Menangkap Nafas Sawah Lombok dari Langit: Diskusi Karya Kim Dong Pil Bersama Mandalika Art Community

Minggu, 8 Februari 2026 - 23:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bagi Kim Dong Pil (tengah) sendiri, perjalanan visualnya di Lombok tampaknya belum  selesai (Foto: aks)

Bagi Kim Dong Pil (tengah) sendiri, perjalanan visualnya di Lombok tampaknya belum selesai (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Ruang pamer Rplay Lombok kembali menjadi ruang perjumpaan lintas budaya ketika drone photographer asal Ulsan, Korea Selatan, Kim Dong Pil, menggelar sesi “Diskusi Karya” bersama komunitas Mandalika Art Community (MAC), Minggu (8/2/2026).

Pertemuan ini menjadi kelanjutan dialog sebelumnya, sekaligus memperdalam pertukaran perspektif antara seniman visual internasional dengan para perupa dan akademisi lokal Lombok.

Diskusi tersebut tidak sekadar membicarakan teknik fotografi udara, melainkan juga membuka pembahasan tentang bagaimana bentang alam, budaya, dan kehidupan masyarakat dapat terbaca melalui citra yang diambil dari ketinggian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sawah Lombok, yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, justru tampil sebagai objek estetika baru ketika dilihat melalui sudut pandang udara.

Lombok di Mata Fotografer Drone

Dalam sesi diskusi, Kim Dong Pil kembali mengungkapkan kekagumannya terhadap karakter pesawahan di Lombok yang menurutnya memiliki keunikan dibandingkan sawah di negara asalnya, Korea Selatan.

Menurutnya, sawah bukan sekadar lahan pertanian, melainkan ruang hidup yang menopang kehidupan masyarakat. Di Lombok, sawah terlihat hidup, bertumbuh, sekaligus menjadi sumber kesejahteraan warga.

Ia menyampaikan bahwa sejak pertama kali memotret Lombok, pesawahan menjadi objek favoritnya. Baginya, keindahan visual sawah Lombok bukan hanya soal bentuk, tetapi juga keberagaman warna serta dinamika kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

Kim Dong Pil menjelaskan bahwa sawah di Korea Selatan cenderung berbentuk lurus dan seragam. Karena proses penanaman dilakukan secara serentak, maka warna yang terlihat dari udara pun relatif sama. Hal ini membuat foto yang dihasilkan kurang menunjukkan dinamika visual.

Sebaliknya, sawah Lombok memiliki kontur yang meliuk-liuk mengikuti bentuk perbukitan, menyerupai tangga alam.

Selain itu, perbedaan waktu tanam di tiap wilayah menciptakan variasi warna yang kaya: mulai dari hijau muda, hijau tua, kuning keemasan, hingga warna tanah setelah panen atau pembakaran sisa jerami. Variasi ini menciptakan komposisi visual yang jauh lebih menarik ketika diabadikan dari udara.

“Di Lombok kita bisa melihat sawah yang baru ditanam, yang sedang tumbuh, yang sudah panen, bahkan yang sudah dibakar. Saat difoto, semua menjadi perpaduan warna yang indah,” ujarnya.

Dari Kamera Biasa ke Langit

Menariknya, fotografi drone bukanlah pilihan awal dalam perjalanan karier Kim Dong Pil.

Ia mengawali minat fotografi menggunakan kamera konvensional sebelum kemudian teknologi drone berkembang pesat sekitar tahun 2015, saat dirinya masih menempuh pendidikan fotografi di perguruan tinggi.

Kehadiran drone membuka kemungkinan baru dalam cara memandang lanskap. Ia membayangkan dirinya bisa “terbang” sembari memotret, melihat bumi dari sudut pandang yang tidak biasa.

Baca Juga :  Menjaga Gerimis di Atas Bukit Gumise

Sejak saat itu, fotografi udara menjadi jalur ekspresi utamanya. Ia menilai karya fotografi drone memiliki kekuatan artistik yang setara dengan karya seni lukis, karena sama-sama menghadirkan interpretasi visual atas realitas.

Pernyataan ini mendapat sambutan hangat dari anggota MAC, yang sebagian besar adalah perupa dan seniman visual. Diskusi pun berkembang menjadi dialog lintas medium seni, antara fotografi dan seni rupa.

Kurator Kim Dong Pil, Mr Hong, turut memperkaya diskusi dengan perspektif kuratorial. Ia melihat sawah Lombok sebagai representasi kehidupan masyarakatnya.

Baginya, sawah tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mencerminkan hubungan manusia dengan alam, tradisi, serta sistem sosial yang membentuk kehidupan agraris masyarakat.

Ia berharap, melalui kerja sama dengan komunitas MAC, eksplorasi ke depan tidak hanya berhenti pada keindahan visual, tetapi juga menyentuh aspek budaya dan tradisi yang melingkupi pertanian di Lombok.

Ketua MAC, Lalu Syaukani, kemudian mengangkat pertanyaan mengenai perbandingan sawah Lombok dengan Bali, dua pulau yang sama-sama dikenal memiliki bentang alam pertanian yang indah.

Menjawab pertanyaan tersebut, Kim Dong Pil mengakui bahwa ia telah cukup sering mengunjungi kedua wilayah tersebut, meskipun belum melakukan eksplorasi mendalam terhadap konteks budayanya.

Namun secara visual, ia menilai sawah Lombok memiliki garis batas yang lebih bergelombang dan variasi warna yang lebih kaya. Hal itu membuat foto yang dihasilkan terasa lebih dinamis.

Ia juga menyadari bahwa untuk memahami lanskap secara lebih utuh, ia perlu mempelajari kehidupan masyarakat serta budaya lokal yang melatarbelakanginya.

Pertemuan ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi jembatan perjumpaan antarbudaya (Foto: ceraken.id_
Perspektif Orang Lokal terhadap Lanskap

Mr Hong menambahkan bahwa meskipun Kim Dong Pil telah berkeliling dunia, ia menemukan sesuatu yang khas di Lombok: bentang sawah luas yang menyatu dengan perbukitan alami.

Ia mencontohkan kawasan Sengkol, Lombok Timur, di mana bukit-bukit kecil menyatu secara natural dengan area persawahan. Lanskap tersebut menciptakan panorama unik yang jarang ditemui di tempat lain.

Namun, diskusi kemudian mengarah pada perspektif yang lebih dalam ketika akademisi sekaligus kurator MAC, Sasih Gunalan, memberikan catatan penting.

Ia menegaskan bahwa apa yang terlihat indah secara visual hanyalah bagian luar dari sistem budaya yang jauh lebih kompleks.

Menurutnya, bentuk sawah di Lombok tidak hanya ditentukan oleh kondisi geografis, tetapi juga oleh filosofi dan adat yang berlaku di tiap wilayah.

Ia merekomendasikan kawasan Bayan di Lombok Utara sebagai contoh wilayah yang mempertahankan keterkaitan kuat antara sawah, adat, dan ritual.

Di sana, pengelolaan sawah masih berkaitan erat dengan prosesi adat, termasuk ritual meminta izin kepada leluhur sebelum mengolah tanah.

Nilai-nilai ini, menurut Sasih, penting untuk dipahami oleh fotografer agar karya yang dihasilkan tidak hanya indah, tetapi juga bermakna.

Baca Juga :  Tenun Bayan: Identitas, Ritual, dan Pengetahuan yang Dijaga Waktu
Perspektif Ketinggian dalam Fotografi

Diskusi kemudian bergeser ke aspek teknis fotografi ketika pengajar dan perupa MAC, Lalu Arif Budiman, menanyakan perbedaan hasil foto berdasarkan ketinggian drone.

Kim Dong Pil menjelaskan bahwa ketinggian menentukan jenis informasi visual yang dapat ditangkap.

Pada ketinggian rendah, aktivitas manusia masih terlihat jelas. Namun ketika drone naik hingga 100 meter atau lebih, detail manusia menghilang dan yang tersisa hanyalah pola serta warna lanskap.

Kurator Mr Hong menambahkan bahwa ia secara pribadi lebih tertarik pada foto yang masih menampilkan aktivitas manusia, seperti karya Kim Dong Pil di Tetebatu, Lombok Timur, di mana kehidupan petani masih terlihat dalam komposisi visual.

Menariknya, apa yang disampaikan Mr Hong tersebut, hampir senada diuraikan Agus Setiadi, perupa MAC yang awalnya “berkarir” dengan teknik air brush sebelum beralih ke kanvas.

Sawah sebagai Inspirasi Bersama

Diskusi menjadi semakin personal ketika pengajar dan perupa MAC, I Nyoman Sandiya, mengungkapkan bahwa sebagian besar inspirasi karya lukisnya juga berasal dari sawah, atau dalam bahasa Sasak disebut “bangket”.

Ia kemudian bertanya tentang kondisi persawahan di Korea Selatan saat ini.

Kim Dong Pil menjawab bahwa area persawahan di negaranya semakin berkurang, terutama di wilayah perkotaan yang kini dipenuhi gedung dan infrastruktur modern. Sawah kini hanya tersisa di pedesaan.

Pernyataan ini menjadi refleksi bagi peserta diskusi tentang pentingnya menjaga ruang agraris sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus keberlanjutan lingkungan.

Akhirnya, pertemuan di Rplay Lombok menunjukkan bahwa seni dapat menjadi jembatan perjumpaan antarbudaya.

Fotografi drone Kim Dong Pil membuka cara baru memandang lanskap Lombok, sementara komunitas lokal menawarkan pemahaman mendalam tentang nilai budaya yang tersembunyi di balik pemandangan tersebut.

Diskusi tersebut juga membuka peluang kolaborasi lebih lanjut antara seniman internasional dan komunitas seni lokal untuk mengeksplorasi Lombok bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang budaya yang hidup.

Bagi Kim Dong Pil sendiri, perjalanan visualnya di Lombok tampaknya belum selesai. Ia masih ingin menemukan lokasi-lokasi terpencil yang hanya diketahui masyarakat lokal, serta memahami budaya yang membentuk lanskap yang selama ini ia potret.

Dari langit, sawah mungkin hanya tampak sebagai pola dan warna.

Namun melalui dialog seperti ini, terlihat bahwa setiap petak sawah menyimpan cerita panjang tentang kehidupan, tradisi, dan hubungan manusia dengan alam: cerita yang kini mulai diterjemahkan ke dalam bahasa visual melalui kamera yang terbang di atasnya. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB
Parewa Kamutar dan Jejak Kesultanan Sumbawa di Museum NTB
Museum NTB dan Jejak Kesultanan Bima: Merawat Ingatan Sejarah untuk Masa Depan Daerah
Dari Tradisi Lokal Menuju Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Museum Desa, Menghidupkan Sejarah dari Kampung untuk Dunia
Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:28 WITA

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sabtu, 14 Februari 2026 - 07:25 WITA

Menjaga Warisan, Menata Masa Depan: Mendesak Reformasi Pendanaan dan Tata Kelola Cagar Budaya di NTB

Jumat, 13 Februari 2026 - 08:27 WITA

Parewa Kamutar dan Jejak Kesultanan Sumbawa di Museum NTB

Kamis, 12 Februari 2026 - 08:42 WITA

Museum NTB dan Jejak Kesultanan Bima: Merawat Ingatan Sejarah untuk Masa Depan Daerah

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:17 WITA

Dari Tradisi Lokal Menuju Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Berita Terbaru

Puisi-puisi tersebut tidak mencoba menjadi rumit, tetapi mampu menyampaikan rasa secara langsung. Dari kesederhanaan itu, pembaca menemukan kedalaman makna (Foto: aks/ceraken,id)

BEDAH BUKU

Menyusuri Utara, Menemukan Kembali Jejak Persahabatan dan Puisi

Sabtu, 14 Feb 2026 - 21:17 WITA

BUDAYA

Menyigi Jejak Peradaban di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:28 WITA

Pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari hubungan kemanusiaan yang hangat antara pemimpin dan mereka yang bekerja di lapangan (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Satgas Bencana dan Semangat Kebersamaan di Jantung Kota Mataram

Jumat, 13 Feb 2026 - 19:59 WITA