Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Kongres XIII Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI), yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram di Aruna Senggigi Resort & Convention Lombok, pada 27 November 2025 menghadirkan Komisaris Krakatau Steel, Willgo Zainar sebagai keynote speaker.
Dengan mengusung tema “Kampus Berdampak untuk Akselerasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan”, forum ini menempatkan perguruan tinggi sebagai aktor epistemik dalam pembangunan pariwisata nasional. Khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang selama satu dekade terakhir berkembang sebagai salah satu episentrum pariwisata Indonesia Timur.
Sebagai alumni FEB Universitas Mataram, Willgo Zainar memberikan penekanan bahwa tema AFEBI memiliki relevansi langsung dengan dinamika pembangunan ekonomi daerah yang bertumpu pada sektor pariwisata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di dunia akademik, relevansi tersebut berlandaskan pada konsep tourism as an integrated sustainable system. Yang menempatkan pariwisata bukan hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi sebagai ekosistem pembangunan yang melibatkan lingkungan, masyarakat, infrastruktur, teknologi, serta tata kelola kelembagaan.
Willgo Zainar menegaskan bahwa pembicaraan mengenai pariwisata tidak lagi cukup dibatasi pada hotel, destinasi, atau fasilitas rekreasi. Pariwisata harus dipahami sebagai ekosistem keberlanjutan (sustainable ecosystem) yang membentuk pergerakan ekonomi daerah, peluang kerja, pengurangan kemiskinan, hingga pembentukan identitas kultural di tingkat global.
Dalam kerangka teori sustainable development, pariwisata adalah interaksi simultan antara: modal ekonomi (investasi, lapangan kerja), modal sosial (kapasitas masyarakat lokal), modal budaya (warisan dan ekspresi identitas), modal lingkungan (daya dukung destinasi), modal kelembagaan (kebijakan dan tata kelola).
NTB memiliki semua modal tersebut: Mandalika sebagai special economic tourism zone, Senggigi sebagai destinasi historis, gawasan Gili dan Geopark yang bernilai ekologis, serta desa wisata yang menguatkan pariwisata berbasis komunitas.
Kehadiran event internasional seperti MotoGP semakin mempertegas NTB sebagai emerging global tourism hub.
Peran Struktural BUMN dalam Ekosistem Pariwisata
Dalam paparannya, Willgo menempatkan BUMN sebagai salah satu aktor penting dalam pembangunan pariwisata. Peran tersebut tidak hanya bersifat komersial, tetapi juga struktural, yakni mendorong tumbuhnya prasyarat pembangunan pariwisata melalui penyediaan infrastruktur dan layanan publik.

BUMN telah terlibat dalam pembangunan bandara, pelabuhan, jalan nasional, konektivitas telekomunikasi, serta moda transportasi udara–laut–darat. Secara teoritik, infrastruktur berfungsi sebagai tourism enabling factor yang menentukan keterjangkauan, mobilitas, dan pengalaman wisatawan. Tanpa infrastruktur, pariwisata tidak dapat tumbuh dan bersaing di tingkat global.
Krakatau Steel memegang peran strategis sebagai pemasok material baja nasional. Produk baja digunakan dalam pembangunan: jembatan dan flyover, dermaga wisata, terminal bandara, fasilitas publik di kawasan destinasi.
Dalam konsep resilient infrastructure, pembangunan pariwisata membutuhkan material berkualitas tinggi untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan jangka panjang. Baja Krakatau Steel, yang memenuhi standar internasional, menjadi komponen penting dalam pembangunan destinasi kelas dunia.
Kontribusi BUMN bersifat multi-sektor:
- Perbankan: pembiayaan UMKM, industri kreatif, dan rantai pasok destinasi.
- Transportasi: integrasi akses udara, laut, dan darat sebagai syarat konektivitas wisatawan.
- InJourney: pengelolaan destinasi dan event internasional, yang memperkuat brand Indonesia sebagai global tourism player.
Peran ekosistem BUMN ini mencerminkan whole-of-government approach dalam pengembangan pariwisata nasional.
Dalam wacana pariwisata berkelanjutan, UMKM dan ekonomi kreatif memegang peranan penting sebagai local value creator. Produk budaya menjadi narasi global yang membedakan NTB dari destinasi lain.
Willgo menekankan empat fondasi:
- Aggregator UMKM BUMN untuk membangun rantai pasok yang kuat.
- Digitalisasi pelaku wisata yang memungkinkan akses pasar global.
- Penguatan identitas budaya seperti tenun, kuliner lokal, kerajinan, dan produk khas daerah.
- Dampak nyata event internasional, seperti pertumbuhan UMKM Mandalika selama MotoGP.
Secara akademik, ini berkaitan dengan teori tourism-induced local economic empowerment, yang memastikan pariwisata tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi Kampus–BUMN sebagai Pilar Kebijakan Pariwisata Berkelanjutan
Tema AFEBI menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat produksi pengetahuan (knowledge production center) yang menentukan arah kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Willgo menyampaikan bahwa kolaborasi kampus dan BUMN adalah prasyarat strategis bagi transformasi pariwisata NTB.
- Riset dan Evidence-Based Policy
BUMN membutuhkan riset akademik untuk mengukur dampak ekonomi, sosial, dan ekologi. Sebaliknya, kampus membutuhkan praktik industri untuk memperkaya kurikulum dan metodologi pembelajaran.
- Kurikulum Berbasis Industri
Kampus perlu mengembangkan kurikulum:
- digital tourism,
- community-based tourism,
- sustainability management.
Inovasi kurikulum ini akan menghasilkan SDM yang siap menghadapi tantangan globalisasi pariwisata.
- Magang Terstruktur dan Talent Pipeline
BUMN membuka ruang magang di bandara, pelabuhan, kawasan wisata, dan unit layanan publik sebagai talent pipeline bagi mahasiswa. Pendekatan ini sesuai konsep work-integrated learning dalam pendidikan tinggi modern.
- Pemberdayaan Desa Wisata
Kolaborasi antara riset kampus dan pendanaan–infrastruktur BUMN dapat menciptakan desa wisata yang berdaya secara ekonomi sekaligus menjaga identitas budaya lokal.
Dalam bagian pemikiran berjudul “Menduniakan Destinasi Wisata NTB”, Willgo Zainar mengusulkan konsep NTB as One Integrated Tourism Brand. Strategi ini mendorong seluruh wilayah NTB untuk tampil sebagai satu kesatuan pengalaman wisata terpadu. Bukan destinasi yang berdiri sendiri.
Secara teoritik, pendekatan ini sejalan dengan konsep place branding dan destination competitiveness, yang menekankan pentingnya diferensiasi, integrasi, dan kesinambungan antar destinasi.
Willgo Zainar menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan bukan hanya soal destinasi yang indah, tetapi tentang membangun ekosistem yang kokoh: infrastruktur, SDM, komunitas, tata kelola, serta pengetahuan ilmiah.
Dalam kerangka collaborative governance, akselerasi pariwisata NTB hanya dapat dicapai melalui:
- kolaborasi kampus, BUMN, dan pemerintah daerah,
- partisipasi masyarakat lokal,
- kebijakan berbasis data,
- keberpihakan pada keberlanjutan lingkungan dan budaya.
Dengan modal geopark, destinasi unggulan, event internasional, dan kapasitas kelembagaan yang terus tumbuh, NTB memiliki peluang besar menjadi pusat pariwisata berkelas dunia. Tantangannya bukan pada potensi, tetapi pada tata kelola yang inklusif, berkelanjutan, dan terintegrasi.
#Akuair-Ampenan, 29-11-2025
Penulis : Aks
Editor : Editor Ceraken
Sumber Berita : liputan tertulis































