Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Pulau Sumbawa merupakan salah satu wilayah paling potensial dalam pengembangan pariwisata Indonesia, namun hingga kini masih belum mendapatkan perhatian dan pengelolaan optimal sebagaimana daerah unggulan lain seperti Bali, Yogyakarta, ataupun Lombok.
Sumbawa memiliki kekayaan alam, budaya, dan sumber daya manusia yang unik, mulai dari panorama laut dan bukit yang dramatis, kawasan konservasi kelas dunia, hingga warisan budaya Samawa dan Mbojo yang penuh nilai. Sayangnya, potensi besar tersebut masih terfragmentasi, belum tersusun dalam suatu sistem pariwisata yang kuat, terintegrasi, dan berdaya saing nasional maupun global.
Dalam rangka membaca kembali peluang dan tantangan tersebut, IKA Unram Jabodetabek menyelenggarakan Webinar Nasional ke-4 bertema “Mengangkat Potensi Wisata Pulau Sumbawa Sebagai Destinasi Unggulan Nusantara”, pada Minggu, 23 November 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Webinar ini mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai bidang: akademisi, pemerintah, politisi, praktisi, hingga komunitas alumni, untuk menyusun gagasan strategis dalam membangun masa depan pariwisata Sumbawa.
Catatan ini menyajikan gagasan-gagasan utama dari para narasumber serta merangkumnya dalam kerangka analitis yang utuh.
Pembahasan mencakup pentingnya pendekatan berbasis klaster, konsep quality tourism, kolaborasi pentahelix, penguatan 5A (Attractions, Accessibility, Amenities, Ancillary Services, dan Activities), hingga rekomendasi konkret untuk pengembangan pariwisata Pulau Sumbawa secara berkelanjutan.
Ketua Umum IKA Unram Jabodetabek, Willgo Zainar, membuka webinar dengan menekankan bahwa tema ini bukan hanya menarik, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral alumni Unram untuk berkontribusi pada pembangunan daerah. Menurutnya, NTB memiliki potensi pariwisata yang “luar biasa” dan bahkan tidak dimiliki oleh banyak daerah lain di Indonesia.
Willgo berharap forum ini menjadi pemicu (trigger) bagi munculnya keunggulan kompetitif (competitive advantage) baru bagi pertumbuhan ekonomi NTB. Alumni Unram yang tersebar di berbagai sektor dapat berperan sebagai penggerak perubahan, sumber gagasan, dan jembatan bagi kolaborasi lintas lembaga.
Sementara itu, Asral Dasril, Ketua Divisi Pendidikan IKA Unram Jabodetabek, menyoroti bahwa potensi besar Sumbawa belum tergarap optimal.
Oleh karena itu, kegiatan yang bersifat edukatif seperti webinar ini harus menjadi upaya berkelanjutan untuk membangun awareness, kapasitas, dan jaringan antar pemangku kepentingan. Edukasi adalah fondasi dari transformasi jangka panjang sektor pariwisata.
Pendekatan Klaster: Menyatukan Potensi, Menguatkan Ekosistem
Dalam paparannya berjudul “Pengembangan Wisata Pulau Sumbawa Berbasis Klaster”, Wakil Dekan III FEB Universitas Mataram, Lalu M. Furqan, menjelaskan bahwa kunci sukses pengembangan pariwisata adalah ekosistem. Pariwisata tidak dapat berjalan sendirian, ia bergantung pada transportasi, pemasok, budaya lokal, pemasaran, teknologi, hingga jaringan antarwilayah.
Pendekatan klaster mengelompokkan pelaku pariwisata dalam kawasan geografis tertentu, sehingga memungkinkan terciptanya penawaran wisata yang terorganisasi, efisien, dan kolaboratif.
Furqan menekankan bahwa Sumbawa tidak boleh bekerja secara terisolasi. Wilayah ini harus memiliki jejaring strategis dengan Lombok, Bali, Nusa Tenggara Timur, bahkan Jawa. Mobilitas modal, SDM, wisatawan, dan gagasan akan meningkat jika Pulau Sumbawa mampu menjadi bagian dari jaringan regional yang dinamis.
Dalam pandangannya, yang paling penting bukan lagi berapa banyak wisatawan datang, tetapi berapa lama mereka tinggal dan berapa uang yang dibelanjakan. Inilah ciri utama quality tourism.
Furqan memperkenalkan California Wine Cluster sebagai contoh klaster industri paling sukses di dunia. Klaster ini terbentuk dari integrasi:
- produsen anggur
- pemasok peralatan
- petani
- lembaga riset (UC Davis, misalnya)
- pemerintah daerah
- sektor pendukung seperti pariwisata, media, dan logistik
Model ini menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya pada destinasi, tetapi pada keterhubungan dan inovasi ekosistem secara keseluruhan.
Bila diadaptasi untuk Pulau Sumbawa, maka potensi seperti Tambora, Pulau Moyo, Gili Banta, Teluk Saleh, budaya Samawa–Mbojo, hingga UMKM lokal harus dihubungkan dalam satu sistem yang koheren, dari aksesibilitas, branding, hingga pendidikan vokasional yang relevan.
Diskusi mengidentifikasi sejumlah tantangan yang harus segera diatasi:
(1). Infrastruktur
- Akses transportasi terbatas, terutama udara dan jalan antarwilayah
- Listrik belum merata
- Fasilitas kesehatan belum mendukung wisatawan dalam skala besar
(2). Sumber Daya Manusia
- Kurangnya tenaga profesional
- Standar pelayanan belum konsisten
- Kesenjangan kompetensi antarwilayah
(3). Dampak Lingkungan dan Kebencanaan
- Kerusakan pesisir
- Sampah di destinasi
- Alih fungsi kawasan konservasi
- Kerentanan terhadap gempa dan tsunami
- Mitigasi belum optimal
(4). Dampak Sosial Budaya
- Komodifikasi budaya lokal
- Pergeseran nilai tradisional
- Kesenjangan ekonomi warga sekitar destinasi
Tantangan ini harus ditangani dengan pendekatan sistem yang terencana, lintas sektor, dan melibatkan masyarakat.

Quality Tourism sebagai Arah Baru NTB
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, menjelaskan bahwa NTB kini mengembangkan strategi Quality Tourism, yaitu pariwisata yang berfokus pada:
- Kualitas pengalaman wisatawan, bukan sekadar jumlah kunjungan
- Dampak positif ekonomi lokal
- Keberlanjutan lingkungan dan budaya
- Wisatawan yang bertanggung jawab
- Penggunaan daya dukung destinasi secara cermat
Pendekatan ini diharapkan menghindarkan Sumbawa dari jebakan over-tourism yang dialami Bali dan daerah lain.
Aulia juga menekankan bahwa Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) memiliki spesifikasi lebih tinggi dari Bandara Ngurah Rai. Dengan perencanaan tepat, BIZAM dapat menjadi Superhub Pariwisata & Ekonomi Kreatif Nasional yang menghubungkan Bali–Lombok–Sumbawa–Labuan Bajo.
Namun, ia mengakui masalah serius: harga tiket pesawat yang mahal. Pemerintah NTB terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menurunkannya.
Perspektif Kebijakan: 5A, Pentahelix, dan Branding
Anggota DPRD Provinsi NTB, Lalu Arif Rahman Hakim, menegaskan bahwa Sumbawa memiliki keunggulan alam dan budaya, tetapi belum dikembangkan secara optimal. Untuk itu, perencanaan pariwisata harus mengacu pada 5A:
- Attractions – daya tarik wisata
- Accessibility – kemudahan akses
- Amenities – fasilitas penunjang
- Ancillary Services – kelembagaan, regulasi, dan dukungan
- Activities – kegiatan yang menghidupkan destinasi
Ia juga menyoroti pentingnya pentahelix: akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media. Kelima unsur ini menjadi mesin sinergi yang diperlukan Sumbawa untuk naik kelas menjadi destinasi unggulan.
Arif memberikan enam rekomendasi konkret:
- Penguatan konektivitas
- Penguatan branding
- Peningkatan kualitas SDM
- Penguatan UMKM
- Kalender event budaya
- Kolaborasi pentahelix
Dimensi Keberlanjutan dalam Pengembangan Wisata Pulau Sumbawa
Akademisi dan praktisi pariwisata, M. Syahidin, memaparkan konsep pariwisata berkelanjutan, yang menekankan keseimbangan antara:
- Keuntungan ekonomi
- Kesejahteraan sosial masyarakat lokal
- Pelestarian lingkungan dan budaya
Syahidin menekankan empat aspek penting:
(1). Konservasi lingkungan
Pengelolaan sampah, energi terbarukan, perlindungan kawasan konservasi, dan keseimbangan ekosistem.
(2). Pemberdayaan masyarakat lokal
Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama yang mendapatkan manfaat ekonomi.
(3). Pelestarian budaya
Budaya harus dilestarikan, bukan dikomodifikasi secara berlebihan.
(4). Tanggung jawab wisatawan
Wisatawan harus diedukasi untuk berperilaku ramah lingkungan dan menghormati budaya lokal.
Syahidin juga menyoroti masalah harga tiket pesawat, yang menjadi salah satu penghambat mobilitas wisatawan ke NTB.
Sesi tanya jawab menggambarkan persoalan riil yang dirasakan masyarakat.
Harga tiket pesawat mahal
Didi Aulia Harahap menegaskan bahwa harga tiket dari berbagai kota menuju Lombok sangat mahal—kadang setara tiket ke Singapura atau Malaysia. Hal ini menghambat pertumbuhan kunjungan.
Blue print pariwisata belum berjalan
Dadan Andiyana menyoroti belum maksimalnya implementasi rencana induk (blue print) pariwisata Pulau Sumbawa.
Branding NTB belum jelas
Alfat mempertanyakan: branding apa yang cocok untuk pariwisata NTB tanpa tergantung pada Lombok?
Terkait persoalan riil tersebut, Ahmad Nur Aulia, dari pihak pemerintah, menjelaskan bahwa 2025 adalah pondasi awal menuju pariwisata berkelanjutan 2026. Sementara dari pihak legislator, Arif Rahman menegaskan kembali pentingnya pentahelix serta penguatan konektivitas dan branding.
Kesimpulan: Arah Baru Pariwisata Pulau Sumbawa
Webinar Nasional ke-4 IKA Unram Jabodetabek menghasilkan sejumlah gagasan penting:
- Pulau Sumbawa memiliki potensi pariwisata luar biasa, namun perlu strategi ekosistem, bukan pendekatan parsial.
- Model klaster seperti California Wine Cluster dapat menjadi rujukan untuk mengintegrasikan atraksi, pemasok, pendidikan, teknologi, komunitas, dan UMKM.
- Quality Tourism menjadi arah baru NTB—lebih menekankan nilai belanja, lama tinggal, keberlanjutan, dan pengalaman wisata.
- Pentahelix harus menjadi prinsip dasar dalam perencanaan dan implementasi kebijakan.
- Infrastruktur dan konektivitas, terutama harga tiket pesawat, adalah isu paling mendesak.
- Branding Pulau Sumbawa harus dibangun secara mandiri, berakar pada kekhasan budaya dan lanskapnya.
- Penguatan SDM, UMKM, dan masyarakat lokal menjadi fondasi pariwisata berkelanjutan.
Dengan kerja kolaboratif lintas sektor, pengelolaan ekosistem pariwisata yang cerdas, dan penguatan identitas destinasi, Pulau Sumbawa memiliki peluang nyata menjadi destinasi unggulan Nusantara, bukan hanya berdasarkan keindahan alamnya, tetapi kualitas pengalaman, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai pusat pengembangan.
#Akuair-Ampenan, 23-11-2025
Penulis : Agus K Saputra
Editor : Ceraken Editor































