CERAKEN.ID– Museum Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus bergerak menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Di bawah kepemimpinan Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H., museum tidak lagi sekadar menjadi ruang penyimpanan benda sejarah, tetapi diarahkan menjadi ruang hidup yang dekat dengan masyarakat.
Melalui program strategis bertajuk “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”, museum berupaya menempatkan sejarah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Museum yang berlokasi di Jalan Panji Tilar Negara No. 6, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram ini telah berdiri lebih dari empat dekade.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daoed Joesoef, pada 23 Januari 1982, museum ini menjadi pusat penyimpanan dan penyajian sejarah serta kebudayaan NTB, mencakup Lombok dan Sumbawa.
Salah satu narasi penting yang dihadirkan museum adalah perjalanan Kesultanan Bima, kerajaan Islam yang memiliki peran besar dalam sejarah Pulau Sumbawa bagian timur hingga wilayah barat Pulau Flores.
Kesultanan Bima: Dari Kerajaan Mibojo ke Pemerintahan Islam
Menurut catatan Museum NTB, Kesultanan Bima berdiri pada 7 Februari 1621 sebagai kelanjutan dari Kerajaan Bima atau Mibojo.
Perubahan bentuk kerajaan menjadi kesultanan menandai masuk dan berkembangnya Islam sebagai fondasi pemerintahan dan kehidupan masyarakat.
Wilayah kekuasaan Kesultanan Bima mencakup Pulau Sumbawa bagian timur hingga wilayah Manggarai di Pulau Flores bagian barat. Dalam perjalanan sejarahnya, Kesultanan Bima dipimpin oleh 14 sultan, dimulai dari Sultan pertama La Kai hingga sultan terakhir, Sultan Muhammad Salahuddin, yang memerintah pada periode 1920–1943.
Para sultan Bima menggunakan gelar “Ruma”, yang mengandung makna pemimpin sebagai khalifah atau wakil Allah di bumi. Pemerintahan dijalankan dengan prinsip-prinsip syariat Islam, namun tetap memadukan nilai-nilai budaya lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Perpaduan nilai Islam dan budaya lokal inilah yang kemudian membentuk karakter pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat Bima selama berabad-abad.
Kondisi berubah ketika kekuasaan kolonial Belanda semakin menguat di kawasan timur Nusantara. Kesultanan Bima tidak luput dari pengaruh dan tekanan pemerintah kolonial.
Wilayah kesultanan kemudian dibagi menjadi lima distrik pemerintahan, yakni RasanaE, Donggo, Sape, Belo, dan Bolo. Pembagian administratif ini merupakan bagian dari strategi kolonial untuk mempermudah kontrol pemerintahan.
Pada tahun 1909, Kesultanan Bima resmi dimasukkan ke dalam wilayah Keresidenan Timur Hindia Belanda dengan pusat administrasi di Makassar.
Sejak saat itu, kebijakan pemerintahan kesultanan tidak lagi sepenuhnya mandiri, karena setiap keputusan harus mendapat persetujuan pemerintah kolonial.
Perubahan ini menandai semakin menyempitnya kedaulatan kesultanan, meskipun secara simbolik institusi kesultanan masih tetap berjalan.
Jejak Fisik Kesultanan yang Masih Berdiri
Sejumlah peninggalan Kesultanan Bima masih dapat ditemukan hingga kini dan menjadi bukti kejayaan masa lalu.
Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga bagian penting identitas budaya masyarakat Bima.
Istana Asi Mbojo merupakan salah satu simbol utama Kesultanan Bima. Istana ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman sultan pada masa lalu. Selain itu, terdapat pula Istana Asi Bou yang memiliki peran penting dalam kehidupan istana.
Masjid Sultan Muhammad Salahuddin dan Masjid Al-Muwahiddin menjadi bukti kuat pengaruh Islam dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat Bima.
Sementara itu, Makam Dana Traha dan Makam Tolobali menjadi tempat peristirahatan para tokoh penting kesultanan yang hingga kini tetap diziarahi.
Bangunan-bangunan tersebut memperlihatkan bagaimana Kesultanan Bima tidak hanya membangun sistem pemerintahan, tetapi juga membentuk peradaban religius dan sosial yang bertahan hingga sekarang.
Selain situs sejarah di Bima, Museum Provinsi NTB menyimpan berbagai benda peninggalan Kesultanan Bima yang menjadi saksi perjalanan panjang pemerintahan tersebut.
Salah satu koleksi penting adalah bendera perang yang dahulu dibawa pasukan Kesultanan Bima saat menghadapi konflik. Bendera ini menjadi simbol semangat perjuangan dan pertahanan wilayah kesultanan.
Museum juga menyimpan surat perjanjian wilayah antara Sultan Bima dengan pemerintah kolonial Belanda. Dokumen tersebut menunjukkan bagaimana kesultanan harus bernegosiasi dengan kekuasaan kolonial demi mempertahankan keberadaan pemerintahannya.
Koleksi lainnya adalah Ba’ba atau ikat pinggang sultan, yang menjadi bagian dari pakaian kebesaran kerajaan. Ada pula topi perdana menteri kesultanan yang memperlihatkan struktur pemerintahan modern yang mulai berkembang saat itu.
Benda administratif seperti stempel pemerintahan onderdistrik Ndesa Bima dan palu pemimpin rapat menunjukkan bahwa pemerintahan kesultanan telah memiliki sistem administrasi yang terstruktur.
Selain itu, museum menyimpan pakaian kebesaran berupa baju dan celana sulam yang pernah digunakan Sultan Ibrahim dan Sultan Salahuddin. Koleksi tersebut memperlihatkan kemewahan busana istana sekaligus keterampilan seni tekstil masyarakat setempat.
Salah satu koleksi yang memiliki nilai sejarah tinggi adalah silsilah Kesultanan Bima yang ditulis dalam bahasa Arab.
Dokumen ini menjadi sumber penting untuk menelusuri garis keturunan para penguasa Bima sekaligus menunjukkan kuatnya pengaruh Islam dalam pemerintahan kesultanan.
Program “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” yang digagas oleh Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam, menunjukkan upaya menjadikan museum lebih dekat dengan masyarakat.
Museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat kunjungan pelajar, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran sejarah bagi warga di berbagai daerah.
Dengan mengangkat narasi sejarah lokal seperti Kesultanan Bima, museum membantu masyarakat memahami akar budaya dan identitas daerahnya sendiri.
Kesadaran sejarah ini penting untuk membangun rasa memiliki terhadap warisan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah arus globalisasi.
Museum NTB kini tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda masa lalu, tetapi menjadi ruang dialog antara generasi terdahulu dengan generasi masa kini.
Di ruang-ruang pamerannya, sejarah Kesultanan Bima terus hidup, mengingatkan bahwa peradaban besar pernah tumbuh di tanah NTB.
Dan melalui museum, warisan itu terus dirawat agar tetap menjadi sumber inspirasi bagi masa depan masyarakat Nusa Tenggara Barat.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan


































