CERAKEN.ID — Kesultanan Sumbawa resmi berdiri pada 14 Dzulqaidah 1050 Hijriah atau bertepatan dengan 30 November 1648.
Momentum tersebut menandai lahirnya satu kekuatan politik dan budaya besar di Pulau Sumbawa bagian barat yang kemudian berkembang menjadi entitas kerajaan berdaulat dengan wilayah kekuasaan mencakup Sumbawa Besar, Sumbawa Barat, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Sebagai imperium yang memiliki struktur pemerintahan, adat, dan identitas budaya yang kuat, Kesultanan Sumbawa tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk sistem pemerintahan, tetapi juga simbol-simbol kebesaran kerajaan yang disebut Parewa Kamutar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Regalia ini menjadi lambang legitimasi, kekuasaan, dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan lintas generasi.
Kini, sebagian simbol kebesaran itu dapat disaksikan masyarakat melalui koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, menjadi jembatan penting antara masa lalu dan generasi masa kini.
Parewa Kamutar: Simbol Kebesaran Kesultanan
Dalam tradisi Tana Samawa, regalia kesultanan disebut Parewa Kamutar, yang terbagi menjadi dua kelompok utama.
Pertama adalah Parewa Kamutar, yakni lambang kebesaran utama kesultanan, yang mencakup sejumlah benda simbolik dengan makna filosofis mendalam.
Di antaranya adalah Keris Baruwayat, simbol kedigdayaan dan kekuatan seorang pemimpin. Keris ini bukan sekadar senjata, tetapi penanda kewibawaan dan keberanian dalam menjaga martabat negeri.
Kemudian Payung Sarpedang, lambang kedaulatan yang menandai kehadiran Sultan sebagai pemimpin tertinggi rakyatnya. Payung kerajaan dalam banyak tradisi Nusantara selalu menjadi simbol pelindung sekaligus pengayom.
Ada pula Teyar Long Barora, lambang perjuangan, yang merepresentasikan semangat juang masyarakat Samawa dalam mempertahankan wilayah dan kehormatan. Sementara Badong menjadi simbol pengayoman dan kesetiaan antara pemimpin dan rakyat.
Simbol pertahanan kerajaan tergambar dalam Kantar, sedangkan Cilo Kamutar menjadi lambang jabatan dan kedudukan resmi dalam struktur pemerintahan kesultanan.
Kelompok kedua adalah Parewa Tokal Adat Ode, atau regalia pendamping yang digunakan dalam kehidupan keseharian Sultan maupun dalam berbagai upacara adat.
Di antaranya Cere atau Ceret, wadah air suci yang digunakan untuk mencuci kaki Sultan ketika kembali dari perjalanan, sekaligus digunakan sebagai tempat air wudhu, terutama pada hari Jumat.
Kemudian Namo, wadah air minum dalam prosesi adat, Salepa sebagai wadah rokok Sultan, serta Sakaras, tempat menyimpan perlengkapan menginang.
Perlengkapan lain seperti Pakebas atau kipas kerajaan dan Panyomo Lati, tempat berludah, memperlihatkan bagaimana kehidupan istana diatur dengan tata krama dan simbol kehormatan tertentu.
Semua perangkat ini bukan sekadar benda, melainkan simbol tata nilai yang mengatur relasi antara kekuasaan, adat, dan kehidupan masyarakat.
Jejak Regalia di Museum NTB
Sejumlah koleksi penting yang menggambarkan kebesaran Kesultanan Sumbawa kini tersimpan dan dipamerkan di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Di antaranya adalah foto Sultan Muhammad Kaharuddin IV, yang menjadi simbol kesinambungan tradisi kesultanan hingga era modern. Museum juga menampilkan replika Keris Baruwayat, hibah dari Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV pada tahun 2024.
Selain itu terdapat Topi Sultan Sumbawa, serta koleksi Salepa dan Pakebas, yang juga merupakan hibah dari Sultan pada tahun yang sama.
Koleksi penting lainnya adalah daftar Sultan dan Riwabatang Kesultanan Sumbawa sejak tahun 1648 hingga masa kini, yang menjadi arsip penting perjalanan sejarah pemerintahan Tana Samawa.
Keberadaan koleksi ini menjadi penting karena membuka akses publik untuk mengenal kembali identitas sejarah daerah, yang selama ini lebih banyak hidup dalam ingatan lisan masyarakat.
Jejak Para Sultan dan Riwabatang
Sejarah Kesultanan Sumbawa mencatat perjalanan panjang kepemimpinan sejak Dewa Mas Tjinni yang memerintah pada 1648 hingga 1668 sebagai Sultan pertama.
Kepemimpinan kemudian berganti kepada sejumlah Sultan dan Riwabatang, termasuk Dewa Mas Gowa, Dewa Mas Bantan, Sultan Madinah Muharam Harun Al Rasyid I, hingga Sultan Muhammad Kaharuddin I yang memerintah pada pertengahan abad ke-18.
Kesultanan juga pernah dipimpin oleh perempuan, yakni Sultanah Siti Aisyah dan kemudian Sultanah Shafiatuddin, menandai bahwa kepemimpinan perempuan bukan hal asing dalam sejarah Samawa.
Memasuki abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kepemimpinan dilanjutkan oleh Sultan Amrullah, Sultan Muhammad Djalaluddinsyah III, hingga Sultan Muhammad Kaharuddin III yang memimpin hingga tahun 1958.
Setelah masa integrasi kerajaan ke dalam sistem pemerintahan modern Indonesia, tradisi kesultanan tetap hidup secara adat. Pada tahun 2011, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV dikukuhkan sebagai penerus tradisi kesultanan dalam konteks budaya dan adat.
Daftar silsilah dan riwabatang ini disusun oleh Majelis Adat Lembaga Adat Tana Samawa, berdasarkan Silsilah Besar Kesultanan Sumbawa, dan ditandatangani langsung oleh Sultan Muhammad Kaharuddin IV pada Mei 2024 di Sumbawa Besar.
Perjalanan pelestarian sejarah daerah di NTB tidak lepas dari keberadaan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Pembangunan museum ini dirintis sejak tahun anggaran 1976/1977 melalui proyek rehabilitasi dan perluasan museum.
Pembangunan infrastruktur museum berlangsung hingga awal dekade 1980-an, dan kelembagaannya resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 022/0/1/1982 pada 21 Januari 1982.
Museum ini kemudian diresmikan pada 23 Januari 1982 oleh Mendikbud Dr. Daoed Joesoef.
Kini, di bawah kepemimpinan Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H., Museum NTB menjalankan strategi baru melalui program “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku.”
Program ini mendorong museum tidak lagi menjadi ruang sunyi penyimpan benda masa lalu, tetapi menjadi pusat edukasi dan ruang interaksi publik.
Upaya tersebut mulai mendapat pengakuan nasional. Museum NTB meraih nominasi Museum Kolaborasi pada 2022, nominasi Museum Kolaboratif pada 2023, serta nominasi Museum Bersahabat pada ajang Indonesia Museum Awards 2024.
Regalia Kesultanan Sumbawa bukan hanya warisan masa lalu, tetapi simbol nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, pengayoman, dan kesetiaan yang tetap relevan hingga kini.
Dengan hadirnya koleksi-koleksi kesultanan di Museum NTB, generasi muda tidak hanya mengenal sejarah lewat buku, tetapi dapat melihat langsung jejak kebesaran leluhurnya.
Museum pun menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan. Di sanalah Parewa Kamutar tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan kembali sebagai bagian dari identitas masyarakat Tana Samawa dan Nusa Tenggara Barat.
Karena pada akhirnya, sejarah yang terawat bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang memahami siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan melangkah.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan


































