“Tersobek-Sobek”: Ketika I Nyoman Sandiya Menjahit Ulang Urat Kehidupan di Atas Kanvas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Tersobek-Sobek". Karya lukis I Nyoman Sandiya (Foto: dokri ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di antara deretan karya yang dipajang dalam Art Painting Exhibition bertajuk “Narratives” di Rplay Lombok, kehadiran I Nyoman Sandiya menghadirkan energi yang berbeda.

Pameran yang berlangsung pada 17 Februari–31 Maret 2026 itu merupakan kolaborasi ruang kreatif Rplay Lombok bersama Mandalika Art Community (MAC), sebuah komunitas yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten merawat denyut seni rupa di Nusa Tenggara Barat.

Dalam catatan ceraken.id (Jumat, 20 Februari 2026), Sandiya tampil dengan karakter ekspresif yang kuat. Ia menghadirkan sejumlah karya seperti Suluh Bayang Kehidupan, Gerak Sawah (13 karya), Berlindung, Teronggok, dan terutama Tersobek-Sobek.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lanskap agraris: sawah yang menghampar, gerak tanah yang berdenyut, tidak sekadar menjadi latar visual. Pada tangan Sandiya, sawah menjelma metafora tentang ketahanan, kerja, dan relasi manusia dengan tanah sebagai sumber kehidupan.

Namun dari keseluruhan karya yang dipamerkan, Tersobek-Sobek (122 x 120 cm, kanvas, cat akrilik, 2025) menghadirkan impresi paling kuat. Dominasi warna biru segera menangkap perhatian, diselingi semburat merah yang mencolok seakan menjadi simbol darah, luka, atau energi yang terlepas dari tubuh kehidupan itu sendiri.

Sandiya memiliki formula tersendiri dalam mengolah warna. “Dalam pewarnaan saya biasanya memakai tiga warna itu 60, 30, 10. Baik biru 60, bahkan bisa jadi merah 60 sesuai dengan ide dalam karya. Kalau biru kesan dominan berarti birunya 60, putihnya 30, dan merahnya 10,” ujarnya.

Rumus sederhana itu bukan sekadar teknis komposisi, melainkan cara mengatur emosi dalam kanvas. Dominasi 60 persen menjadi penentu atmosfer.

Pada Tersobek-Sobek, biru yang menguasai ruang menciptakan kesan dingin, hening, bahkan getir, sementara merah hadir sebagai interupsi, seperti denyut luka yang belum sepenuhnya kering.

Siluet dalam lukisan tersebut tampak terputus-putus, seperti serat yang tercerai. Ketika ditanya apakah bentuk itu sinonim dengan judulnya, Sandiya menjawab lugas:

Baca Juga :  Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

“Ya itu simbol keretakan, sobekan, juga simbol keinginan atau semangat untuk memperbaiki, merajut sobekan-sobekan itu walau tidak sesempurna aslinya. Betul itu urat-urat kehidupan yang terputus-putus yang menimbulkan betapa rapuhnya kehidupan kita saat ini.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa “sobekan” dalam karya ini tidak berhenti pada visual retak atau pecah. Ia menjadi metafora tentang fragmen kehidupan: tentang relasi sosial yang renggang, lingkungan yang rusak, hingga rasa kemanusiaan yang terkikis.

Sobekan bukan hanya tanda kehancuran, tetapi juga ruang untuk merajut kembali, meski dengan bekas luka yang tak mungkin hilang sepenuhnya.

Konsistensi menjadi salah satu karakter kuat Sandiya.

Ketika ditanya apakah ia tetap menyuarakan apa yang terjadi di lingkungan sekitar manusia, ia menegaskan, “Ya saya akan tetap bersuara lewat karya seni lukis saya tentang lingkungan yang sudah mulai diabaikan. Kepedulian terhadap lingkungan sangat sedikit yang peduli. Semoga dari karya ini setidaknya mengingatkan kita betapa bahayanya kalau lingkungan kita rusak.”

Di titik ini, seni lukis bagi Sandiya bukan sekadar ekspresi personal, melainkan medium advokasi. Sawah, tanah, lanskap agraris, dan retakan yang ia tampilkan merupakan refleksi kegelisahan atas krisis ekologis yang semakin nyata.

Polusi, perubahan iklim, dan bencana alam bukan lagi isu abstrak. Ia hadir sebagai kenyataan global yang berdampak langsung pada keseharian masyarakat.

Tersobek-Sobek juga merekam fragmentasi dunia dalam skala lebih luas. Sandiya menyebut konflik internasional, ketegangan antarnegara, hingga perang yang memengaruhi stabilitas global sebagai bagian dari konteks penciptaan karya.

Krisis ekonomi yang mengguncang sendi kehidupan masyarakat, serta pandemi COVID-19 yang merebak sejak akhir 2019, menjadi pengalaman kolektif yang meninggalkan luka fisik maupun emosional.

Dengan demikian, sobekan dalam kanvasnya adalah sobekan zaman. Ia berbicara tentang dunia yang terbelah oleh konflik, masyarakat yang retak oleh ketimpangan, dan individu yang terpecah oleh kecemasan.

Baca Juga :  Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”

Biru yang dominan bisa dibaca sebagai langit yang muram atau lautan ketidakpastian, sementara merah menjadi jejak peristiwa: darah sejarah, emosi, dan pergulatan batin.

Di sisi lain, karya ini juga memuat kritik sosial dan politik. Sandiya tidak menutup kemungkinan bahwa Tersobek-Sobek mengungkapkan kesedihan dan kekecewaan terhadap kondisi sosial masyarakat serta dinamika politik kekuasaan saat ini.

Dalam konteks tersebut, lukisan menjadi ruang sublimasi: tempat kegelisahan diterjemahkan menjadi komposisi warna dan tekstur.

Menariknya, meski berbicara tentang keretakan dan kerapuhan, karya ini tidak sepenuhnya pesimistis. Ada semangat untuk “merajut kembali” yang tersirat dalam pernyataannya.

Sobekan memang ada, tetapi selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki, meski tak lagi sempurna seperti semula. Di situlah letak optimisme yang tersembunyi bahwa kesadaran atas kerapuhan justru bisa menjadi titik awal pemulihan.

Partisipasi I Nyoman Sandiya dalam “Narratives” memperkaya tafsir tentang bagaimana seniman membaca zaman.

Jika sebagian karya lain mungkin berbicara tentang identitas, memori, atau lanskap personal, maka Sandiya menghadirkan lanskap global yang terpantul dalam pengalaman lokal. Sawah dan tanah Lombok menjadi cermin dunia yang lebih luas, dunia yang sedang mencari cara untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Tersobek-Sobek bukan hanya judul lukisan. Ia adalah pernyataan sikap.

Sebuah refleksi tentang kehidupan yang rapuh, lingkungan yang terancam, dan masyarakat yang terfragmentasi. Sekaligus harapan bahwa di tengah sobekan itu, manusia masih memiliki kehendak untuk merajut ulang urat-urat kehidupannya.

Melalui kanvas dan sapuan akriliknya, Sandiya mengingatkan bahwa seni tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh dari realitas, menyerap luka zaman, lalu mengembalikannya kepada publik dalam bentuk refleksi visual.

Di ruang pamer Rplay Lombok, sobekan itu terpajang bukan untuk diratapi, melainkan untuk direnungkan dan, mungkin, mulai diperbaiki bersama.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Dari Gedung Penuh Penonton Menuju Mimpi Festival Teater Mahasiswa NTB
Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB
Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB
Dari Gedung Teater ke Ruang Sosial: Pekan Teater Pelajar NTB 2026 Capai Puncak Apresiasi
Sajak di Balik Tirai: Kebangkitan Teater Pelajar NTB dari Panggung yang Sunyi
Menangkap Wajah Sunyi dalam Biru: Keliaran Baru Lalu Arief Budiman di Seri “Girls”
Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta
Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:26 WITA

Dari Gedung Penuh Penonton Menuju Mimpi Festival Teater Mahasiswa NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:59 WITA

Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:33 WITA

Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:26 WITA

Dari Gedung Teater ke Ruang Sosial: Pekan Teater Pelajar NTB 2026 Capai Puncak Apresiasi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 01:06 WITA

Sajak di Balik Tirai: Kebangkitan Teater Pelajar NTB dari Panggung yang Sunyi

Berita Terbaru

Kebudayaan tidak diposisikan sebagai aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat (Foto: pmb.ummat.ac.id)

PAGELARAN

Di Balik Tirai PTP 2026, Teater, Ekonomi, dan Harapan untuk NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:59 WITA

Pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana seni dan generasi muda mampu bergerak bersama menjawab tantangan sosial di Nusa Tenggara Barat (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menutup Panggung, Menyalakan Tanggung Jawab Pemuda NTB

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:33 WITA