Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hentakan kaki bukan sekadar gerak, melainkan pernyataan: bahwa teater dimulai dari tubuh yang sadar, dari energi yang disimpan dan dilepaskan dengan penuh tanggung jawab (Foto: aks)

Hentakan kaki bukan sekadar gerak, melainkan pernyataan: bahwa teater dimulai dari tubuh yang sadar, dari energi yang disimpan dan dilepaskan dengan penuh tanggung jawab (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Di sebuah ruang latihan yang tak pernah benar-benar sunyi, beberapa tubuh berdiri tegak, kaki menghunjam lantai dengan hentakan terukur. Nafas tertahan, lalu dilepaskan perlahan.

Tidak ada dialog, tidak ada gestur berlebihan. Yang terdengar hanya bunyi “kaki berkaos” bertemu lantai, ritme yang berulang, dan energi yang bergerak dari bawah pusar ke seluruh tubuh.

Di ruang itulah, di Jalan Sultan Salahudin, Tj. Karang, Sekarbela, Mataram, beberapa kawan dari Lampak(q) Art Community (LAC) sedang menjalani latihan teater dengan Metode Suzuki, sebuah pendekatan yang menempatkan tubuh aktor sebagai pusat utama penciptaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Latihan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua LAC, Wahyu Kurnia. Dengan suara tenang namun tegas, ia memandu setiap gerak, memastikan kaki menapak kuat, postur tidak goyah, dan konsentrasi tetap terjaga.

“Metode Suzuki dikembangkan oleh Tadashi Suzuki, sekaligus pendiri Suzuki Company of Toga (SCOT) Jepang,” ujar Wahyu, membuka penjelasan di sela latihan.

Pernyataan itu bukan sekadar pengantar teoritik, melainkan penanda garis silsilah pengetahuan yang tengah mereka praktikkan. Sebuah metode yang telah berkeliling dunia dan kini menemukan ruang hidupnya di Lombok.

Di Indonesia, Metode Suzuki tidak diajarkan secara serampangan. Lisensi pengajaran resmi diberikan langsung oleh SCOT kepada Bumi Purnati Indonesia, sebuah rumah produksi seni independen yang didirikan oleh Restu Imansari Kusmaningrum.

Jalur resmi ini menegaskan bahwa Metode Suzuki bukan sekadar teknik fisik, melainkan sistem pengetahuan yang mengandung disiplin, etika, dan tanggung jawab artistik.

Dalam konteks teater, pendekatan Suzuki dikenal sangat ketat terhadap tubuh. Metode ini meramu berbagai tradisi: teater klasik Jepang seperti Noh dan Kabuki, teater Yunani, hingga seni bela diri.

Fokus utamanya terletak pada kekuatan kaki, pernapasan, pusat gravitasi tubuh yang berada di bawah pusar serta stamina. Latihan-latihannya kerap mengingatkan pada kuda-kuda silat: kaki menghunjam bumi, tubuh bagian bawah kokoh, sementara tubuh atas tetap rileks dan stabil dalam apa yang disebut sebagai stance.

Dari struktur ini, kehadiran fisik aktor dibangun bukan sebagai hiasan visual, melainkan sebagai sumber energi panggung.

Metode Suzuki Memahami Tubuh

Pilihan Lampak(q) Art Community terhadap Metode Suzuki tentu bukan tanpa pertimbangan.

Ketika ditanya apa kelebihan metode ini dibandingkan metode lainnya, Wahyu Kurnia menjawab singkat namun padat, “Lebih sistematis. Membentuk kesadaran diri terhadap kebiasaan tubuh sendiri, baik dari segi pernapasan, gerak tubuh, kaitannya dengan energi dan gravitasi, serta fokus, termasuk imajinasi.”

Jawaban ini memperlihatkan bahwa Suzuki bukan hanya tentang fisik yang kuat, tetapi tentang membaca dan memahami tubuh sebagai arsip kebiasaan, trauma, dan potensi.

Baca Juga :  Merawat Gumi Paer di Kanvas Pikiran Lalu Syaukani

Secara praktis, keunggulan Metode Suzuki dalam teater tampak pada peningkatan kehadiran aktor di atas panggung. Aktor dilatih untuk memiliki energi yang terkontrol, fokus, dan intensitas tinggi.

Mereka tidak sekadar “bermain”, tetapi hadir sepenuhnya, mengisi ruang dengan kesadaran tubuh yang utuh. Dalam latihan yang repetitif dan menguras tenaga, aktor dipaksa untuk tetap waspada, menjaga konsentrasi mental bahkan ketika tubuh berada di bawah tekanan.

Fokus pada penguasaan tubuh dan pusat gravitasi menjadikan kaki sebagai fondasi utama. Dari kaki itulah energi mengalir, menopang suara, gestur, dan emosi. Pernapasan pun tidak dilepaskan dari kerja fisik.

Latihan Suzuki mengkalibrasi pernapasan dengan gerak intens, menghasilkan produksi suara yang bertenaga dan resonan tanpa ketergantungan pada mikrofon. Di sini, suara bukan sekadar bunyi, melainkan manifestasi energi tubuh.

Disiplin fisik yang ketat menjadi ciri lain yang menonjol. Metode ini menuntut komitmen tinggi, bahkan keberanian untuk menembus batas kenyamanan diri.

Aktor diajak mengenali secara jujur kemampuan dan kelemahan fisiknya. Dari proses itulah, tubuh menjadi semakin “plastik”, responsif dan ekspresif, mampu menyampaikan emosi kompleks lewat gerak, bukan hanya lewat kata-kata.

“Secara keseluruhan, Metode Suzuki memberikan aktor ‘alat’ untuk mempersiapkan diri secara total, baik secara fisik maupun emosional, sebelum pertunjukan dimulai,” kata Wahyu Kurnia, yang juga dikenal sebagai akademisi di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Mataram.

Pernyataan ini sekaligus menjelaskan mengapa metode ini dipilih LAC dalam persiapan lakon Kinrohosi dan Leang. Kedua karya tersebut menuntut intensitas tubuh, konsentrasi, dan kehadiran aktor yang tidak bisa dicapai hanya dengan latihan dialog atau improvisasi verbal.

Metode Suzuki sendiri lahir dari kegelisahan Tadashi Suzuki terhadap tubuh aktor modern yang, menurutnya, kian terputus dari tanah dan ruang. Ia mengembangkan pendekatan yang menempatkan tubuh sebagai instrumen utama, dengan prinsip kaki sebagai fondasi, pusat gravitasi sebagai sumber energi, dan pernapasan sebagai penggerak kesadaran.

Konsep stillness, keheningan yang penuh energi, menjadi penting, demikian pula gagasan mask of neutrality, di mana wajah dijaga tetap netral agar ekspresi muncul dari komitmen tubuh pada momen, bukan dari mimik yang dibuat-buat.

Latihan khas Suzuki, seperti stomping dengan irama perkusi, menuntut kontrol fisik ekstrem. Postur tubuh bagian bawah kuat, tubuh atas rileks, wajah datar. Dari repetisi inilah lahir kesadaran kinestetik yang tajam, menghubungkan tubuh dengan teks dan energi panggung secara organik.

Baca Juga :  Setelah Ini Apa? Gerbang Sangkareang dan Agenda Lanjutan Kota Mataram
Sutradara Avant-Garde

Nama Tadashi Suzuki sendiri telah lama dikenal sebagai sutradara teater avant-garde dunia. Ia menulis sejumlah buku, mengembangkan metode, dan mengarahkan pementasan lintas budaya dengan pemain dari berbagai negara.

Salah satu pengalaman penting yang dikenang Wahyu Kurnia adalah keterlibatannya dalam pementasan drama Electra arahan Tadashi Suzuki di Toga Grand Theatre, Jepang, pada Sabtu, 27 November 2021.

Produksi tersebut melibatkan sebelas aktor dan tim pendukung asal Indonesia, yaitu Andhini Puteri Lestari sebagai Electra, Agatha Irena Praditya sebagai Chrysothemis, Jamaluddin Latif sebagai Orestes, hingga Wahyu Kurnia sendiri bersama Dian Nova Saputra, Erik Nofriwandi, Ahmad Ridwan Fadjri, dan Washadi sebagai salah satu karakter Wheelchair Man (Pasien Rumah Sakit Jiwa).

Sementara lainnya adalah Bambang Prihadi sebagai Doctor/Training Director, Anak Agung Iswara sebagai Interpreter, dan Wiwit Rosita sebagai Adminitrator.

Produksi ini diproduseri oleh Restu Imansari Kusmaningrum dan merupakan kerja sama antara Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Purnati Indonesia, dengan dukungan The Japan Foundation.

Yang membuat Electra versi Suzuki begitu unik adalah penggunaan ragam bahasa: Jepang, Indonesia, Minang, Jawa Jogja dan Brebes, hingga Sasak Lombok.

Di bawah besutan Suzuki, naskah klasik karya Sophocles dan Hofmannsthal difokuskan pada konflik dendam Electra terhadap ibunya, Clytemnestra. Sebuah tragedi keluarga yang dibedah dengan bahasa tubuh, suara, dan energi lintas budaya.

Dalam ingatan Wahyu, sekitar 200 penonton menyaksikan pertunjukan tersebut dengan latar panggung hitam yang tersusun masif dari kotak-kotak persegi panjang berangka besi. Set ini memancarkan kemegahan sekaligus keterasingan, menyiratkan kesepian yang menyakitkan.

Musik perkusi digarap secara performatif oleh komposer Jepang Midori Takada, yang memainkan irama dari sisi kiri panggung sejak awal hingga akhir pertunjukan, menjadi denyut yang menyatu dengan tubuh para aktor.

Pengalaman itulah yang kini mengendap dan menemukan relevansinya kembali dalam latihan Lampak(q) Art Community. Metode Suzuki tidak hadir sebagai teknik impor yang kaku, melainkan sebagai bahasa tubuh yang dialogis, bertemu dengan tradisi lokal, konteks sosial, dan kegelisahan artistik para aktor.

Di ruang latihan LAC, setiap hentakan kaki bukan sekadar gerak, melainkan pernyataan: bahwa teater dimulai dari tubuh yang sadar, dari energi yang disimpan dan dilepaskan dengan penuh tanggung jawab.

Di sanalah, di antara peluh dan keheningan yang bergetar, Metode Suzuki hidup bukan sebagai dogma, tetapi sebagai jalan disiplin untuk merawat kehadiran manusia di atas panggung.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang
Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA