Sekambuh: Bahasa Simbolik Pengobatan dan Keyakinan dalam Instalasi Muhammad Gozali

Selasa, 13 Januari 2026 - 23:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rajah tidak bisa dipahami hanya sebagai artefak visual, melainkan sebagai penanda sistem keyakinan yang hidup dan terus dipraktikkan    (Foto: aks)

Rajah tidak bisa dipahami hanya sebagai artefak visual, melainkan sebagai penanda sistem keyakinan yang hidup dan terus dipraktikkan (Foto: aks)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID– Pameran “Belian” yang digelar Komunitas Pasir Putih di Galeri Seni Rupa Taman Budaya NTB hingga 17 Januari 2026 tidak hanya menghadirkan lukisan-lukisan berskala besar atau karya dua dimensi yang memanjakan mata. Di ruang yang sama, karya instalasi justru menawarkan pengalaman yang lebih “hening”, reflektif, dan berlapis makna.

Salah satunya adalah karya berjudul Sekambuh karya Muhammad Gozali. Sebuah instalasi yang lahir dari riset panjang tentang praktik pengobatan tradisional Belian Sasak.

Sekilas, Sekambuh tampak sebagai susunan benda-benda sederhana: rajah, sembeq, air ramuan, hingga pisau. Namun justru pada kesederhanaan material itulah kekuatan karya ini bekerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Instalasi ini tidak sekadar menampilkan objek, melainkan mengaktifkan ingatan kolektif, sistem kepercayaan, dan pengalaman spiritual yang hidup dalam masyarakat Sasak. Gozali menyusun berbagai elemen pengobatan tradisional tersebut sebagai satu bahasa visual yang utuh.

Bahasa yang mengisahkan bagaimana manusia, penyakit, alam, dan keyakinan saling terhubung dalam praktik Belian.

Dalam konteks pengobatan tradisional Sasak, sekambuh merujuk pada bagian akhir dari proses penyembuhan. Ia adalah tahap penutup, dilakukan ketika pasien telah merasa sehat, sebagai upaya “menutup” penyakit agar tidak kembali.

“Sekambuh itu sebuah istilah di Belian Sasak, bagian akhir dari pengobatan untuk menutup penyakit. Hal ini dilakukan jika pasien sudah merasa sehat dalam proses pengobatannya,” ujar Gozali, pendiri Komunitas Pasir Putih, saat menjelaskan makna judul karyanya.

Judul ini sekaligus menjadi kunci pembacaan instalasi. Sekambuh bukan tentang rasa sakit, melainkan tentang pemulihan. Bukan tentang luka, tetapi tentang penutupan, sebuah upaya simbolik untuk memastikan keseimbangan kembali tercapai.

Di karya ini, Gozali mengajak pengunjung memahami bahwa kesembuhan dalam tradisi Belian tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan sosial.

Rajah, misalnya, menjadi salah satu elemen utama dalam instalasi ini. Dalam praktik Belian, rajah merupakan perwujudan mantra yang divisualkan.

Ia bukan sekadar tulisan atau gambar, tetapi hasil dari pengetahuan spiritual yang diwariskan lintas generasi. Rajah bekerja sebagai medium komunikasi antara manusia dan kekuatan tak kasatmata.

Ketika ditanya mengenai unsur magis dalam rajah, Gozali mengakui bahwa di dalamnya memang terdapat persinggungan antara magis, spiritualitas, dan seni. Rajah tidak bisa dipahami hanya sebagai artefak visual, melainkan sebagai penanda sistem keyakinan yang hidup dan terus dipraktikkan.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Etika Kebudayaan Kota (Membaca Mataram dalam Narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026)

Sementara itu, sembeq dalam konteks instalasi ini merujuk pada penggunaannya sebagai media pengobatan, baik sebagai alat pendeteksi maupun penutup penyakit, serta simbol keberkatan. Sembeq bekerja di wilayah antara yang kasatmata dan tak kasatmata.

Ia adalah medium yang dipercaya mampu membaca kondisi tubuh sekaligus menyalurkan doa dan harapan. Dalam Sekambuh, sembeq tidak ditempatkan sebagai objek tunggal, melainkan bagian dari rangkaian simbol yang saling menguatkan.

Air ramuan dan pisau melengkapi narasi visual karya ini. Air ramuan menjadi simbol pembersihan, sementara pisau dimaknai sebagai alat pengusir sekaligus “pembunuh” penyakit.

Pisau, yang dalam keseharian bisa bermakna profan, dalam konteks Belian justru memiliki dimensi simbolik yang kuat. Ia bukan alat kekerasan, melainkan medium pemutus, memutus ikatan penyakit dengan tubuh manusia.

Dengan menyatukan elemen-elemen ini, Gozali membangun satu kosmologi visual tentang pengobatan tradisional, di mana setiap benda memiliki peran dan makna yang saling terkait.

Yang menarik, Sekambuh tidak hadir sebagai dokumentasi etnografis yang kaku. Instalasi ini tidak menggurui, tidak pula memaksakan tafsir tunggal.

Ia memberi ruang bagi pengunjung untuk merasakan, menafsirkan, dan berdialog dengan karya. Dalam konteks pameran “Belian”, karya ini menjadi semacam simpul, mengikat riset, praktik, dan ekspresi artistik dalam satu pengalaman ruang.

Jejak riset memang terasa kuat dalam karya ini. Sekambuh lahir dari pengamatan langsung terhadap praktik pengobatan Belian, dari benda-benda yang benar-benar digunakan dalam proses penyembuhan.

Namun Gozali tidak berhenti pada tahap pengumpulan data. Ia mengolah temuan-temuan tersebut menjadi bahasa seni kontemporer yang relevan dengan ruang galeri.

Di sinilah letak kekuatan Gozali sebagai seniman: kemampuannya menjembatani dunia riset dan dunia artistik tanpa mereduksi keduanya.

Transformasi ini tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Gozali di dunia multimedia dan film dokumenter. Lima tahun silam, kepada Kompas.id, Gozali bercerita bahwa ketertarikannya pada multimedia berawal dari kesenangannya menghimpun data dan informasi tertulis.

Saat itu, ia masih menjadi guru honorer di sekolah tsanawiyah dan aliyah di Lombok Utara. Di luar jam mengajar, ia berdagang konfeksi keliling ke desa-desa.

Dari perjumpaan-perjumpaan itulah ia mulai menyadari bahwa bahan-bahan tulisan yang ia kumpulkan memiliki potensi untuk dipublikasikan, bahkan divisualkan dalam bentuk film dan video.

Baca Juga :  Belian sebagai Pengalaman Hidup: Membaca Ritual Sasak dalam Ruang Pamer

Kesadaran tersebut mendorongnya mengajak teman-temannya mendirikan Komunitas Pasir Putih pada 28 Desember 2009. Komunitas ini bergerak dalam pemberdayaan media berbasis komunitas, terinspirasi dan didukung oleh Forum Lenteng Jakarta yang memperkenalkan teknik sinematografi dan video.

Karya pertama mereka adalah film dokumenter Elesan Deq a Tutuq (Jejak yang Tidak Berhenti), yang diputar dalam International Premiere International Documentary and Experimental Film Festival (Arkipel) di Jakarta pada 2013.

Sejak 2010 hingga 2019, Gozali dan Pasir Putih telah melahirkan setidaknya 10 karya video dan tujuh film pendek yang merekam denyut kehidupan pedesaan. Sebagian besar gagasan film tersebut datang dari Gozali.

Film pendek Cermin yang Retak mengangkat isu pernikahan usia dini dan kekerasan dalam rumah tangga. Film dokumenter Tubuh-tubuh di Atas Muara merekam kehidupan kampung nelayan, sementara Rahasia Dapur menyoroti proses pembuatan kuliner khas Lombok.

Semua karya ini menunjukkan keberpihakan Gozali pada cerita-cerita kecil, lokal, dan sering kali terpinggirkan.

Dalam lima tahun terakhir, transformasi karya Gozali terasa semakin kentara. Dari film dan video, ia bergerak ke medium instalasi dan seni rupa, tanpa meninggalkan akar riset dan dokumentasi.

Sekambuh menjadi penanda penting dari fase ini. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman panjang di dunia dokumenter membentuk sensitivitas visual dan konseptualnya dalam seni instalasi.

Selalu ada letupan dan kejutan dalam karya-karya Gozali. Bukan dalam bentuk sensasi, melainkan dalam cara ia membaca ulang tradisi dan menawarkannya sebagai wacana kontemporer.

Melalui Sekambuh, Gozali seolah mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke praktik-praktik pengobatan yang kerap dianggap usang atau irasional, lalu melihatnya sebagai sistem pengetahuan yang kaya makna. Instalasi ini tidak hanya berbicara tentang Belian Sasak, tetapi juga tentang cara manusia memaknai sakit, sembuh, dan hubungan dengan yang tak terlihat.

Di tengah arus modernitas dan medisinalisasi kesehatan, Sekambuh hadir sebagai pengingat bahwa kesembuhan juga menyangkut keyakinan, simbol, dan rasa percaya.

Di ruang galeri, Sekambuh mungkin hanya terdiri dari benda-benda diam. Namun bagi mereka yang bersedia membaca lapisan-lapisan maknanya, karya ini hidup, menggema sebagai narasi tentang tradisi, riset, dan transformasi artistik seorang Muhammad Gozali.

Sebuah penutup yang tidak menutup percakapan, melainkan justru membukanya lebih lebar.

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA