Oleh: Rusdin Tompo – Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan
CERAKEN.ID — Prof Aminuddin Salle punya satu penanda kultural yang bukan sekadar simbolik, tetapi filosofis. Penanda itu bisa kita lihat berupa sulaman emas berbentuk lasugi dengan aksara Mangkasarak pada topi fedora warna hitam yang biasa dikenakannya.
Itulah penanda pria kelahiran Galesong, 2 Juli 1948, yang punya nama lengkap Prof Dr H Aminuddin Salle, SH, MH, Karaeng Patoto.
Dengan model topi yang sudah ada sejak 1882–yang dibubuhi identitas lokalnya– Ketua Dewan Kebudayaan Kota Makassar itu seolah hendak mengatakan bahwa kita bisa tetap gaya dengan budaya kita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aminuddin Salle merupakan Guru Besar Hukum Adat Fakultas Hukum Unhas. Suami dari Hj Suryana Hamid, SH, MH Daeng Memang ini, kini lebih dikenal sebagai penggerak pemajuan kebudayaan, khususnya budaya Makassar.
Prof Aminuddin Salle adalah dosen saya. Ketika saya masih mahasiswa, beliau merupakan Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Unhas (1989-1992).
Saya ingat, dalam suatu kesempatan berkegiatan di Ruang H33 (sekarang Aula Prof Mattulada), beliau berujar, “Rusdin Tompo ini kalau nanti tamat, SH-nya bukan Sarjana Hukum, tetapi seniman hukum.”
Mendengar kalimat tersebut, saya hanya tersenyum, sambil tetap melanjutkan pekerjaan saya menata spanduk. Kala itu, ruangan berbentuk teater tersebut, tengah dipersiapkan untuk studium generale.
Saya tak lagi menjejakkan kaki di kampus merah Tamalanrea setelah diwisuda tahun 1992. Siapa nyana, sekira tiga dekade kemudian, kami dipertemukan dalam aktivitas yang sarat dengan literasi seni budaya.
Prof Aminuddin Salle, merupakan Dewan Penasihat Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan bersama Prof Kembong Daeng, Prof Itji Diana Daud, Prof Ahmad M Sewang, dan Prof Sukardi Weda, di mana saya selaku koordinatornya.
Balla Barakkaka ri Galesong
Sejak 2016, Ketua Kopertis Wilayah IX (2004-2006 dan 2006-2008) ini mulai mengembangkan kampung adat dan budaya, yang juga sebagai laboratorium aksara lontarak Mangkasarak.
Di atas lahan yang semula merupakan tanah kebun milik keluarganya itu, berdiri Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG), yang diresmikan pada 19 Maret 2018.

BBrG didedikasikan sebagai tempat pembinaan, edukasi, pelestarian adat dan budaya, serta nilai-nilai dan kearifan lokal Makassar.
BBrG diharapkan menjadi sarana turunnya berkah dari Allah SWT kepada mereka yang berpartisipasi dalam pendirian dan pengembanggannya, juga berkah bagi masyarakat setempat dan pengunjung yang datang ke sana.
BBrG pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 75 Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Berbagai seni budaya Makassar, seperti tarian, sastra lisan, dan kuliner tradisional kerap disajikan di sana.
Salah satu agenda rutin yang dihelat adalah Gaukang Karaeng Galesong yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemangku adat Karaeng Galesong.
Yang istimewa, tamu yang datang akan dijamu dengan umba-umba. Sungguh suatu kehormatan, ketika Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto sendiri menyuapkan umba-umba ke mulut saya, saat saya berada di BBrG menyaksikan prosesi tappu kana salah seorang kerabatnya.
Tappu kana merupakan tahapan dalam perkawinan adat Makassar, yang berarti musyawarah untuk mengambil keputusan.
Dalam tahap ini dibicarakan segala sesuatu terkait mas kawin, uang belanja, waktu dan tempat acara pernikahan, serta lainnya. Mereka yang datang hari itu mengenakan baju tradisional, diiringi gandrang (gendang) dan pui-pui (sejenis suling).
Di BBrG, kita bisa menjumpai bangunan-bangunan dengan arsitektur Makassar, yang tertata apik. Ada Balla Barakka sebagai rumah utama, dan Baruga Appaka Sulapak sebagai tempat musyawarah keluarga dan warga masyarakat.
Terdapat pula Barung-Barung sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian yang dahulu biasa digunakan juga untuk tempat tinggal para penggarap tanah, kebun, atau sawah. Selain itu, ada Balla-Balla Saukang, sebagai replika tempat istirahat para raja atau bangsawan Makassar.
Jika ke BBrG, dari kota Makassar jaraknya sekira 25 Km, sedangkan dari ibu kota Takalar hanya berjarak 10 Km.
Terdapat pintu gerbang sebagai petunjuk ke arah BBrG yang merupakan desa Pancasila dan Konstitusi itu. Prof Aminuddin Salle bersama Mahkamah Konstitusi (MK) RI, termasuk perintis pembentukan Desa Pancasila dan Konstitusi se-Indonesia.
Prof Mahfud MD (Ketua MK, periode 2008-2013), pernah berkunjung ke BBrG, dan diberi gelar Karaeng Tojeng, artinya benar, dapat dipercaya.
Kepemimpinan Appaka Sulapa
Saya menangkap kesan bahwa kehadiran Balla Barakkaka ri Galesong merupakan cara Prof Aminuddin Salle menjawab kegelisahaannya terhadap kampung halamannya, Galesong.

Dalam buku Permata-Permata dari Timur (2011), beliau mengatakan bahwa Galesong di masa lalu punya sejarah yang besar, tetapi sayang agak terabaikan.
Ini pula yang dikemukakan oleh peneliti sejarah Indonesia Timur, Amrullah Amir, Ph.D, dalam Seminar Tradisi dan Kebudayaan Menyusuri Jejak Sejarah Galesong, di BBrG, Sabtu, 7 Fabruari 2026.
Dosen FIB Unhas itu menandaskan bahwa di masanya, Galesong menjadi simpul penting jalur maritim Nusantara, sama dengan Tallo. Daerah ini bahkan punya figur ikonik ternama, yakni Karaeng Galesong.
Menurut Aminuddin Salle, Karaeng Galesong memiliki kepemimpinan Appaka Sulapak.
Simbol Appaka Sulapak, menurut beliau, diambil dari hasil anyaman bambu yang membentuk huruf SA (ᨔ), segi empat belah ketupat. Anyaman bambu berbentuk segi empat belah ketupat itu dalam aktivitas budaya disebut Lasugi (Makassar) atau Walasuji (Bugis).
Manusia, dalam bahasa Makassar disebut Tau. Dijelaskan bahwa perpaduan aksara Ta ᨈ dan Ma ᨆ, bila digabungkan maka akan membentuk huruf Sa. Huruf ini berarti sirik, yang merupakan harkat dan martabat manusia.
Supaya manusia punya harkat dan martabat, kata Aminuddin Salle, setidaknya memiliki 4 sifat utama, yakni carakdek/panrita (cerdas), lambusuk (jujur), barani (berani), dan kalumannyang (berwawasan luas).
“Ini merupakan sifat utama. Orang yang punya sifat-sifat itu disebut sebagai manusia seutuhnya atau insan kamil,” imbuh Ketua Dewan Adat Karaeng Galesong dan Ketua Dewan Pakar DPP Majelis Pemangku Adat Nusantara itu.
Karaeng Galesong dan Diaspora Patriotik
Prof Aminuddin Salle terinspirasi dari sosok I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong, Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Gowa yang dengan kepemimpinan Appaka Sulapak menjadi salah satu tokoh yang disegani.
Putra Sultan Hasanuddin, yang lahir di Bontolebang, 29 Maret 1655 itu tegas menolak Perjanjian Bongaya antara Kerajaan Gowa dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda beserta sekutunya, pada tahun 1669.
Karaeng Galesong meneruskan perjuangannya hingga ke tanah Jawa. Ini terdokumentasi dalam Babad Tanah Jawi. Persebaran pasukannya meliputi area Tuban, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Pajarakan, Gombong, hingga Kediri.
Di wilayah ini, Karaeng Galesong bersama Trunojoyo dan Untung Suropati gigih berperang melawan Raja Amangkurat dari Kerajaan Mataram yang berkomplot dengan kompeni VOC.
“Makam Karaeng Galesong ada di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Beliau wafat tahun 1679. Orang di sana memanggilnya mbah Rojo, sebagai bentuk rasa hormat mereka,” jelas Prof Aminuddin Salle.

Amrullah Amir menyebut semangat yang diusung Karaeng Galesong dan orang-orang Makassar, seperti Daeng Mangalle di Ayutthaya, Siam, sebagai diaspora patriotik.
Dalam seminar yang diadakan oleh Pelakita.ID dengan motornya Kamaruddin Azis, kita disodorkan pada kisah-kisah historis masa kejayaan Galesong lengkap dengan jiwa heroismenya.
Jurnalis yang juga aktivis itu merupakan penyusun buku Semesta Galesong, Senarai Catatan Warga (Pannyingkul, 2009).
Kisah-kisah itu diperkaya oleh bahasan dari Prof Mardi Adi Armin, penerjemah buku Sejarah Kerajaan Makassar, Description Historique du Royaume de Macacar karya Nicolas Gervaise, dan Mustamin Raga, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, yang rutin membagi pemikiran-pemikirannya dalam bentuk esai dan puisi.
Pemegang Hak Cipta
Konsepsi filosofis Appaka Sulapak sudah dituangkan dalam buku Aminuddin Salle, Sang Pelestari Aksara (2023) yang ditulis oleh Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd, MH, MM dkk.
Prof Aminuddin Salle mengabadikan konsep Appaka Sulapak melalui tradisi dan literasi digital, dengan namanya sebagai pemegang hak cipta, yang tercatat di Kementerian Hukum dan HAM.
Dengan begitu, petuah-petuah leluhur ini bisa tetap dipelajari dan diakses, supaya jadi pedoman bagi generasi kita di masa-masa mendatang.
Saya menyempatkan diri berfoto di samping ukiran mirip podium yang menggambarkan Appaka Sulapak di BBrG. Saya merasakan visi seorang maha guru yang rendah hati.
Walau jejaring dan lingkungan pergaulannya meluas di kalangan intelektual, cendekiawan, pemangku adat, dan keraton-keraton Nusantara, beliau tetap egaliter. Beliau meletakkan adat dan adab dalam praktik kesehariannya.
“Bangsawan itu orang yang memikirkan dan mengabdikan dirinya bagi bangsanya. Jadi siapa pun yang memikirkan nasib bangsanya, adalah juga seorang bangsawan,” tegas Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor









































