CERAKEN.ID– Pulau Lombok kerap dibaca dari permukaan: pantai yang memesona, Gunung Rinjani yang megah, serta masyarakat Sasak yang dikenal religius dan berbudaya. Namun, jauh sebelum Lombok menjadi destinasi wisata dan entitas administratif modern, pulau ini menyimpan lapisan sejarah peradaban yang sangat tua bahkan mencengangkan.
Asal-usul manusia yang mendiami Lombok, “agaknya”, tidak bisa dilepaskan dari satu temuan arsitektural yang mengusik kesadaran sejarah kita: lumbung Alang.
Ahli arsitektur Setiadi Sopandi menyebutkan bahwa arsitektur lumbung Alang Lombok memiliki usia teknologi sekitar 3.500 SM. Sebuah angka yang, jika benar-benar disadari implikasinya, mengguncang cara kita memandang sejarah peradaban di Nusantara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Temuan ini menegaskan bahwa pada era tersebut, penduduk awal Pulau Lombok telah memiliki sistem teknologi, estetika, dan pengetahuan yang mapan. Sebuah tanda peradaban tinggi (H.L. Agus Fathurrahman dkk., Karakter Orang Sasak, 2023: 11).
Angka 3.500 SM bukan sekadar penanda kronologis. Ia adalah pintu masuk menuju narasi besar tentang migrasi manusia, kosmologi, iman, dan nilai-nilai dasar yang kelak membentuk karakter Orang Sasak hingga hari ini.
Jika ditarik secara linier, era 3.500 SM beririsan dengan masa kehidupan Nabi Nuh AS. Dalam tradisi sejarah dan teologi Islam, Nabi Nuh hidup antara 3.993–3.043 SM, dengan usia mencapai 950 tahun.
Banjir besar, peristiwa yang menjadi poros sejarah umat manusia, terjadi ketika usia Nabi Nuh sekitar 600 tahun. Bahtera Nuh berlayar selama 150 hari sebelum akhirnya terdampar di Bukit Judi, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 44.
Al-Qur’an menegaskan bahwa anak cucu Nabi Nuh adalah mereka yang melanjutkan keturunan umat manusia: “Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan” (QS. Ash-Shaffat [37]: 77). Dari para penyintas inilah manusia menyebar ke seluruh penjuru bumi, melahirkan bangsa-bangsa dan peradaban, termasuk mereka yang kelak menghuni Nusantara (H.L. Agus Fathurrahman dkk., 2023: 12).
Dalam perspektif ini, usia teknologi lumbung Alang Lombok yang mencapai 3.500 SM menemukan resonansi historis dan spiritualnya. Ia seolah menjadi jejak material dari sebuah fase migrasi besar umat manusia pasca-banjir Nuh.
Sebagian keturunan Yafet bin Nuh bergerak ke timur, menjadi nenek moyang bangsa-bangsa Asia Timur, Melayu, dan Asia Tenggara. Sebagian lainnya bergerak ke tenggara menuju kawasan India (H.L. Agus Fathurrahman, Rinjani Perspektif Ekosufisme, 2025: 32).
Lombok, dalam konteks ini, bukan wilayah pinggiran sejarah. Ia adalah simpul penting dalam jalur panjang migrasi dan peradaban manusia.
Lumbung Alang: Perahu, Ingatan, dan Babad
Setiadi Sopandi mencatat satu detail simbolik yang menarik: jika bangunan lumbung Alang dibalik bentuknya, ia menyerupai perahu. Temuan ini tidak berdiri sendiri.
Ia menemukan gema naratifnya dalam Babad Lombok, khususnya mulai Pupuh 61 yang mengisahkan pelayaran Nabi Nuh, pernikahan anak-anaknya, dan secara lebih spesifik Pupuh 176 (puh Dangdang) yang menyinggung figur perempuan keturunan Nuh yang kelak berperan penting dalam sejarah Lombok (H.L. Agus Fathurrahman dkk., 2023: 14).
Perahu, dalam banyak peradaban, bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol keselamatan, transisi, dan kelahiran kembali. Lumbung tempat menyimpan pangan juga bukan sekadar bangunan utilitarian. Ia adalah simbol keberlanjutan hidup.
Ketika bentuk perahu dan lumbung bertaut dalam satu arsitektur, kita seolah membaca pesan bawah sadar peradaban awal Lombok: tentang selamat dari bencana, tentang menyimpan kehidupan, dan tentang keberlanjutan generasi.
Namun, kesadaran atas sejarah panjang ini perlahan memudar. Keterbatasan literasi, ditambah sejarah sosial-politik Lombok yang sarat kekerasan dan penindasan, membuat kekuatan sosial-politik Orang Sasak seakan “ditenggelamkan” ke dalam tanah (H.L. Agus Fathurrahman, 2025: 31). Yang tersisa sering kali hanya serpihan mitos tanpa kerangka pemahaman historis yang utuh.
Dalam ingatan kolektif Orang Sasak, nama Dewi Anjani menempati posisi sentral. Ia diyakini sebagai nenek moyang Orang Sasak yang hingga kini “bersemayam” di Gunung Rinjani, mengawasi perilaku anak cucunya dalam mengelola alam. Ia dapat menampakkan diri dalam sosok manusia dan, bagi sebagian komunitas Sasak, dapat diajak berkomunikasi melalui situs-situs tertentu (H.L. Agus Fathurrahman, 2025: 77–78).
Namun, pemaknaan terhadap Dewi Anjani kerap terdistorsi. Dalam penjelasan H.L. Agus Fathurrahman dkk. (2023: 15), Dewi Anjani bukanlah Raja Jin, bukan pula anak raja lokal sebagaimana banyak berkembang dalam cerita populer. Ia adalah nenek moyang genealogis pertama yang mendiami Pulau Lombok: seorang perempuan keturunan Nabi Nuh, generasi Amur bin Yafet bin Nuh, yang diselamatkan Allah dalam perahu dan masih memelihara ajaran tauhid Nabi Nuh AS.
Kepercayaan-kepercayaan non-tauhid yang kemudian muncul dalam masyarakat Sasak dipahami sebagai hasil interaksi dan migrasi bangsa-bangsa lain pada era berikutnya. Dengan demikian, figur Dewi Anjani justru merepresentasikan jembatan antara iman tauhid purba dan ekspresi budaya lokal Sasak.
Sistem Nilai Sasak: Fondasi yang Bertahan Ribuan Tahun
Jejak peradaban tua itu tidak hanya tersisa dalam arsitektur dan mitologi, tetapi juga dalam sistem nilai yang hidup hingga kini. Budaya Sasak dibingkai oleh tiga lapisan nilai: Nilai Dasar, Nilai Penyangga, dan Nilai Kualitatif (H.L. Agus Fathurrahman dkk., 2023: 22–23).
Nilai Dasar masyarakat Sasak adalah tindih, sebuah konsep yang lahir dari iman tauhid. Tindih bermakna komitmen dan konsistensi dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan, selaras dengan konsep istiqamah. Ia juga mengandung kesadaran amanah kemanusiaan: menjaga martabat diri sebagai makhluk ciptaan paling sempurna.
Nilai ini tidak berdiri sendiri. Ia dibentengi oleh Sistem Nilai Penyangga, yakni:
- Maliq, kesadaran untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak tatanan kehidupan dan merendahkan martabat manusia.
- Merang, kegelisahan batin dan keberanian moral ketika melihat pelanggaran terhadap kebenaran dan kebaikan.
- Pemole, sikap memuliakan sesama makhluk Tuhan sebagai bentuk tanggung jawab spiritual.
- Semaiq, prinsip secukupnya, tidak berlebihan, moderat, dan seimbang dalam bersikap.
Dari nilai dasar dan penyangga inilah lahir Nilai Kualitatif, yakni standar universal untuk menilai kebenaran (logis), kebaikan (etis), dan keindahan (estetis). Ketiganya terdistribusi dalam seluruh aspek ekspresi budaya Sasak: dari ritual, pergaulan, pakaian, hingga pangan.
Pandangan hidup Orang Sasak dirangkum dalam satu frasa kunci: Idup Sopoq (hidup satu). Seluruh kehidupan di dunia, apa pun wujudnya, adalah satu kesatuan ciptaan Allah yang berasal dari sumber yang sama: Nur Muhammad (H.L. Agus Fathurrahman dkk., 2023: 28).
Pandangan ini menegaskan bahwa manusia, tanah, hewan, dan tumbuhan adalah satu kesatuan eksistensial. Semuanya bersaudara. Inilah refleksi ekologis dari tauhid: kesatuan Tuhan tercermin dalam kesatuan ciptaan (H.L. Agus Fathurrahman, 2025: 9). Dalam konteks krisis lingkungan global hari ini, pandangan hidup ini terasa sangat relevan bahkan visioner.
Karena itu, Orang Sasak tidak ditentukan oleh bahasa atau pakaian adat semata. Ia ditentukan oleh internalisasi lima nilai dasar: tindih, maliq, merang, pemole, dan semaiq (H.L. Agus Fathurrahman, 2025: 36–37). Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter, etika, dan cara pandang terhadap dunia.
Membaca ulang asal-usul manusia Lombok, lumbung Alang, Nabi Nuh, Dewi Anjani, hingga sistem nilai Sasak, sejatinya adalah upaya membongkar ingatan peradaban yang lama tertimbun. Lombok bukan hanya ruang geografis, melainkan ruang spiritual dan kultural yang menyimpan warisan besar umat manusia.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Orang Sasak memiliki sejarah panjang, melainkan: sejauh mana sejarah itu dihidupkan kembali sebagai kesadaran, bukan sekadar cerita. Sebab, di sanalah masa depan Lombok dan kemanusiaan dipertaruhkan. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































