CERAKEN.ID—Selasa malam, 6 Januari 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB terasa berbeda. Bukan hanya karena kain-kain putih Leang atau Rurup menggantung, mengepung ruang seperti kabut kematian yang sakral, melainkan karena ada sesuatu yang lebih berat mengisi udara: ingatan kolektif yang lama terpendam, kini menemukan tubuhnya kembali di atas panggung.
Hima Sentanu 23 menghadirkan lakon Leang, naskah karya Fitri Rachmawati atau yang akrab disapa Pikong, dengan pendekatan jurnalisme teater. Sebuah pilihan estetik yang tegas sekaligus politis.
Jurnalisme di sini tidak hadir sebagai laporan kering, melainkan sebagai tubuh puitik yang bergerak, bernapas, dan menjerit melalui para penenun perempuan Sasak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pertunjukan jurnalisme teater. Dalam rangka menyuarakan suara masyarakat adat yang tanahnya dicuri dan hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” ujar sutradara Wahyu Kurnia, menegaskan posisi pertunjukan ini sejak awal.
Leang bukan hiburan. Ia adalah pengakuan. Ia adalah gugatan.
Lakon Leang berangkat dari perjalanan enam perempuan penenun di Lombok: Sayurim, Suniklim, Sumirip, Mesih, Singkel, dan Riyane, yang hidupnya berputar seiring derik gentian, alat pemintal benang.
Sejak lahir, tumbuh, menikah, hingga mati, hidup mereka ditautkan pada kapas, benang, jajak, dan berere. Ya, tenun sebagai jalan hidup.
Leang atau Rurup bukan kain biasa. Ia adalah kain kafan. Kain yang sejak awal kehidupan sudah disiapkan untuk kematian.
Dalam kosmologi ini, kematian bukan akhir, melainkan pulang. Maka menenun Leang bukan kerja tangan semata, melainkan laku spiritual: zikir yang dijalankan melalui tubuh.
Hidup mereka berjalan lurus, bukan karena tak ada godaan, melainkan karena tradisi dan doa leluhur memberi kedamaian. Namun kelurusan itu mulai retak ketika sejarah global memasuki kampung mereka.
Penjajahan dan Perampasan yang Tak Pernah Usai
Latar kisah membawa penonton ke masa sebelum dan selama Perang Dunia II. Jepang menguasai Nusantara, termasuk tanah Gumi Paer.
Kerja paksa, Kinrohosi, diberlakukan. Hasil bumi, ternak, dan tenun didata, dirampas, dan dikirim ke Jepang untuk membiayai perang.
Namun lakon ini tidak berhenti pada sejarah kolonial klasik. Justru setelah Jepang angkat kaki, perampasan itu terus berlanjut dengan wajah baru.
Penjajah berganti rupa: pengusaha, industri, pasar, pembangunan, bahkan modernitas itu sendiri.
Tradisi menenun yang sakral berubah menjadi komoditas. Benang pabrikan masuk. Motif dijual. Kekhusukan terganggu. Penenun dipaksa menenun tanpa cinta.
Di sinilah Leang menemukan daya kritiknya. Ia berbicara tentang kolonialisme berlapis, dari kolonialisme militer hingga kolonialisme ekonomi dan budaya. Tentang bagaimana masyarakat adat terus didorong ke pinggir, menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Menariknya, seluruh pusat narasi berada pada tubuh perempuan. Penenun bukan sekadar korban, melainkan penjaga peradaban. Berere, alat tenun yang menyerupai pedang, menjadi metafor kuat: senjata perempuan.
Sayurim, perempuan teguh yang hatinya patah oleh pengkhianatan Radip, adalah potret luka personal yang berkelindan dengan luka kolektif. Suniklim, dengan nyanyian dan kegembiraannya, menghadirkan sisi kehidupan yang tetap ingin tumbuh di tengah tekanan.
Sumirip adalah doa yang berjalan. Mesih adalah ingatan panjang Sejarah: ibu, nenek, penjaga pengetahuan. Riyane adalah perlawanan paling lantang, berdiri sendiri menghadapi traktor dan deru MotoGP. Singkel, yang paling muda, adalah masa depan yang rapuh sekaligus menjanjikan.
Melalui mereka, Leang berbicara tentang perempuan sebagai penjaga tanah, tradisi, dan tubuh sosial. Ketika tanah dirampas, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah tubuh perempuan: rahim, kerja, dan hidup sehari-hari.
Secara artistik, pementasan ini kuat dalam membangun atmosfer ritual. Musik genggong lanang dan wadon, hentakan jajak, kidung Sasak, hingga Kidung Lokok Sebie menciptakan ruang liminal—antara dunia manusia dan dunia leluhur.
Adegan demi adegan tidak bergerak secara linear, melainkan melingkar, seperti gentian yang terus berputar. Waktu melebur.
Masa lalu dan masa kini bertaut. Mesih muda dan Mesih tua bisa hadir bersamaan, menandai bahwa ingatan tidak pernah benar-benar pergi.
Visual kain putih Leang yang menutup, membentang, dan akhirnya diwariskan, menjadi simbol paling kuat: kematian, kesucian, dan keberlanjutan.
Tanah, Industri, dan Tubuh yang Dipaksa Pergi
Babak Riyane adalah salah satu yang paling menghantam. Di hadapan traktor dan deru mesin, ia tetap menenun.
Tubuhnya kecil, tapi keyakinannya tegak. Ia menolak pergi sebelum tenun terakhirnya selesai.
Kalimatnya menggema:
“Mereka boleh merampas tanak tolang papuk baloq kami, tapi mereka tak akan bisa merampas jiwa kami.”
Ini bukan sekadar dialog. Ini adalah pernyataan politik masyarakat adat hari ini: di Lombok, di Indonesia, di mana pun.
Sebagai jurnalisme teater, Leang tidak menawarkan solusi instan. Ia menawarkan kesaksian. Bahwa ada sejarah yang tidak tercatat di buku pelajaran.
Ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Ada suara yang terlalu lama dibungkam.
Teater di sini menjadi medium advokasi. Tubuh aktor menjadi arsip hidup. Panggung menjadi ruang pengadilan sunyi tempat penonton diajak menjadi saksi.
Antusiasme penonton, yang sebagian besar mahasiswa, menjadi penanda penting. Gedung penuh. Tatapan tak lepas. Sunyi di momen-momen sakral. Tepuk tangan panjang di akhir.
Ini pertanda baik bagi ekosistem teater di Mataram dan NTB. Bahwa generasi muda masih mau duduk, menyimak, dan diguncang oleh karya yang tidak ringan.
Para pelakon: Nurul, Nufus, Disan, Hida, Dini, Tia, Fida, Jimy, Heru, Zulni, dan “ditingkahi” kuntril Jepang: Asa, Hizbul, Egyl, Ibnu, Ihsan: berhasil menghidupkan naskah berat ini dengan disiplin dan penghayatan.
Musik (garapan Yuda, Ojan, Rahman, Affan, Iful), perlengkapan (Kartawan), dan kerja kolektif Hima Sentanu 23 terasa matang dan menyatu.
Pada akhirnya, Leang bukan hanya tentang kematian, tetapi tentang cara hidup. Tentang memilih setia pada tanah, pada tradisi, pada nilai meski harus berhadapan dengan kekuasaan yang lebih besar.
Leang atau Rurup adalah kain kafan. Namun di tangan para penenun ini, ia juga menjadi bendera.
Penanda bahwa mereka pernah ada, pernah melawan, dan tidak pernah menyerah sepenuhnya.
Dan teater, malam itu, menjadi ruang pulang bersama. Bagi ingatan, bagi luka, dan bagi harapan yang masih ingin ditenun perlahan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan































