Oleh Agus K Saputra
CERAKEN.ID– Selasa malam, 30 Desember 2025, Gedung Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB kembali menjadi ruang perjumpaan antara tubuh, ingatan, dan keberanian artistik. Saksak Dance Production, sanggar tari yang telah lebih dari dua dekade menapaki jalan sunyi namun konsisten, menggelar Pentas Evaluasi, sebuah agenda tahunan yang bukan sekadar pertunjukan, melainkan forum refleksi, perenungan, dan pembacaan ulang perjalanan artistik.
Pentas Evaluasi bukanlah panggung selebrasi semata. Ia adalah ruang uji, tempat karya-karya dihadirkan untuk dibedah, dipertanyakan, dan dikritisi.
Di hadapan publik, penari, koreografer, dan pengelola sanggar membuka diri terhadap kemungkinan gagal, terhadap kekurangan, sekaligus terhadap harapan baru. Dalam tradisi inilah Saksak Dance Production menegaskan posisinya: seni bukan produk final, melainkan proses yang terus bergerak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lampu panggung menyala perlahan. Tubuh-tubuh penari memasuki ruang, membawa bukan hanya hafalan gerak, tetapi sejarah latihan panjang, disiplin, dan pertautan emosional dengan tradisi yang mereka rawat sekaligus gugat.
Sejak Awal: Melawan Stigma, Menawarkan Jalan
H. Lalu Agus Fathurrahman, pendiri Saksak Dance Production sekaligus pengamat seni, sejak awal telah menanamkan satu sikap mendasar: keberanian untuk berbeda. Saksak Dance, kata Miq Agus, “diusung” untuk mengembangkan Tari Tradisi dengan Pendekatan Kontemporer sebagai pakem artistiknya.
“Harus ada keberanian dan kemerdekaan untuk keluar dari stigma Bali, baik dari unsur gerak maupun musik,” ujar Miq Agus.
Pernyataan ini bukan sekadar kritik regionalisme seni, melainkan gugatan atas kecenderungan lama yang menempatkan seni Lombok khususnya tari dalam bayang-bayang estetika Bali. Dalam banyak forum, tari Lombok kerap dinilai dengan ukuran luar dirinya sendiri.
Saksak Dance memilih jalan lain: menggali akar tradisi Sasak, lalu mengolahnya dengan bahasa zaman.
Pilihan ini, suka tidak suka, melahirkan benturan. Saksak Dance seringkali berada di posisi “di luar pagar” ketika berhadapan dengan lingkungan tari yang masih setia pada pakem tradisi murni.
“Coba lihat lomba cipta tari dan gerak,” kata Miq Agus. “Nama Saksak Dance hampir tidak pernah muncul, padahal kriteria dan potensinya ada.”
Namun justru dari ruang marginal itulah identitas Saksak Dance ditempa.
Benturan estetik bukanlah kegagalan, melainkan tanda kehidupan. Saksak Dance memahami ini sejak awal. Ketika karya-karya mereka tidak sepenuhnya diterima oleh ekosistem lomba atau festival yang mapan, mereka memilih untuk tetap berjalan.
Alih-alih mengejar pengakuan instan, Saksak Dance menguatkan soliditas tim, membuka diri terhadap kolaborasi lintas disiplin, teater, musik, seni rupa, film, hingga sastra, serta terus melahirkan karya tari kreasi dengan pijakan tradisi dan pendekatan kontemporer.
Bagi Miq Agus, keberlanjutan tidak mungkin hanya ditopang oleh idealisme artistik. Penataan manajemen yang profesional menjadi syarat mutlak agar sanggar tidak hanya hidup, tetapi bertahan.
Dalam konteks inilah Pentas Evaluasi menemukan maknanya: ia adalah mekanisme internal untuk menjaga kualitas, sekaligus alat ukur sejauh mana visi awal masih berdenyut dalam tubuh para penarinya.

Bagi Lalu Surya Mulawarman, pendiri Saksak Dance Production, evaluasi bukan semata soal teknik. Ia adalah soal sikap hidup.
“Evaluasi ini ingin melihat sejauh mana progres, bukan cuma tentang wiraga, wirasa, dan wirama,” ujar Miq Surya. “Tetapi juga tentang etitude, kerja sama, tanggung jawab, dan loyalitas.”
Di Saksak Dance, penari tidak diposisikan sebagai penghafal koreografi. Mereka didorong untuk memahami tubuhnya sendiri, membaca makna di balik karya, serta menemukan cara personal dalam mengeksekusi gerak. Dari proses inilah lahir tafsir, dan dari tafsir lahirlah jati diri.
“Penari harus menemukan dirinya,” kata Miq Surya. “Mungkin suatu saat mereka menjadi koreografer handal Indonesia.”
Dalam banyak praktik pendidikan tari, teknik seringkali menjadi tujuan akhir. Saksak Dance justru menempatkan teknik sebagai alat. Yang utama adalah proses menjadi.
Proses itu panjang dan melelahkan: disiplin latihan fisik, olah rasa (roso), pengasahan intuisi, kepekaan musikal, hingga keberanian tampil di berbagai panggung dan lomba. Semua ini, menurut Miq Surya, jarang diajarkan secara utuh.
“Penari sering diajarkan menari, tapi tidak diajarkan bagaimana menjadi penari berkualitas yang bisa sejajar dengan penari nasional bahkan internasional,” tambahnya.
Pernyataan ini bukan klaim kosong. Fakta bahwa banyak penari Saksak Dance bertahan hingga sembilan atau sepuluh tahun menjadi bukti bahwa sanggar ini bukan ruang singgah, melainkan rumah proses.
Konsistensi dan Waktu yang Panjang
Sejak berdiri pada 20 Mei 2001, Saksak Dance Production telah melalui berbagai fase: keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan, hingga pergantian generasi penari. Banyak yang berhenti karena kuliah di luar daerah atau menikah. Namun roda tetap berputar.
“Ini menunjukkan bahwa konsistensi dan perjalanan panjanglah yang membuat Saksak Dance bertahan dan berprestasi secara nasional dan internasional,” pungkas Miq Surya.
Dalam dunia seni yang sering terjebak pada proyek-proyek jangka pendek, konsistensi semacam ini adalah kemewahan.
Bagi Mantra Ardhana, seniman Visual Poetry, Saksak Dance adalah representasi langsung dari Lalu Surya Mulawarman.
“Beberapa kali kolaborasi, saya merasakan elemen gerak tradisi Lombok yang sangat melekat. Ia adalah salah satu maestro tari di Lombok,” ujarnya.
Namun Mantra juga mengingatkan: kontemporer bukan tujuan akhir. Ia memiliki masa. Tantangan ke depan adalah keberanian untuk mengeksplorasi diri lebih jauh, melibatkan audiens, memanfaatkan media baru, dan menjaga sublimitas karya.
“Jika seni terlalu dijelaskan, ia justru kehilangan daya hidupnya,” kata Mantra.

Lalu Syaukani, perupa sekaligus Ketua Mandalika Art Community, melihat Saksak Dance bukan hanya sebagai komunitas tari, melainkan gerakan kolektif berbasis kearifan lokal.
Sejak keterlibatannya dalam berbagai event, ia meyakini bahwa kekuatan Saksak Dance terletak pada kemampuannya mengolah tradisi menjadi bahasa ekspresi yang relevan dengan hari ini dan masa depan.
“Mereka bukan hanya menjaga warisan, tetapi mengolahnya,” ujarnya.
Di titik inilah Saksak Dance menemukan relevansinya: tradisi tidak dibekukan, melainkan digerakkan.
Konsep Kreatif Berkarya: Menggali Akar, Menoreh Jiwa
Secara konseptual, Saksak Dance Production berpijak pada gagasan “Menggali Akar Menoreh Jiwa”, yang ditempuh melalui dua jalur utama: Dari Tradisi ke Kontemporer dan Kebebasan Berungkap.
Pendekatan ini berangkat dari kesadaran bahwa identitas seni kontemporer Indonesia tidak mungkin lahir tanpa dialog intens dengan tradisi. Tradisi adalah ladang emas, bukan untuk ditiru, tetapi untuk diolah.
Ketika seni tari mampu menjadi bahasa diplomasi lintas bangsa dan ideologi, mengapa tidak berharap lahirnya mazhab tari kontemporer Indonesia yang berakar kuat pada kekayaan lokal?
Dalam prinsip Kebebasan Berungkap, tubuh manusia dipahami sebagai medium personal sekaligus sosial. Saksak Dance tidak membatasi diri pada satu gaya atau teknik tertentu.
Kepentingannya terletak pada keberanian melahirkan sesuatu, tanpa beban asal-usul atau rasa sungkan terhadap norma yang membatasi.
Ekstremnya, kebebasan ini menuntut tanggung jawab penuh. Tidak ada ruang setengah hati. Proses kreatif harus dijalani secara total dan intens.
Esensinya adalah pencarian nilai diri, rasa, keyakinan, dan relasi dengan masa lalu serta masa depan. Karya bukan sekadar tontonan, melainkan sikap.
Hingga kini, Saksak Dance Production telah melahirkan hampir 50 karya tari, di antaranya:
Belenggu, Kodrat Wanita, Dedare, Nyatu Telu, Ngigel, Wanita Bersujud, Para-Mpuan, Lalo Begawe, Ajatukrama, Perwangsa, Ritual Benang Katak, Dedare Sasak, Lailatul Lil Alamin, hingga Empoq Guling.
Daftar panjang ini bukan sekadar arsip, melainkan peta pencarian estetik yang terus bergerak.
Pentas Evaluasi malam itu berakhir, namun proses tidak pernah benar-benar usai. Saksak Dance Production kembali menegaskan bahwa seni yang hidup adalah seni yang berani mengevaluasi diri.
Di tengah perubahan zaman, derasnya arus globalisasi, dan godaan popularitas instan, Saksak Dance memilih jalan yang mungkin lebih sunyi: merawat tradisi, mengolahnya dengan keberanian, dan menempa manusia di balik tubuh penari.
Di sanalah, barangkali, masa depan tari Lombok dan Indonesia sedang disiapkan.
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































