Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Sibawahi (kiri). Di sinilah perbedaan antara performing art dan performance art menjadi penting (Foto: aks)

Muhammad Sibawahi (kiri). Di sinilah perbedaan antara performing art dan performance art menjadi penting (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Sore itu, Senin 19 Januari 2026, pukul 16.11 Wita, Galeri Taman Budaya NTB tidak sepenuhnya sunyi. Ada lalu-lalang pengunjung pameran, suara langkah yang beradu dengan lantai, serta jejak aroma ruang pamer yang masih menyimpan sisa-sisa peristiwa artistik.

Di salah satu sudut galeri, Muhammad Sibawahi, kurator Pameran Belian, duduk dengan gestur tenang, namun tutur katanya berlapis-lapis.

Dari percakapan dengannya, perlahan terbuka satu peta pemikiran: Belian tidak sekadar ritual penyembuhan, tetapi sebuah sistem pengetahuan yang bekerja melalui media, mantra, dan performativitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagaimana diberitakan ceraken.id pada 11 Januari 2026, dalam satu tahun terakhir Sibawahi memang memfokuskan risetnya pada tiga pintu utama tersebut.

Namun pertemuan sore itu memperlihatkan bahwa tiga pintu itu bukanlah lorong-lorong terpisah, melainkan saling berkelindan, saling menjelaskan, dan saling menguatkan.

Belian, dalam kerangka yang ditawarkan Sibawahi, adalah sebuah dunia yang bergerak. Hidup di antara praktik keseharian, keyakinan, dan kesadaran artistik.

Awalnya, riset Belian berangkat dari penelitian antropologi. Namun, seperti diakuinya, titik belok muncul ketika ia menyadari konteks komunitas Pasirputih yang bergerak di ranah seni.

“Aku berpikir, materi apa yang bisa diambil untuk diaplikasikan di ranah seni,” ujarnya.

Dari pertanyaan itulah lahir keputusan metodologis yang krusial: memilih medium, mantra, dan performativitas sebagai pintu masuk.

Pilihan ini sekaligus menandai pergeseran perspektif. Belian tidak lagi dibaca semata sebagai objek kajian antropologi yang sering kali berhenti pada deskripsi ritual, melainkan sebagai sumber pengetahuan estetika dan praksis artistik.

Di sinilah pameran menjadi ruang terjemahan: bagaimana pengetahuan lokal dialihwahanakan ke dalam bahasa seni rupa dan seni performans.

Pintu pertama yang dibuka adalah medium. Dalam praktik belian, medium pengobatan bukan benda netral. Airkah, bungakah, kembang-kembang, minyak, dan berbagai unsur lain hadir karena relasi.

“Medium itu bisa hadir berarti ada relasi,” kata Sibawahi.

Relasi antara belian dengan ruang sekitarnya, dengan alam, dengan pasien, bahkan dengan situasi batin dirinya sendiri.

Relasi inilah yang oleh Sibawahi dibaca sebagai “estetika rasional”, bukan rasional dalam pengertian modern yang kering, melainkan rasionalitas relasional. Estetika lahir bukan dari bentuk semata, tetapi dari hubungan yang terus-menerus dinegosiasikan.

“Ini lebih dekat tergambar dari karya Radek yang bermain dalam politik representasi keseharian yang menggambarkan relasi belian dengan lingkungan di sekitarnya,” ujar Sibawahi.

Dalam konteks seni rupa, pemahaman ini membuka kemungkinan medium sebagai sesuatu yang hidup, bukan sekadar material.

Pameran Belian memperlihatkan bagaimana gagasan ini diterjemahkan. Instalasi Ramuan Minyak karya Abdul Haris dan Sekambuh karya Muhammad Gozali menjadi representasi konkret. Medium tidak dipamerkan sebagai artefak mati, tetapi sebagai simpul relasi.

Baca Juga :  Saksak Dance Production: Menggali Akar, Menoreh Jiwa, Menantang Zaman

Sementara itu, karya S La Radek (Saling Gitaq, akrilik di atas kanvas) membaca relasi tersebut secara simbolik, menghadirkan medium sebagai medan makna.

Pintu kedua adalah mantra. Dalam praktik belian, mantra merupakan inti, tetapi sekaligus problematis.

“Mantranya itu sendiri sebenarnya kita tidak dapatkan secara utuh,” ujar Sibawahi sambil tertawa kecil.

Mantra bersifat lisan, tersembunyi, dan tidak selalu bisa dipindahkan begitu saja ke ruang pamer. Jika dilafalkan mentah-mentah, ia justru kehilangan daya dan terasa janggal.

Menurut Sibawahi, mantra hadir dalam dua pendekatan. Pertama, pendekatan rupa di mana mantra tertuang dalam bentuk simbol, huruf angka yang divisualkan dalam bentuk rajah di karya Gozali.

Kedua, dalam bentuk susunan atau komposisi bunyi di karya Ronieste “Dwell in Resonance”: di mana ia menyusun ragam jenis rekaman audio yang kemudian disusun dengan teknik tertentu untuk menciptakan efek getaran kepada penonton.

Di sini, rekaman sehari-hari disusun sedemikian rupa menjadi serangkaian bunyi yang  dapat menciptakan daya atau kekuatan magis.

Dengan demikian, seni rupa berfungsi sebagai jembatan: bukan menyalin mantra, tetapi mengartikulasikan spiritnya.

Menariknya, dari pemeriksaan rajah-rajah itu, dapat dilacak asal-usul mantra, ada yang berakar dari Arab, ada pula dari Sanskerta, menandakan lapisan sejarah dan pertemuan budaya yang panjang dalam praktik belian.

Pintu ketiga, dan barangkali yang paling kompleks, adalah performativitas. Sibawahi mengakui bahwa pembacaan terhadap performance di Indonesia masih terus berlangsung dan kerap bias.

“Performance sering dimaknai secara berbeda oleh banyak kalangan. Kadang penerjemahannya bisa menjadi sangat bias. Sebagian memaknai performance sebagai sebuah bentuk pertunjukan panggung, sementara yang lain memahaminya sebagai sebuah tindakan, laku,  peristiwa, atau penebalan makna atas sebuah peristiwa,” jelas Sibawahi.

Di sinilah perbedaan antara performing art dan performance art menjadi penting. Performing art adalah pertunjukan yang relatif satu arah, di atas panggung, memiliki hajat untuk ditampilkan.

Performance art, sebaliknya, kerap terjadi di luar panggung, berkelindan dengan penonton, masyarakat, dan realitas sehari-hari. Banyak karya yang disebut performance, menurut Sibawahi, sebenarnya masih berada di wilayah performing.

Dalam membaca performativitas belian, Sibawahi menempuh jalan etimologis dan konseptual. Dari perform, to perform, performance, hingga performativity: istilah-istilah ini dalam ilmu sosial digunakan untuk menjelaskan fenomena yang berbeda.

Performance, dalam kerangka studi performance, berkaitan dengan dua hal: bagaimana orang bertindak dan bagaimana orang menampilkan tindakan.

Dari sini, Sibawahi mengajukan satu definisi kunci: performance sebagai tindakan bermakna. Tidak semua tindakan adalah performance dalam pengertian ini.

Tindakan menjadi performance ketika dilakukan dengan kesadaran penuh dan memiliki muatan keberulangan (continuity). Pengulangan inilah yang membentuk makna, identitas, dan pada akhirnya realitas sosial.

Baca Juga :  Jurnalisme Teater, Ingatan Kolonial, dan Perlawanan Budaya Masyarakat Adat Gumantar

Ia memberi contoh dari konsep gender. Identitas perempuan terbentuk melalui pengulangan tindakan sosial yang Panjang: cara berpakaian, peran domestik, simbol-simbol tertentu, hingga akhirnya diterima sebagai “alamiah”.

Performativity bekerja melalui repetisi, hingga sesuatu yang awalnya konstruksi sosial tampak sebagai kenyataan.

Kerangka ini kemudian diterapkan pada belian. Jika dalam dunia medis modern kita mengenal prosedur injeksi dan standar klinis, maka dalam belian juga ada prosedur, meski sering tidak dikenali sebagai bagian dari pengobatan.

Contoh sederhana yang ia angkat: belian yang harus minum kopi dan mamaq (mengunyah sirih pinang) sebelum mengobati pasien. Tindakan ini bukan kebiasaan remeh, melainkan bagian dari ritual.

Tanpa kopi, ia tidak bisa berkonsentrasi. Maka minum kopi adalah tindakan bermakna yang memengaruhi proses pengobatan.

Dengan demikian, performativitas belian mencakup seluruh rangkaian tindakan, bukan hanya momen puncak penyembuhan. Ketika tindakan-tindakan ini diulang dan diakui masyarakat, ia membentuk paradigma tentang apa itu pengobatan.

Belian menciptakan realitas, dan pada saat yang sama dipengaruhi oleh realitas yang ia ciptakan. Sebuah dialektika yang oleh Sibawahi dibaca sebagai model for reality dan model of reality.

Di titik ini, ia mengutip Clifford Geertz: manusia begitu lekat dengan tempat, identitas, dan keyakinannya, sehingga tidak dapat dipisahkan dari semua itu.

Tindakan spesifik belian tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami kesehatan, sakit, dan kesembuhan.

Jika menelusuri study performance, lanjut Sibawahi, kita akan menemukan penggunaan isitilah performatif yang awalnya diperkenalkan oleh  Austin  (1955) dalam karyanya How to Do Things with Words (1955), yang kemudian dikenal sebagai awal dari Speech Act Theory.

Austin menggunakan istilah performatif untuk menjelaskan jenis tuturan yang tidak hanya menggambarkan sesuatu, tetapi sekaligus melakukan sesuatu.

“Sejak itu, pemikiran tentang performance terus berkembang hingga hari ini,” kata Sibawahi.

Inilah yang membuatnya berani melakukan performance membuat minyak ramuan obat di akhir pameran. Tindakan itu bukan simulasi, melainkan peristiwa bermakna yang berkelindan dengan realitas, keyakinan, dan kesadaran pelaku.

“Jadi aku cukup yakin mengatakan ini adalah performance,” tutupnya.

Dari keseluruhan percakapan itu, tampak bahwa Pameran Belian bukan sekadar ajang display karya.

Ia adalah ruang baca, ruang uji, sekaligus ruang negosiasi antara pengetahuan tradisional dan praksis seni kontemporer.

Tiga pintu: media, mantra, dan performativitas, membuka cara pandang baru: belian sebagai sistem pengetahuan yang kompleks, dinamis, dan terus menciptakan kejutan bagi siapa pun yang bersedia membaca lebih dalam.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang
Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA