CERAKEN.ID– Pameran Belian yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasirputih Lombok Utara di Galeri Taman Budaya NTB menghadirkan seni sebagai laku riset dan pengalaman mendengarkan. Belian tidak diposisikan semata sebagai tema pameran, melainkan sebagai metode penghayatan: cara membaca realitas melalui tubuh, indra, dan kesadaran.
Di sinilah karya Ronieste berjudul “Dwell in Resonance” hadir sebagai penanda penting: sebuah komposisi synthesizer modular digital yang tidak ditujukan untuk sekadar diperdengarkan. Tetapi dialami sebagai peristiwa bunyi yang membangun relasi antara ruang pamer, tubuh pendengar, dan waktu yang mengalir.
Catatan ini untuk kedua kalinya ingin mengelaborasi lebih mendalam terkait pencarian “bunyi”, sesuatu yang abstrak tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bunyi sebagai Data, Bunyi sebagai Pengetahuan
“Bagian terpenting dari sebuah riset (belian) adalah data yang terdokumentasikan,” ujar Ronieste.
Data itu bisa berupa visual, yaitu video, foto, file image, atau moving image namun bagi Roni, bunyi menempati posisi yang tak kalah fundamental. Bahkan, mungkin lebih mendasar.
“Karena aku suka dengan bunyi dan soundscape, maka bunyi adalah salah satu materi tersendiri untuk didokumentasikan,” katanya.
Bunyi, menurut Roni, tidak perlu dicari. Ia selalu ada. Kita diam saja, bunyi tetap hadir. Pernyataan ini sederhana, tetapi mengguncang cara kita memahami riset dan dokumentasi.
Selama ini, riset sering diasosiasikan dengan pencarian aktif: mengamati, merekam, mencatat. Bunyi justru menuntut sebaliknya. Diam, mendengarkan, dan menerima.
Sekitar sepuluh tahun lalu, Roni mulai merambah praktik soundscape (bentang bunyi) saat terlibat dalam proyek di Bali dan Flores, sebagai supervisor program sekaligus mentor sanggar. Saat itu, eksplorasi bunyi belum dilakukan secara intens.
Namun benihnya sudah tertanam: kesadaran bahwa bunyi menyimpan informasi, memori, dan energi yang tidak selalu tertangkap oleh mata.
Dalam Pameran Belian, bunyi diperlakukan sebagai arsip hidup. Ia tidak dibekukan, tidak disterilkan, tetapi dibiarkan beresonansi dengan ruang dan waktu. “Dwell in Resonance” menjadi semacam medan temu antara bunyi yang terdokumentasi dan bunyi yang lahir spontan dari situasi.
Menariknya, ketertarikan Roni pada bunyi tidak hadir secara linear. Ia tumbuh dari persinggungan panjang dengan berbagai medium.
Sejak kecil, Roni menyukai visual dan gambar. Minat yang tumbuh sejak SD dan SMP. Saat SMA, ia aktif di teater, sebuah ruang yang mempertemukan visual, tubuh, teks, dan bunyi.
Namun di sanalah ia menyadari sesuatu: kepekaannya justru lebih kuat pada bunyi. “Makanya aku lebih banyak ngerjain musik untuk teater,” katanya.
Dulu, istilah yang digunakan adalah ilustrasi musik. Roni tidak sepakat dengan istilah itu. Bagi dia, musik dalam teater bukan tempelan. Ia bukan pelengkap, melainkan bagian struktural dari peristiwa.
“Aku suka hal-hal yang mendasar,” lanjutnya. Dan hal yang paling mendasar dari musik adalah bunyi.
Musik, dalam pengertian umum, sering direduksi menjadi beat dan ritme: sesuatu yang baku, terukur, dan terstruktur. Tetapi di balik itu ada frekuensi: low, middle, dan high.
Di sanalah bunyi bekerja sebagai energi mentah, sebagai getaran yang langsung bersentuhan dengan tubuh dan kesadaran.
Tahun 1998 menjadi titik balik lain. Saat masuk Lombok dan meninggalkan kuliah, Roni justru keranjingan video dan film. Visual kembali menjadi medan eksplorasi utama.
Namun pada satu titik, ia merasa kehilangan imajinasi. Visual terlalu konkret. Materialnya kelihatan. Ia selesai pada apa yang ditampilkan.
“Kalau sound, abstrak, tidak kelihatan,” ujarnya. Justru karena tidak kelihatan, bunyi menjadi pemicu imajinasi. Ia membuka ruang tafsir, ruang batin, dan ruang resonansi yang tidak dibatasi oleh bentuk.
Soundscape: Antara Mendengar dan Didengarkan
Ketika berbicara tentang soundscape, Roni tidak semata-mata membicarakan bentang bunyi sebagai komposisi artistik. Ia menariknya ke wilayah relasi sosial dan psikologis.
“Orang itu lebih suka berbicara daripada mendengarkan,” katanya. Kita sering melewatkan momen mendengarkan, padahal seseorang berbicara sejatinya ingin didengarkan.
Jika semua orang berbicara, frekuensi akan saling bertabrakan. Tidak ada coupling, tidak ada pertemuan. Mendengarkan menjadi laku yang langka, sekaligus mendesak. Dalam konteks ini, soundscape bagi Roni bersifat terapeutik.
“Bagi saya soundscape itu terapi,” ujarnya. Terapi untuk sesuatu yang terlewatkan, sesuatu yang kita abaikan. Soundscape mengajak kita berhenti sejenak, merasapi, menerima. Mendengarkan bukan sebagai aktivitas pasif, tetapi sebagai tindakan sadar.
Laku inilah yang kemudian ia terapkan dalam proyek Bangsal Megawe Pasirputih 2025. Di sana, bunyi tidak disusun untuk dipamerkan, melainkan dihadirkan sebagai pengalaman bersama. Bunyi menjadi medium untuk hadir sepenuhnya di dalam situasi.
Perubahan paling mendasar dalam praktik Roni adalah sikapnya terhadap pengalaman. Ia mengakui, beberapa tahun sebelumnya ia adalah tipe orang yang sering menolak apa yang dihadapinya.
Penolakan itu bukan tanpa alasan, tetapi ia menyadari dampaknya: jarak dengan lingkungan, dengan masyarakat, bahkan dengan dirinya sendiri.
Kini, ketika berada di tengah masyarakat, ia ingin menjadi reseptor: menyerap. Proses menyerap ini erat kaitannya dengan observasinya di sebuah kampung Buddha di Lombok Utara.
Di sana, ia melakukan meditasi. Ia memosisikan dirinya seperti alat perekam: diam, menyerap, tanpa intervensi.
“Saya berusaha tidak merencanakan sesuatu, saya hanya menerima, mengalir saja,” katanya. Sikap ini berlawanan dengan logika produksi seni yang serba terencana. Dalam “belian”, ketidakterencanaan justru menjadi metode.
Di akhir residensi, Roni mempresentasikan karya berjudul Kenjekaq—bahasa Sasak yang berarti situasi di antara, di tengah-tengah, liminalitas. Situasi ini ia temukan dalam meditasi: keadaan tidak sepenuhnya di sini, tidak sepenuhnya di sana.
Saat presentasi di Pasirputih, Roni tidak memainkan noise sebagai komposisi yang dikontrol sepenuhnya. Ia menggunakan modular secara live.
Ketika ingin membagi pengalaman Kenjekaq kepada pengunjung, noise dibiarkan berjalan tanpa durasi pasti. Tidak ada transisi yang halus. Bunyi dihentikan tiba-tiba, tanpa peringatan, hingga ia memberi tanda.
Intinya adalah berada di posisi Kenjekaq, di antara. Ajaibnya, dalam dua peristiwa berbeda, bunyi berhenti bukan karena ia mematikannya. Pertama, listrik mati. Kedua, komputernya mati sendiri saat pertunjukan di Bangsal.
Resonansi, Semesta, dan Melambat
Bagi Roni, peristiwa-peristiwa itu bukan sekadar kebetulan teknis. Ia membacanya sebagai resonansi antara bunyi, meditasi, dan respon semesta.
“Bunyi > meditasi > respon semesta > apa yang kita pikirkan terjadi,” katanya.
Inilah soundscape yang ia nikmati: kemampuan untuk diam dan mendengarkan segalanya. Di dunia yang serba cepat, melambat menjadi tindakan politis sekaligus spiritual.
Kita sering mengabaikan sesuatu karena ingin cepat: cepat selesai, cepat paham, cepat berpindah.
Pameran Belian, melalui karya “Dwell in Resonance”, mengajak kita melakukan sebaliknya. Menetap dalam resonansi.
Tinggal lebih lama dalam bunyi. Membiarkan frekuensi bekerja pada tubuh dan kesadaran kita.
“Bunyi itu adalah dasar,” ujar Ronieste. Dalam kalimat sederhana itu, tersimpan tawaran radikal: kembali ke yang paling elementer. Mendengarkan sebelum berbicara. Menerima sebelum menilai. Diam sebelum bertindak.
Melalui Pameran Belian, karya “Dwell in Resonance” mengajak kita kembali pada yang paling elementer: bunyi sebagai dasar pengalaman manusia. Bunyi tidak sekadar hadir sebagai medium artistik, melainkan sebagai laku kesadaran. Mengajarkan cara mendengarkan sebelum berbicara, menerima sebelum menilai, dan diam sebelum bertindak.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, praktik melambat dan mendengarkan menjadi sikap yang kian penting.
Dalam resonansi itulah Belian menemukan maknanya: seni bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai pengalaman hadir sepenuhnya, di antara bunyi, tubuh, dan kesadaran. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































