampaikan kepedihan yang tak selalu mampu diucapkan oleh kata-kata.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, seniman, dan pemerintah dalam menumbuhkan semangat gotong royong serta kepedulian terhadap sesama,” ujar Baiq Amalia Putri Ghaesani, yang akrab disapa Cikughea, selaku Ketua Pelaksana Artunity, dalam kata sambutannya.
Bagi Cikughea, Artunity bukan hanya panggung ekspresi artistik. Ia adalah ruang persatuan. Tempat seni mengambil peran ketika bahasa verbal tak lagi cukup untuk menampung duka, simpati, dan harapan.

“Melalui lukisan pasir, pertunjukan budaya, musik, dan karya-karya lainnya, kami ingin menyampaikan pesan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyatukan, menyembuhkan, dan menggerakkan kepedulian,” tuturnya.
Ia mengajak para hadirin untuk melihat lebih jauh dari keelokan alam dan kekayaan budaya Nusantara. Di balik itu semua, ada luka-luka kemanusiaan yang membutuhkan perhatian bersama.
Seni, dalam konteks ini, hadir bukan hanya untuk dinikmati, melainkan untuk mengubah rasa dan menyalakan empati.
“Kami berharap Artunity dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas, lebih bermakna, dan berkelanjutan. Semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa menjadi jejak kebaikan, sekecil apa pun, bagi sesama dan bagi negeri ini,” lanjut Cikughea.
Dukungan terhadap kegiatan ini datang dari berbagai pihak. H. Ahmad Rusli, perwakilan Baznas NTB, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Taman Budaya Provinsi NTB atas dukungannya sehingga kegiatan kemanusiaan yang digagas Artunity dapat terlaksana.
Ia menjelaskan bahwa donasi yang terkumpul ditujukan untuk membantu sahabat-sahabat di Sumatera dan Aceh yang terdampak bencana. Hingga saat kegiatan berlangsung, partisipasi masyarakat terus mengalir dan dilaporkan secara resmi melalui Baznas.
“Alhamdulillah, banyak masyarakat yang mengambil bagian. Semoga donasi yang kita maksud, sekecil apa pun itu, untuk sahabat-sahabat kita di Sumatera berdampak besar bagi kita semua,” kata Ahmad Rusli.

Nada haru kian terasa ketika Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyampaikan sambutannya. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti Artunity merupakan bentuk tanggung jawab bersama sebagai manusia.
“Bencana alam di Sumatera dan Aceh bukan hanya menjadi urusan saudara-saudara kita di sana. Itu adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Menurutnya, penderitaan akibat bencana melampaui batas geografis. Duka mereka adalah duka kita. Kehilangan yang mereka alami, keluarga, rumah, dan harapan, adalah luka kemanusiaan yang dapat dirasakan oleh siapa pun.
“Penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Jiwa mereka yang kehilangan saudara, keluarga, dan apa pun yang mereka miliki, kita juga bisa merasakannya,” tutur Miq Surya, suaranya tercekat menahan haru.
Malam amal ini kemudian mengalir melalui rangkaian pertunjukan yang sarat makna. Tampil di antaranya pameran lukisan dari perupa Mandalika Art Community, Pelvist, Saksak Dance Production, Gerryduta, Denta Haritsa, Miracle Dancers, Isvara, dan ditutup dengan penampilan puncak Sand Animation oleh Cikughea.
Setiap karya hadir bukan hanya sebagai tontonan estetis, tetapi sebagai medium pesan kemanusiaan.
Artunity: A Charity Night for Sumatera akhirnya menjadi penanda bahwa seni mampu melampaui fungsi hiburan.
Ia menjelma jembatan empati, pengikat solidaritas, dan pengingat bahwa di tengah keberagaman ekspresi budaya, ada satu nilai yang menyatukan: kemanusiaan.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































