Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Di Galeri Taman Budaya NTB, dalam Pameran “Resonansi” yang digagas Mandalika Art Community, karya-karya seni rupa berjejer dengan ragam pendekatan visual dan ide. Namun di antara riuh eksplorasi medium dan tema, lukisan-lukisan Lalu Muhammad Asysaukani, yang lebih dikenal sebagai Lalu Syaukani, hadir dengan keheningan khas. Keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh oleh gema ingatan, jejak leluhur, dan percakapan batin yang panjang tentang tanah tumpah darahnya: Lombok, Gumi Paer.
Syaukani konsisten menempuh jalur artistik yang tidak populis namun berakar. Dalam dunia seni rupa yang kerap terjebak antara dekorasi dan sensasi, ia memilih merawat pergulatan batin sebagai sumber energi penciptaan.
Tema-tema yang berulang dalam karyanya: tanah leluhur, memori keluarga, spiritualitas lokal, dan identitas Sasak, bukan sekadar narasi budaya, melainkan medan kontemplasi personal yang terus ia gali dan tafsirkan ulang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pilihan ini bukan tanpa latar. Ia lahir dari keluarga yang secara genealogis dan kultural mengikatnya kuat pada Lombok. Ayahnya, H. Lalu Wiradarma, berasal dari Desa Lendang Ape, Praya, Lombok Tengah; sementara ibunya, Hj. Baiq Aminah, berasal dari Desa Kute Timuk, Sakra, Lombok Timur.
Dua wilayah ini bukan sekadar koordinat geografis, melainkan lanskap ingatan yang membentuk kepribadiannya sejak kecil. Dari dua desa inilah, Syaukani menyerap cerita, tradisi, dan ujaran kearifan yang kemudian mengendap lama di alam bawah sadarnya.
Kunjungan ke rumah kakek-nenek, ritual keluarga, dan interaksi dengan ruang desa menjadi pengalaman awal yang kelak menjelma menjadi bahasa visual di kanvas. Ia tidak melukis “kampung halaman” secara literal, tetapi membiarkan memori itu berubah bentuk menjadi lanskap pikiran: mindscape.
Gumi Paer sebagai Akar Estetik dan Etik
Salah satu karya kunci Syaukani dalam pameran tersebut berjudul Gumi Paer Mindscape (2025). Lukisan berukuran 150 x 180 cm ini menggunakan media cat minyak di atas kampas. Secara visual, karya ini tidak menawarkan pemandangan Lombok sebagaimana lazimnya lanskap alam.
Tidak ada gunung yang jelas, pantai yang dikenali, atau desa yang mudah ditunjuk. Yang hadir adalah lapisan-lapisan warna, garis, dan tekstur yang seolah bergerak, saling menyusup, dan berdenyut.
“Visualisasi alam Lombok yang lahir dari imajinasi, memori yang sudah mengendap dalam alam bawah sadar, kemudian saya membiarkan intuisi bekerja dalam membentuk garis, warna, dan tekstur,” ujar Syaukani.
Pernyataan ini menegaskan sikap estetiknya: alam tidak dihadirkan sebagai objek penglihatan, melainkan sebagai pengalaman batin. Lombok hadir sebagai rasa, bukan rupa. Ia menjelma sebagai energi yang terus bergerak di dalam kesadaran seniman.
Istilah Gumi Paer sendiri memiliki kedalaman makna yang jauh melampaui terjemahan harfiahnya sebagai “tanah air” atau “bumi pertiwi”. Dalam kosmologi Sasak, Gumi Paer adalah ruang sakral: tanah leluhur yang mengayomi kehidupan, menyimpan sejarah, dan menjadi penopang identitas kolektif.
Secara etimologis, “gumi” berarti bumi, yang akarnya berasal dari bahasa Kawi-Jawa, sementara “paer” merujuk pada pahyaran atau panggenan, tempat tinggal, tanah berpijak.
Namun dalam praktik budaya, istilah ini berkembang menjadi konsep yang memadukan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Gumi Paer dipahami sebagai tubuh hidup yang harus dijaga keseimbangannya, dirawat harmoni relasinya, dan dihormati kesakralannya.
Dalam narasi Sasak, Gumi Paer juga ditopang oleh kekuatan perempuan. Figur-figur seperti Dewi Anjani dan Putri Mandalika menjadi simbol pengayom, penjaga keseimbangan, dan sumber nilai etis. Kehadiran mereka menegaskan bahwa tanah bukan sekadar ruang eksploitasi, melainkan rahim kehidupan.
Konsep Gumi Paer kerap muncul dalam konteks ritual adat, seperti Gawe Gumi Paer atau Selamat Bumi. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai upacara simbolik, tetapi juga sebagai mekanisme sosial untuk meneguhkan identitas, memperbarui ikatan dengan tanah leluhur, serta mengingatkan masyarakat agar tidak tercerabut dari akar budayanya.
Dalam konteks inilah, karya Syaukani dapat dibaca sebagai perpanjangan ritual dalam bentuk visual. Lukisan menjadi ruang kontemplasi, tempat nilai-nilai lokal dihadirkan ulang dalam bahasa seni rupa kontemporer.
Ia tidak merepresentasikan ritual secara ilustratif, melainkan menyerap spiritnya dan mengolahnya menjadi pengalaman visual yang terbuka bagi tafsir.
Bagi masyarakat Sasak, Gumi Paer adalah tempat menggantungkan harapan dan kehidupan. Ia menyimpan sejarah, nilai kemanusiaan, serta simbol-simbol penting yang terus diwariskan lintas generasi.
Ketika Syaukani mengangkat Gumi Paer ke dalam karyanya, ia sejatinya sedang merawat ingatan kolektif sekaligus mengujinya di hadapan zaman.
Mindscape: Lanskap Pikiran sebagai Bahasa Visual
Dalam seni rupa, mindscape merujuk pada representasi visual dari dunia batin seniman: gagasan, emosi, persepsi, dan pengalaman psikologis internal. Berbeda dengan landscape yang menggambarkan alam fisik, mindscape adalah lanskap mental: ruang tempat memori, rasa, dan imajinasi berkelindan.
Pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh kesadaran psikologis seniman. Mindscape berfungsi sebagai media ekspresi internal, memungkinkan seniman mengungkapkan hal-hal yang sulit dijelaskan melalui penggambaran realitas eksternal.
Ia sering melibatkan simbol, abstraksi, dan struktur visual yang tidak tunduk pada hukum perspektif atau logika ruang konvensional.

Dalam Gumi Paer Mindscape, Syaukani melampaui realitas fisik Lombok. Ia tidak berusaha setia pada bentuk alam, melainkan pada pengalaman batinnya terhadap alam itu sendiri.
Karya ini bisa dibaca sebagai pendobrakan atas representasi realistis, membuka ruang bagi dunia imajiner yang mencerminkan kondisi mental dan emosionalnya.
Karena berangkat dari pengalaman personal, karya mindscape menuntut partisipasi aktif dari penikmat seni. Tafsir tidak ditentukan sepihak oleh seniman, melainkan terbuka untuk dialog.
Penonton diajak memasuki lanskap pikiran Syaukani, sambil membawa pengalaman dan memori mereka sendiri.
Syaukani mengakui bahwa banyak impuls kreatifnya bersumber dari pengalaman masa kecil. Ia masih mengingat dengan jelas tradisi dan ujaran kearifan yang ia dengar saat berkunjung ke rumah kakeknya di Kute Timuk, Sakra, Lombok Timur. Demikian pula ketika berada di Lendang Ape, Praya, Lombok Tengah, tempat keluarga ayahnya bermukim.
Dua ruang ini menjadi semacam titik jangkar memori. Mereka tidak hadir sebagai citra visual yang utuh, melainkan sebagai potongan rasa yang terus muncul dalam proses kreatifnya.
“Mindscape yang terpendam inilah yang mengarahkan saya untuk mewujudkannya dalam karya lukis,” kata Syaukani.
Proses kreatifnya bukanlah proses perencanaan yang kaku. Ia lebih memilih memberi ruang pada intuisi untuk bekerja. Garis, warna, dan tekstur muncul sebagai respon spontan terhadap ingatan yang mengendap lama.
Dalam proses ini, melukis menjadi semacam praktik meditasi. Sebagai upaya menyelami diri sendiri sekaligus menyapa kembali tanah asal.
Sebagai seniman yang hidup dan berkarya di era globalisasi, Syaukani tidak menutup mata terhadap perubahan zaman.
Arus informasi, teknologi, dan budaya global memengaruhi cara manusia berpikir dan memaknai keberadaannya. Ketegangan antara lokalitas dan globalitas pun menjadi latar tak terpisahkan dari karyanya.
Namun, ia tidak menempatkan tradisi sebagai benda museum atau nostalgia romantik. Tradisi dalam karyanya adalah memori hidup. Sesuatu yang terus bergerak dan berdialog dengan konteks kekinian.
Dengan demikian, lokalitas tidak menjadi penjara identitas, melainkan sumber daya kreatif yang lentur dan relevan.
Pilihan estetiknya pada ekspresif impresionisme memungkinkan Syaukani menjembatani pengalaman personal, realitas sosial, dan ingatan kolektif. Gaya ini memberinya kebebasan untuk menangkap gerak dan momen yang cepat berubah, tanpa kehilangan kedalaman rasa.
“Saya merasakan dapat mentransfer perasaan di dalam mengekspresikan gagasan dan ide kreatif saya dalam menangkap gerak dan momen yang begitu cepat berubah. Dengan kata lain, apa yang saya rasakan tersampaikan,” ujarnya.
Seni sebagai Jalan Istiqomah
Dalam konteks seni rupa NTB, konsistensi Syaukani patut dicatat. Ia menempuh jalur yang tidak selalu mudah atau populer, tetapi teguh pada visi merawat dan mengembangkan sensasi Gumi Paer.
Sikap ini tidak lahir dari romantisme belaka, melainkan dari kesadaran bahwa seni memiliki peran etis: menjaga ingatan, merawat identitas, dan membuka ruang refleksi.
Melalui karya-karyanya, Syaukani mengajak kita melihat Lombok bukan hanya sebagai destinasi wisata atau komoditas budaya, melainkan sebagai ruang hidup yang kompleks dengan sejarah, spiritualitas, dan nilai-nilai kemanusiaan yang layak direnungkan.
Di kanvas-kanvasnya, Gumi Paer tidak pernah selesai didefinisikan. Ia terus bergerak, berubah, dan beresonansi: sebagaimana ingatan, sebagaimana zaman.
Dan di sanalah letak kekuatan karya Lalu Syaukani: pada kesediaannya untuk terus bergulat, mendengar gema masa lalu, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa visual yang jujur dan terbuka.
#Akuair-Ampenan, 26-12-2025
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































