CERAKEN.ID– Di tengah derasnya arus globalisasi dan pragmatisme sosial yang kian menekan nilai-nilai lokal, sebuah buku hadir sebagai pengingat sekaligus penanda arah. Buku berjudul Karakter Orang Sasak: Perkawinan Naskah Jatiswara dengan Naskah Rengganis karya Prof. Dr. H. Nuriadi, SS., M.Hum., Muh. Syahrul Qodri, M.A., dan H. L. Agus Fathurrahman, yang diterbitkan Pustaka Bangsa pada 7 September 2023, bukan sekadar karya akademik.
Ia adalah ikhtiar kultural. Bahkan bisa disebut “seruan sunyi” untuk mengembalikan masyarakat Sasak pada cermin nilai yang sejak lama mereka miliki.
Dengan ketebalan 170 halaman + xxxviii halaman pengantar, berdimensi 15 x 23 cm, buku ini menempati posisi penting dalam khazanah kajian sastra dan budaya Sasak. Ia menjembatani teks klasik dengan realitas kontemporer, mengawinkan dua naskah popular, Jatiswara dan Rengganis, untuk merumuskan kembali karakter ideal orang Sasak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak lama, naskah Jatiswara dan Rengganis hidup dalam tradisi paosan. Dibaca dan dipentaskan dalam acara adat, ritual, dan ruang-ruang kebudayaan masyarakat Sasak.
Popularitas kedua naskah ini bukan kebetulan. Seperti ditegaskan para penulis dalam kata pengantar, tokoh Jatiswara dan Rengganis telah menjadi patokan moral tentang bagaimana manusia Sasak seharusnya bersikap dan bertindak.
Kedua tokoh ini bukan sekadar figur sastra, melainkan personifikasi nilai. Mereka menjadi rujukan etika hidup, model karakter, dan simbol keseimbangan manusia.
Melalui kajian yang mendalam, buku ini menegaskan bahwa sastra tradisional Sasak bukan hanya arsip masa lalu, melainkan sumber nilai yang relevan untuk masa kini.
Maskulinitas dan Feminitas yang Melampaui Sekat
Salah satu kontribusi paling menarik dari buku ini adalah pembongkaran pandangan umum tentang gender.
Dalam narasi dominan, laki-laki sering dilekatkan pada maskulinitas, sementara perempuan pada femininitas. Namun, Jatiswara dan Rengganis justru menunjukkan hal yang lebih cair dan berimbang.
Dalam diri Jatiswara, muncul sifat-sifat yang lazim disebut feminin: empati, kelembutan, kemampuan mengurus urusan domestik, dan kehati-hatian. Sebaliknya, Rengganis tampil dengan keberanian, ketegasan, penguasaan ilmu perang, dan strategi: sifat yang kerap dicap maskulin.
Tetapi kedua tokoh ini tidak terjebak dalam dikotomi tersebut. Mereka saling melampaui.
Pesan yang ingin ditegaskan buku ini jelas: orang Sasak ideal adalah mereka yang memiliki karakter kebapakan dan keibuan sekaligus.
Lemah lembut namun tegas, kalem namun berani, piawai di ranah domestik sekaligus cakap di ruang public bahkan politik. Perspektif ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender telah lama hidup dalam pandangan budaya Sasak, jauh sebelum wacana modern mengenalnya.
Membaca Tabel Karakter: Etika yang Terstruktur
Salah satu bagian penting buku ini adalah Tabel 2 (halaman 56) yang merinci perilaku Jatiswara dan Rengganis. Tabel ini bukan sekadar perbandingan tokoh, melainkan peta nilai pembentuk karakter.
Misalnya, pengembaraan Jatiswara demi tanggung jawab pada saudaranya dan pengembaraan Rengganis karena tanggung jawab moral terhadap orang yang jatuh cinta padanya sama-sama berakar pada nilai keberanian, kehati-hatian, dan tanggung jawab. Perbedaan cara tidak menghapus kesamaan nilai.
Begitu pula pada aspek kasih sayang, kemandirian, kesatria, kesederhanaan, egalitarianisme, hingga rendah hati dan percaya diri. Dengan pendekatan ini, buku tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak tunggal, tetapi kontekstual, dibentuk oleh situasi dan pilihan etis yang diambil.
Kata pengantar ahli dari Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. mempertegas posisi metodologis buku ini. Perspektif antroposastra bandingan kreatif menjadi andalan utama. Sastra bandingan tidak diperlakukan sebagai pendekatan kaku, melainkan ruang cair yang memberi kebebasan intelektual bagi pengkaji untuk berkreasi secara cerdas.
Dengan membandingkan Jatiswara dan Rengganis, penulis tidak sekadar mencari persamaan dan perbedaan teks, tetapi menggali ideologi bersama, terutama gagasan tentang etika hidup. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan filologis, antropologis, sekaligus reseptif, membuka ruang dialog antara teks, budaya, dan pembaca masa kini.
Bagian reflektif buku ini terasa semakin relevan ketika penulis menyoroti fenomena sosial masyarakat Sasak hari ini.
Banyak indikasi menunjukkan bahwa nilai budaya mulai ditinggalkan. Figur-figur berpengaruh justru sering menjadi contoh yang menjauh dari etika tradisional, lalu perilaku tersebut menyebar seperti virus sosial.
Alasan yang kerap muncul adalah pencarian model yang praktis: cepat, instan, dan dianggap relevan dengan zaman. Namun, buku ini dengan tegas menyatakan bahwa kepraktisan tanpa nilai hanya akan melahirkan kekosongan karakter.
Karakter Sasak sejati, sebagaimana dirumuskan dalam buku ini, harus diuji secara metodologis melalui struktur nilai, bukan sekadar perilaku permukaan.
Buku ini merumuskan karakter orang Sasak melalui empat pilar nilai penyangga: maliq, merang, pemole, dan semaiq, dengan tindih sebagai nilai dasar.
Karakter utama yang lahir dari struktur ini antara lain:
- Tegas dan bertanggung jawab
- Mengutamakan kesederhanaan
- Menghargai ilmu dan orang berilmu
- Kesatria
- Rasa persaudaraan yang tinggi
Nilai-nilai tersebut kemudian dipertegas dengan kualitas seperti onyaq-onyaq (hati-hati), wanen (berani), trasne (kasih sayang), predate (sopan), nyandang (sederhana), hingga ngasor (rendah hati). Di sinilah terlihat bahwa karakter Sasak bukan slogan, melainkan sistem nilai yang teruji dan saling menopang.
Buku ini tidak berhenti pada analisis. Ia menawarkan langkah konkret berupa reenkulturasi, pembudayaan kembali nilai Sasak melalui literasi dan revitalisasi budaya.
Usulan kegiatan seperti lomba resensi buku kebudayaan, penulisan ulang naskah Jatiswara dan Rengganis, festival seni berbasis naskah, hingga pemilihan Teruna Jatiswara dan Dedare Rengganis menunjukkan orientasi praktis buku ini.
Nilai-nilai tidak cukup disimpan di rak perpustakaan. Ia harus dihidupkan, dirayakan, dan dipraktikkan di ruang publik.
Pada akhirnya, Karakter Orang Sasak: Perkawinan Naskah Jatiswara dengan Naskah Rengganis adalah cermin sekaligus kompas. Ia memantulkan siapa orang Sasak sesungguhnya, sekaligus menunjukkan ke mana seharusnya melangkah.
Di tengah dunia yang kian bising oleh nilai instan, buku ini menawarkan ketenangan: bahwa masyarakat Sasak telah lama memiliki fondasi karakter yang egaliter, beradab, dan manusiawi.
Tinggal satu pertanyaan yang tersisa: apakah kita bersedia kembali belajar dari teks, tokoh, dan nilai yang telah diwariskan?
Buku ini menjawab dengan keyakinan: ya, jika mau membaca kembali diri sendiri melalui sastra dan budaya. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































