Strategi I Ketut Gede Winata Membangun Pegadaian Cabang Selong yang Produktif dan Humanis

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepemimpinan yang tegas namun humanis dapat menumbuhkan kinerja (Foto: ist/ceraken.id)

Kepemimpinan yang tegas namun humanis dapat menumbuhkan kinerja (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Sejak Oktober 2025, tongkat kepemimpinan PT Pegadaian Cabang Selong berada di tangan I Ketut Gede Winata. Di tengah dinamika ekonomi masyarakat Lombok Timur yang bertumpu pada sektor perdagangan, pertanian, dan UMKM, kehadiran Pegadaian bukan sekadar lembaga pembiayaan.

Ia adalah simpul kepercayaan, tempat warga menambatkan harapan saat kebutuhan mendesak datang, sekaligus mitra dalam merencanakan masa depan.

Bagi Gede Winata, memimpin cabang di Selong bukan hanya tentang mengejar angka. Ia melihat cabang sebagai “pusat layanan kepercayaan masyarakat,” bukan sekadar unit operasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari visi inilah arah kepemimpinannya dirumuskan: tegas dalam target, humanis dalam pendekatan, dan kokoh dalam tata kelola.

Mempertegas Visi, Menyatukan Arah

Langkah pertama yang ia lakukan adalah memperjelas kembali visi cabang agar selaras dengan visi besar perusahaan. Visi itu tidak berhenti pada slogan, melainkan diterjemahkan menjadi target yang jelas, terukur, dan dipahami seluruh insan cabang.

Baginya, kesamaan arah adalah fondasi. Setiap pegawai harus memahami bahwa aktivitas harian, melayani transaksi gadai, memproses pembiayaan, hingga menjelaskan produk, merupakan bagian dari misi besar membangun kepercayaan publik. Target bukan beban, tetapi kompas.

Penajaman visi ini menjadi penting karena Selong, sebagai pusat aktivitas ekonomi di Lombok Timur, memiliki karakter nasabah yang beragam.

Ada petani yang membutuhkan dana cepat menjelang musim tanam, pedagang pasar yang memutar modal harian, hingga keluarga muda yang mulai berinvestasi emas. Tanpa arah yang jelas, cabang akan berjalan rutin tanpa daya dorong pertumbuhan.

Gede Winata menyadari, kinerja cabang tidak akan pernah melampaui kualitas sumber daya manusianya. Karena itu, ia memulai dengan pemetaan kompetensi pegawai sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing.

Pemetaan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menemukan ruang tumbuh. Pendampingan dan coaching rutin dilakukan, terutama dalam aspek layanan, penjualan, dan kepatuhan.

Ia membangun budaya diskusi berbasis data, setiap capaian dibaca, setiap tantangan diurai bersama.

Budaya kerja yang disiplin, kolaboratif, dan berintegritas menjadi nilai yang terus ditanamkan. Dalam berbagai kesempatan internal, ia menekankan bahwa integritas adalah harga mati. Prestasi tanpa kepatuhan, menurutnya, bukanlah keberhasilan yang utuh.

Untuk menjaga semangat, sistem apresiasi juga diperkuat. Pegawai yang menunjukkan kinerja dan kontribusi nyata mendapatkan pengakuan. Di sinilah pendekatan tegas namun humanis menemukan bentuknya: target tetap dikejar, tetapi manusia tetap dihargai.

Di mata Gede Winata, nasabah adalah pusat dari seluruh aktivitas cabang. Maka peningkatan kualitas layanan menjadi prioritas strategis.

Baca Juga :  Jejak Maulana Syaikh di Museum NTB: Merawat Warisan Ulama, Pendidik, dan Pejuang Kebangkitan Tanah Air

Standar service excellence dijaga secara konsisten. Proses transaksi dipercepat tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Dalam bisnis gadai dan pembiayaan, kecepatan memang penting, tetapi akurasi dan kepatuhan jauh lebih menentukan keberlanjutan.

Komunikasi dengan nasabah diarahkan untuk selalu ramah, solutif, dan berorientasi kebutuhan. Setiap masukan dan keluhan tidak dipandang sebagai kritik semata, melainkan bahan evaluasi untuk perbaikan.

Filosofinya sederhana: pelayanan yang baik melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan melahirkan loyalitas.

Dalam konteks Lombok Timur yang masyarakatnya menjunjung tinggi relasi personal, pendekatan humanis ini menjadi kekuatan tersendiri. Pegadaian tidak hanya hadir sebagai institusi, tetapi sebagai mitra yang memahami kebutuhan lokal.

Menjaga Pertumbuhan yang Sehat

Untuk meningkatkan kinerja bisnis, fokus diarahkan pada optimalisasi produk inti: gadai, pembiayaan, dan jasa lainnya.

Produk-produk tersebut dipetakan sesuai potensi wilayah. Misalnya, momentum musiman seperti musim tanam, hari besar keagamaan, atau tahun ajaran baru dimanfaatkan sebagai peluang peningkatan transaksi.

Strategi cross selling diperkuat untuk meningkatkan nilai transaksi per nasabah. Nasabah yang datang untuk gadai didorong mengenal produk pembiayaan atau investasi emas. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan volume sekaligus kualitas bisnis.

Pengambilan keputusan berbasis data menjadi prinsip penting. Kinerja dipantau secara rutin, risiko usaha dimonitor, dan capaian target dievaluasi secara periodik. Dengan cara ini, pertumbuhan cabang tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan.

Dalam industri keuangan, reputasi dibangun dalam waktu lama dan bisa runtuh dalam sekejap. Karena itu, Gede Winata menempatkan kepatuhan, tata kelola, dan manajemen risiko sebagai fondasi utama.

Seluruh proses dipastikan sesuai SOP dan regulasi perusahaan. Pengawasan internal diperkuat, pengendalian risiko ditingkatkan, dan nilai integritas terus ditanamkan.

Seleksi nasabah dan agunan dilakukan sesuai ketentuan, sementara kualitas portofolio dan potensi NPL dimonitor secara berkala.

Pendekatan preventif dan korektif diterapkan secara seimbang. Ia menekankan bahwa mengejar target tidak boleh mengorbankan kualitas. Bagi cabang Selong, keberhasilan bukan hanya tercapainya angka KPI, tetapi juga terjaganya kesehatan portofolio.

Sebagai BUMN, PT Pegadaian memiliki tanggung jawab sosial yang melekat. Di Selong, peran ini diwujudkan melalui literasi keuangan dan edukasi emas kepada masyarakat.

Cabang aktif menjalin hubungan dengan berbagai stakeholder dan lingkungan sekitar. Pendekatan komunitas dilakukan untuk memperkenalkan produk sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan keuangan yang bijak.

Citra Pegadaian sebagai lembaga yang aman, peduli, dan terpercaya dijaga melalui konsistensi layanan dan keterlibatan sosial. Di wilayah yang tumbuh dengan dinamika UMKM, edukasi keuangan menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Kinerja Melampaui Target, Strategi Tim Jadi Kunci Sukses Pegadaian Cabang Ampenan

Strategi Pencapaian KPI 2026: Dari Perencanaan ke Eksekusi

Memasuki tahun 2026, fokus diarahkan pada strategi pencapaian target kinerja (KPI) secara sistematis. Langkah awal adalah melakukan breakdown KPI hingga level unit dan individu. Target tahunan dipecah menjadi target bulanan dan mingguan agar lebih mudah dikontrol.

KPI tidak lagi dipandang sebagai angka laporan, tetapi menjadi bagian dari aktivitas harian. Setiap pegawai memahami kontribusinya terhadap kinerja cabang secara keseluruhan.

Strategi pertumbuhan bisnis difokuskan pada optimalisasi produk unggulan sesuai potensi wilayah, peningkatan repeat order dari nasabah eksisting, serta akuisisi nasabah baru melalui pendekatan komunitas dan kemitraan lokal.

Aktivasi pemasaran dilakukan secara konsisten, door to door, menyasar UMKM, hingga memanfaatkan momentum musiman.Efektivitas kegiatan pemasaran dimonitor berdasarkan hasil nyata. Data menjadi alat ukur, bukan sekadar arsip.

Untuk memastikan target tercapai, produktivitas SDM terus ditingkatkan. Target individu ditetapkan realistis namun menantang. Coaching mingguan berbasis data dilakukan untuk mengidentifikasi gap antara target dan realisasi.

Mindset ownership ditanamkan, setiap pegawai didorong merasa memiliki tanggung jawab terhadap capaian cabang. Sistem apresiasi dan pembinaan diterapkan secara berimbang, sehingga motivasi tetap terjaga.

Di sisi lain, efisiensi proses menjadi kunci kinerja 2026. Optimalisasi sistem dan aplikasi perusahaan didorong, proses layanan disederhanakan tanpa mengurangi kontrol, dan data transaksi dimanfaatkan untuk analisis peluang bisnis.

Adaptasi digital tidak hanya ditujukan bagi pegawai, tetapi juga didorong kepada nasabah.

Disiplin Evaluasi, Kunci Konsistensi

Strategi tidak berhenti pada perencanaan. Evaluasi kinerja dilakukan rutin, baik mingguan maupun bulanan. Setiap gap antara target dan realisasi diidentifikasi, lalu ditindaklanjuti dengan langkah perbaikan cepat dan terukur.

Ritme kerja dijaga agar konsisten hingga akhir tahun. Disiplin dalam evaluasi menjadi kunci konsistensi hasil. Dengan pendekatan terarah, berbasis data, dan berorientasi pada layanan, Gede Winata optimistis target kinerja dan KPI 2026 dapat tercapai secara sehat dan berkelanjutan.

“Dengan strategi yang terarah, berbasis data, berorientasi pada layanan, dan dijalankan secara disiplin, saya optimis target kinerja dan KPI tahun 2026 dapat tercapai secara sehat, berkelanjutan, dan sesuai nilai-nilai Pegadaian,” pungkasnya.

Di Selong, kepemimpinan bukan sekadar jabatan. Ia adalah tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan.

Dan dari cabang kecil di Lombok Timur itulah, Gede Winata sedang membuktikan bahwa kepemimpinan yang tegas namun humanis dapat menumbuhkan kinerja, memperkuat integritas, dan merawat kepercayaan masyarakat, aset paling berharga bagi sebuah lembaga keuangan. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Prof Aminuddin Salle: Balla Barakkaka ri Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak
Rutin Nongkrong di Warkop, AB Iwan Azis Justru Tak Pernah Ngopi
Jejak Maulana Syaikh di Museum NTB: Merawat Warisan Ulama, Pendidik, dan Pejuang Kebangkitan Tanah Air
Kinerja Melampaui Target, Strategi Tim Jadi Kunci Sukses Pegadaian Cabang Ampenan
Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:33 WITA

Strategi I Ketut Gede Winata Membangun Pegadaian Cabang Selong yang Produktif dan Humanis

Jumat, 20 Februari 2026 - 08:15 WITA

Prof Aminuddin Salle: Balla Barakkaka ri Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak

Rabu, 11 Februari 2026 - 11:53 WITA

Rutin Nongkrong di Warkop, AB Iwan Azis Justru Tak Pernah Ngopi

Rabu, 11 Februari 2026 - 11:24 WITA

Jejak Maulana Syaikh di Museum NTB: Merawat Warisan Ulama, Pendidik, dan Pejuang Kebangkitan Tanah Air

Senin, 9 Februari 2026 - 14:05 WITA

Kinerja Melampaui Target, Strategi Tim Jadi Kunci Sukses Pegadaian Cabang Ampenan

Berita Terbaru

Tempah Dedoro mengajak masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri (Foto: ist)

AJONG MENTARAM

Menuju Kota Bersih: Di Tengah Krisis TPA, Asa Itu Tetap Menyala

Jumat, 27 Feb 2026 - 10:07 WITA