CERAKEN.ID– Galeri Taman Budaya NTB, Rabu malam, 14 Januari 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 19.31 Wita. Sejumlah pengunjung tampak “mematung” di hadapan dua layar besar yang menyala tenang.
Di ruang yang remang itu, gambar-gambar bergerak dari dunia mikroskopik menari perlahan, membentuk garis, lingkar, jarum, dan warna-warna yang asing sekaligus memikat. Karya video itu berjudul Simfoni Kecil, sebuah proyeksi dua kanal karya Afifah Farida.
Namun yang hadir malam itu bukan hanya visual. Bentang bunyi dari “ulah” Ronieste, seniman bunyi yang dikenal gemar meretas batas antara dengar dan rasa, ikut meruang, mengisi sela-sela gambar dengan lapisan auditif yang subtil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bunyi tak hadir sebagai ilustrasi, melainkan sebagai penuntun penghayatan, seolah membantu penonton menyelami sesuatu yang lebih dalam: sebuah pertanggungjawaban riset yang biasanya berdiam di laboratorium, kini dibuka kepada publik.
Pameran Belian yang dihelat Komunitas Pasir Putih Lombok Utara memang bukan pameran seni rupa dalam pengertian konvensional semata. Ia adalah ruang temu: antara praktik tradisi pengobatan, riset akademik, seni visual, dan pengalaman inderawi.
Simfoni Kecil berdiri di persimpangan itu. Tenang, ilmiah, namun sekaligus puitik.
Membuka Minyak Belian dari Sudut Ilmiah
Afifah Farida, akademisi pertanian Universitas Mataram, menjelaskan bahwa latar belakang riset ini sesungguhnya sangat sederhana. “Kami ingin membedah isi dari minyak Belian,” ujarnya.
Dalam tradisi masyarakat, minyak Belian dipercaya memiliki daya penyembuhan. Keyakinan itu diwariskan lintas generasi, dipraktikkan, dirasakan, dan diyakini.
Namun bagi Afifah dan tim risetnya, muncul satu pertanyaan mendasar: bagaimana menjembatani pengetahuan empirik-tradisional dengan bahasa ilmiah yang bisa dipahami dan dipertanggungjawabkan secara akademik?
“Secara teori ilmiah, tumbuhan memiliki zat yang dikenal dengan metabolit sekunder,” jelas Afifah.
Zat-zat ini bersifat bioaktif, memiliki efek terhadap tubuh manusia, dan menjadi dasar banyak bahan obat-obatan modern saat ini. Persoalannya kemudian bergeser: bagaimana zat-zat yang biasanya hanya bisa dilihat di laboratorium, di bawah mikroskop, dapat dihadirkan untuk dilihat oleh orang banyak?
Diskusi dengan Muhammad Sibawahi, kurator Pameran Belian, membuka jalan eksperimentasi. Afifah dan timnya kemudian mengamati berbagai minyak dan ramuan Belian di bawah mikroskop, merekam proses visualnya dalam bentuk video. Hasilnya di luar dugaan.
“Ternyata video yang dihasilkan dari setiap minyak sangat menarik,” kata Afifah.
Setiap bahan membentuk pola dan warna yang berbeda. Ada yang menyerupai jarum, lingkaran, heksagonal, dan struktur-struktur lain yang tak kalah artistik dari karya seni abstrak.
Secara ilmiah, pola-pola tersebut bukan sekadar indah. Ia menjadi indikasi awal keberadaan metabolit sekunder tertentu. Minyak bawang, misalnya, membentuk pola lingkaran yang mengindikasikan kandungan oleoresin dengan zat bioaktif. Larutan kunyit memperlihatkan lingkaran kuning jingga—penanda keberadaan kurkumin.
Dari laboratorium ke ruang pamer, video-video itu kemudian dirangkai menjadi Simfoni Kecil. Sebuah upaya menunjukkan bahwa, dari sudut pandang akademisi, minyak-minyak yang digunakan dalam praktik Belian memang mengandung zat yang secara ilmiah dapat menjelaskan daya penyembuhannya.
Respons pengunjung menjadi salah satu penanda penting keberhasilan karya ini. Menurut Afifah, banyak pengunjung mengaku baru pertama kali melihat visualisasi zat-zat pengobatan yang selama ini hanya mereka dengar atau percayai secara turun-temurun.
“Tanggapan masyarakat sangat menarik,” ujarnya. “Karena bisa memvisualisasikan sesuatu yang biasanya hanya bisa dilihat di laboratorium, tetapi sekarang bisa dilihat oleh orang banyak.”
Di hadapan layar, rasa ingin tahu tumbuh. Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga mulai memahami bahwa di balik praktik pengobatan tradisional terdapat kerja material dan kimiawi yang nyata. Seni, dalam konteks ini, menjadi jembatan literasi sains.
Kehadiran bunyi dari Ronieste memperkuat pengalaman tersebut. Bunyi yang berlapis, ritmis, namun tidak mendominasi, seolah mengajak penonton untuk melambat, memberi ruang kontemplasi atas apa yang sedang disaksikan.
Visual mikroskopik tak lagi dingin dan steril, melainkan hidup, bernapas, dan beresonansi.

Estetika Mikroskopik dan Jaringan Semesta
Sebagai karya video dua kanal beresolusi 1080p, Simfoni Kecil menempatkan dirinya di antara seni dan riset. Ia lahir dari praktik Afifah Farida sebagai dosen pertanian dan aktivis literasi pertanian yang bekerja di dua ruang sekaligus: laboratorium dan kehidupan masyarakat.
Melalui pembesaran mikroskopis, elemen-elemen pengobatan menyingkap jaringan yang rumit dan unik, lapisan yang selama ini luput dari pengalaman visual sehari-hari. Serat, garis, dan warna tampil intens, membentuk komposisi yang mengingatkan pada nirmana garis dan warna dalam seni rupa modern.
Namun bagi Afifah, warna bukan sekadar kualitas visual. Ia adalah titik temu berbagai unsur kimia yang saling berinteraksi. Keindahan tidak berdiri terpisah dari kerja material alam.
Justru di sanalah letak keajaibannya: bahwa proses kimiawi yang bekerja diam-diam di dalam tumbuhan menyimpan estetika yang menakjubkan.
Video ini mengajak kita menyadari bahwa pengobatan, pengetahuan ilmiah, dan keindahan visual saling berkelindan dalam sebuah jaringan semesta yang kompleks dan misterius. Terus bekerja bahkan pada lapisan-lapisan yang tak sepenuhnya bisa dilihat mata manusia.
Di luar karya Simfoni Kecil, Afifah Farida Jufri dikenal sebagai sosok yang konsisten menjembatani pengetahuan akademik dengan publik.
Ia adalah dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, sekaligus pengelola platform sayurankita.com, sebuah ruang berbagi pengetahuan pertanian yang digagas sejak 2016.
“Sayurankita.com itu platform untuk menyampaikan informasi pertanian, khususnya sayuran dan pertanian urban, yang dikombinasikan dengan sudut pandang sosiokultural dan pengelolaan media,” jelasnya rinci.
Aktivitas ini ia jalankan berdampingan dengan riset, pengabdian masyarakat, dan pembangunan laboratorium pertanian rumahan, seperti yang ia lakukan di Lombok Barat pada 2025.
Latar belakang pendidikannya di bidang Agronomi dan Hortikultura (IPB) serta karya-karya tulisnya, seperti Aksara Tani (2021), Keanekaragaman Tumbuhan Bukit Rangsot (2024), dan Ekofisiologi Tanaman Pangan (2024), menegaskan posisinya sebagai akademisi yang berpijak kuat pada praktik lapangan.
Sebagai bagian dari Pameran Belian Komunitas Pasir Putih Lombok Utara, Simfoni Kecil tidak memaksakan kesimpulan.
Ia justru membuka ruang renung: tentang bagaimana pengetahuan tradisional dan sains modern bisa saling menyapa tanpa saling meniadakan; tentang bagaimana seni mampu menjadi medium komunikasi ilmiah yang jujur dan memikat.
Hingga 17 Januari 2026, karya ini masih bisa dinikmati di Galeri Taman Budaya NTB. Menyaksikannya bukan sekadar melihat video, melainkan memasuki percakapan panjang antara tumbuhan, manusia, tradisi, laboratorium, bunyi, dan cahaya.
Sebuah simfoni kecil namun bergema jauh.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































