CERAKEN.ID– Sutradara Abdul Latif Apriaman menegaskan bahwa naskah Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala bukanlah karya yang lahir dari imajinasi semata. Naskah karya Fitri Rachmawati, akrab disapa Pikong, itu tumbuh dari riset panjang dan wawancara lapangan selama dua tahun, sejak 2018 hingga 2021, langsung di Tanah Gumantar, Lombok Utara.
Di sanalah cerita-cerita lisan, ingatan kolektif, dan luka sejarah bertaut menjadi satu tubuh dramatik.
“Konsep naskah ini adalah jurnalisme teater yang mengangkat fakta dalam bentuk naskah teater, karena penulis merasa tidak cukup menggambarkan tanah leluhur hanya dalam bentuk berita yang terbatas durasinya,” ujar Latif saat dihubungi melalui telepon, Jumat, 9 Januari 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga kini, kata Latif, penulis masih rutin kembali ke Tanah Gumantar, menjaga relasi dan merawat cerita-cerita baik masyarakatnya.
Sebagaimana hasil liputan Pikong, naskah ini memotret keberadaan Nippon dan praktik kinrohosi, kerja bakti paksa tanpa upah, yang membekas dalam ingatan masyarakat Gumantar.
Latar kisahnya berangkat dari pekerjaan memintal dan menenun, tradisi turun-temurun yang dijalani perempuan Gumantar dengan cinta dan ketekunan. Namun kedatangan Jepang mengubah makna kerja itu secara drastis. Memintal dan menenun tak lagi menjadi laku budaya, melainkan kerja dalam keterpaksaan dan ketakutan.
Cerita kelam ini dibenarkan narasumber Pikong, pengamat sejarah Lombok, Ahmad YD. Dalam keterangannya yang dimuat Kompas.com, Ahmad menyebut keberadaan Jepang sangat memengaruhi kehidupan masyarakat Lombok, meski jumlah personel di Lombok Utara tak banyak.
“Lombok itu dikuasai oleh angkatan laut Jepang. Dua kali belakangan Angkatan Darat Jepang, angkatan laut ini menyebar. Gerakan mereka dipimpin oleh polisi angkatan laut di beberapa tempat, antara lain di Gondang wilayah Kokok Segare. Penyebaran Jepang sebenarnya dari Rembiga, Kota Mataram,” terang Ahmad.
Agen-agen polisi Jepang, lanjutnya, banyak berasal dari orang Sasak sendiri. “Satu saja tentara Jepang sudah bikin takut orang sekecamatan. Di Bayan, Aik Anyar, ada satu Jepang.”
Di Dusun Amor-Amor, Desa Gumantar, berdiri pos polisi Jepang. Tentara Jepang dikenal memiliki beragam keahlian, namun watak kolonial mereka serupa: selalu mencari sumber daya yang bisa diperas.
Di Lombok Utara, sasaran utama adalah ternak sapi. Setiap kepala desa diwajibkan mendaftarkan ternak warga sebagai milik negara Jepang.
“Kapan-kapan mereka ingin gunakan, mereka ambil paksa,” kata Ahmad. Termasuk pula pemaksaan menanam kapas di Gumantar, karena wilayah itu dinilai sangat cocok untuk komoditas tersebut.
Pemaksaan menanam kapas merupakan bagian dari kinrohosi, bukan romusha. Setiap laki-laki dewasa diwajibkan bekerja demi Dai Nippon. Dengan jargon “kemakmuran Asia Raya”, rakyat dipaksa menanam yute, yaitu tanaman berserat untuk bahan karung atau goni.
Anak-anak sekolah pun diwajibkan mengumpulkan biji jarak sebagai bahan bakar kendaraan Jepang. Kerja paksa itu menjadi keseharian yang tak terelakkan.
Pada masa itu, demikian tulisan Pikong, Kepala Dinas Pertanian Lombok adalah W. Tanabe, lulusan Okayama University. Tanabe memahami potensi Lombok untuk ditanami padi unggul. Namun setelah dua tahun, hasilnya tak mencukupi kebutuhan logistik Jepang.
Rakyat kemudian diperintahkan menanam umbi-umbian seperti sebek, lomak, dan arus. Bahan pangan bergizi diambil, beras dijual oleh pemerintah Jepang, dan kelaparan rakyat Lombok diabaikan.
“Lima pabrik penggilingan padi didirikan di Lombok ketika itu,” ungkap Ahmad.
Sebagai sarjana pertanian, Tanabe mengerahkan kekuatan militer pemerintahan untuk mengatur swasembada pangan pengganti beras. Kapas ditanam untuk tekstil pakaian perang. Yute ditanam untuk karung. Seluruh Bayan diperintahkan menenun.
Kain-kain hasil tenunan dirampas dan disimpan di gudang-gudang khusus berteknologi tinggi yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Sebagian gudang bahkan diyakini berada di bawah laut, baru bisa diakses saat air surut, salah satunya di Sumbawa.
Kapas Lombok, kata Ahmad, menjadi primadona Jepang. “Mereka bawa kapas dari Lombok, dikirim ke Jawa, lalu ke Rangut (Burma), baru ke Jepang. Tidak aman kalau langsung. Ada juga yang lewat Filipina.”
Gudang depo perang itu disebut Nanko. Untuk menggerakkan sistem kerja paksa, Jepang menangkap orang-orang Sasak sebagai pesuruh yang disebut seinendan, oleh warga Gumantar disebut selendang.
Mereka bertugas mengingatkan rakyat agar terus memintal, menenun, menanam, dan memanen kapas.
Ahmad juga menuturkan tentang Batu Gajah, tempat para Nippon berkumpul. Lokasi ini dipercaya sebagai tempat perlindungan spiritual. Jepang, yang menganut spiritualisme dan dinamisme, menghormati tempat itu.
“Di sana Nippon itu kumpul. Itu posmola atau pos jaga, tempat mereka menyusun strategi kekerasan, mengintimidasi, dan menakut-nakuti para pamong. Pos jaga juga dibuat di Dusun Anyar,” katanya.
Fragmen-fragmen sejarah inilah yang dirajut dalam Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala.
Melalui jurnalisme teater hasil liputan mendalam Pikong, fakta-fakta kelam penjajahan Jepang di Tanah Gumantar tidak hanya disajikan sebagai data sejarah, tetapi dihidupkan kembali sebagai pengalaman emosional dan refleksi kolektif.
Naskah ini menjadi ruang ingatan, tempat luka masa lalu dibuka bukan untuk diratapi, melainkan agar dipahami, disadari, dan tak terulang kembali. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































