CERAKEN.ID– Pada Pameran Belian di Galeri Taman Budaya NTB, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju pada karya-karya visual para partisipan. Di setiap sisi ruang pamer, terpasang enam narasi berukuran 60 x 100 sentimeter. Narasi-narasi ini tampil seperti mural teks, tenang, reflektif, namun sarat makna, yang secara konseptual berjalan seiring dengan karya-karya yang dipamerkan.
Muhammad Sibawahi, saat ditemui pada Senin, 12 Januari 2025, menjelaskan bahwa keenam narasi tersebut memang dimaksudkan sebagai semacam mural kontekstual.
Fungsinya bukan sekadar penjelas, melainkan penguat medan makna: mengajak pengunjung masuk lebih dalam ke semesta pikir dan praktik pengobatan tradisional Belian Sasak. Narasi itu menjadi jembatan antara visual, ritus, dan pemahaman konseptual tentang Belian sebagai praktik budaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, pada sambutan pembukaan pameran (Sabtu, 10/01 lalu), Sibawahi juga menyampaikan harapan lain.
“Selain ada pameran, mudah-mudahan di bulan ini juga bisa me-launching bukunya dengan judul yang sama, Belian,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pameran tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari kerja intelektual dan kebudayaan yang lebih panjang: dari riset, penulisan, hingga presentasi artistik di ruang publik.
Dalam “buku Belian” yang menjadi narasi tersebut, Sibawahi menegaskan bahwa apa pun dasar biomedisnya, diagnosis dan terapi penyembuhan selalu berkaitan dengan manipulasi symbol, kata-kata, tanda, dan tindakan, yang berlangsung secara interaktif. Karena itu, persoalan sakit dan sembuh tidak dapat dipahami semata sebagai fenomena biologis, melainkan sebagai fenomena simbolik-budaya (Sibawahi, 2025: 40).
Perspektif ini terasa hidup di ruang pamer, ketika teks, artefak, dan karya seni saling berkelindan membentuk pengalaman simbolik bagi pengunjung.
Salah satu gagasan kunci yang mengemuka adalah pandangan bahwa alam semesta merupakan sumber pengetahuan sekaligus penyembuhan. “Sebenarnya, apa pun yang ada di sekitar kita ini bisa menjadi obat. Alam sudah menyediakan, asal kita tahu campurannya,” tulis Sibawahi (2025: 146–147).

Kalimat ini seolah menjadi filsafat dasar praktik Belian: alam sebagai apotek raksasa, dan manusia sebagai pembelajar yang harus menemukan pengetahuan tersembunyi di dalamnya.
Dari sini terlihat betapa kompleks daya tarik pengobatan tradisional Belian Sasak terhadap realitas. Di satu sisi, praktik Belian menciptakan realitas, melalui simbol, ritus, dan keyakinan, namun di sisi lain, realitas sosial dan kultural masyarakatlah yang membentuk praktik tersebut. Yang membuat tindakan pengobatan itu bermakna dan bernilai adalah sifatnya yang terus dilakukan dan diulangi, bahkan diwariskan lintas generasi.
Pengulangan inilah yang membangun keyakinan kolektif akan efektivitas penyembuhan. Kesembuhan, dengan demikian, bukan semata hasil empiris, melainkan juga efek sosial dari performativitas budaya yang menegaskan makna spiritual tindakan penyembuhan (Sibawahi, 2025: 240).
Dalam kerangka ini, ritual pengobatan Belian menempati posisi yang strategis. Ia tidak hanya menjadi model of reality, cerminan cara masyarakat memahami dunia, tetapi juga model for reality, yakni pola yang memproyeksikan bagaimana realitas seharusnya dijalani. Oleh karena itu, ritual pada dasarnya merupakan pusat kehidupan sosial dan politik masyarakat (Sibawahi, 2025: 247).
“Tindakan pengobatan” para Belian dapat pula dibaca sebagai sebuah performance. Ia adalah aksi sekaligus menampilkan aksi. Setiap gerak, mantra, dan simbol bukan hanya menjalankan fungsi penyembuhan, tetapi juga mempertontonkan “tindakan pengobatan” itu sendiri sebagai peristiwa bermakna (Sibawahi, 2025: 232).
Dalam konteks ini, praktik Belian mendekati apa yang dikatakan Clifford Geertz: bahwa manusia begitu lekat dengan tempat, identitas, dan keyakinannya, sehingga tidak dapat dipisahkan dari semua itu (Geertz dalam Sibawahi, 2025: 52).
Pameran Belian, yang diselenggarakan oleh komunitas Pasir Putih Lombok Utara dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Taman Budaya Provinsi NTB, berlangsung hingga 17 Januari 2026.
Lebih dari sekadar pameran seni, Belian tampil sebagai ruang refleksi: tentang tubuh dan sakit, simbol dan keyakinan, serta tentang bagaimana kebudayaan terus bekerja. Menyembuhkan, membentuk, dan memaknai kehidupan manusia. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































