Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Minggu, 18 Januari 2026 - 13:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar-gambar itu tidak statis; ia terus berubah, dihapus, ditambahkan, dan dilahirkan kembali menjadi adegan baru. (Foto: aks)

Gambar-gambar itu tidak statis; ia terus berubah, dihapus, ditambahkan, dan dilahirkan kembali menjadi adegan baru. (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Puncak acara “Artunity: Art Speaks, Humanity Listens” dengan tema A Charity Night for Sumatera akhirnya tiba pada Sabtu malam, 17 Januari 2026. Di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Prov. NTB, lampu diredupkan, musik mengalun perlahan, dan ratusan pasang mata tertuju ke satu titik cahaya: sebuah lightbox sederhana tempat pasir akan berbicara.

Di sanalah Cikughea, pelukis pasir pertama dari Nusa Tenggara Barat, menutup rangkaian Artunity dengan sebuah pertunjukan Live Sand Animation yang menggugah emosi dan kesadaran kolektif.

Tak ada dialog panjang. Tak ada pidato. Yang hadir adalah pasir, cahaya, musik, dan cerita tentang Sumatera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah pulau yang selama ini kita kenal sebagai bentang alam megah, namun kian rapuh oleh ulah manusia.

Di layar besar, tangan Cikughea mulai bergerak. Taburan pasir halus membentuk siluet pulau. Narasi puitik mengalir, seolah membacakan kesaksian alam itu sendiri:

Di bentangan barat Nusantara,

terhampar sebuah pulau bernama Sumatra.

Hutan hijau yang bernapas,

air terjun yang jatuh seperti doa,

pegunungan yang berdiri menjaga langit…

Satu demi satu adegan berubah. Hutan lebat, air yang mengalir, satwa yang hidup berdampingan, tergambar hanya dalam hitungan detik.

Pasir yang sama, dengan satu usapan tangan, menjelma pohon, lalu sungai, lalu wajah manusia yang memandang alam dengan penuh harap.

Visualnya cair, magis, dan rapuh: seperti kehidupan itu sendiri.

Sumatera digambarkan bukan sekadar wilayah geografis, melainkan rumah. Rumah bagi manusia, satwa, dan seluruh makhluk hidup yang berbagi ruang.

Setiap ranting menjadi penopang hidup, setiap daun menjadi atap, dan setiap aliran air adalah nadi kehidupan. Namun cerita itu tak berhenti di keindahan.

Pasir kembali dihapus. Gerakan tangan menjadi lebih cepat, lebih tegas. Hadir siluet alat berat, pohon-pohon yang tumbang, air yang mengering.

Adegan berubah drastis, seiring narasi yang kian muram:

Tangan-tangan manusia datang

membawa besi, membawa suara bising,

menjarah tanpa jeda…

Di layar, atap hilang. Rumah lenyap. Satwa berlarian meninggalkan habitatnya. Mereka memasuki perkampungan manusia.

Baca Juga :  Jurnalisme Teater, Ingatan Kolonial, dan Perlawanan Budaya Masyarakat Adat Gumantar

Bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai korban yang mencari sisa kehidupan. Hujan turun deras, namun bukan lagi sebagai berkah. Air mata alam larut bersama rintiknya.

Pertunjukan itu mencapai klimaks ketika layar hanya menyisakan kehampaan. Tak ada napas. Tak ada kehidupan. Yang tertinggal hanyalah satu kata yang dibentuk perlahan oleh pasir: harapan.

Harapan agar manusia kembali ingat,

bahwa ketika hutan mati,

kita semua ikut kehilangan rumah.

Tepuk tangan pecah. Beberapa penonton terdiam lebih lama, menyeka mata. Live sand animation malam itu bukan sekadar penampilan puncak, melainkan pernyataan sikap: bahwa seni dapat menjadi cermin paling jujur bagi perilaku manusia terhadap alam dan sesamanya.

Live sand animation sendiri adalah bentuk seni pertunjukan yang unik. Seorang seniman menciptakan gambar bergerak secara langsung menggunakan pasir di atas permukaan kaca yang diterangi dari bawah.

Setiap gerakan jari, setiap sapuan tangan, direkam kamera dan diproyeksikan secara real-time ke layar besar. Gambar-gambar itu tidak statis; ia terus berubah, dihapus, ditambahkan, dan dilahirkan kembali menjadi adegan baru.

Teknik ini memadukan animasi stop-motion dengan pertunjukan langsung. Pasir yang bersifat cair dan transparan memungkinkan terciptanya efek visual menyerupai kabut, air, atau transformasi bentuk yang tak terduga.

Karena berlangsung secara langsung, kesalahan tak bisa diulang. Di situlah letak ketegangan sekaligus keindahannya (Foto: aks)

Karena berlangsung secara langsung, kesalahan tak bisa diulang. Di situlah letak ketegangan sekaligus keindahannya.

Secara historis, teknik sand animation dipopulerkan oleh Caroline Leaf pada 1968, lalu berkembang menjadi pertunjukan panggung spektakuler melalui karya seniman seperti Kseniya Simonova dan Charlene Lanzel.

Di Indonesia, seni ini masih tergolong langka. Di Nusa Tenggara Barat, Cikughea adalah pelopor.

Bagi Baiq Amalia Putri Ghaesani, nama asli Cikughea, Artunity bukan hanya panggung ekspresi artistik. Ia adalah ruang persatuan. Tempat seni mengambil peran ketika bahasa verbal tak lagi cukup untuk menampung duka, simpati, dan harapan.

“Melalui lukisan pasir, pertunjukan budaya, musik, dan karya-karya lainnya, kami ingin menyampaikan pesan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyatukan, menyembuhkan, dan menggerakkan kepedulian,” tuturnya usai pertunjukan.

Ketertarikan Cikughea pada lukis pasir berawal jauh sebelum Artunity digagas. Ia mengingat momen penting pada tahun 2009, ketika masih duduk di bangku SMP 6 Semarang.

Baca Juga :  Menjahit Karakter Sasak dari Dua Naskah Agung

Saat itu, ia menyaksikan penampilan Vina Candrawati di ajang Indonesia Mencari Bakat. Goresan dan taburan pasir yang hidup di layar televisi membuatnya terkesima.

Ketertarikan itu tumbuh semakin kuat ketika ia bersekolah di SMAN 2 Mataram pada 2011. Akses internet yang mulai terbuka lebar menjadi jendela belajar. Ia menonton tutorial di YouTube, belajar secara otodidak, bereksperimen dengan berbagai jenis pasir.

Tantangan terbesarnya justru terletak pada bahan utama: pasir dengan tingkat kehalusan tertentu, massa 200, yang sulit didapat.

Saat itu, jumlah pelukis pasir di Indonesia bisa dihitung dengan jari. Hanya sekitar tujuh orang, dan regenerasi hampir tak ada. Pada 2014, setelah lulus SMA, Cikughea kembali ke Jakarta.

Ia mewakili NTB sebagai Putri Pariwisata 2015, sekaligus menampilkan bakatnya sebagai pelukis pasir. Di ajang itu, ia bertemu sesama seniman pasir, berbagi ilmu, bahkan meminjam sand box dari salah satu seniman pria.

Sekembalinya ke Lombok, ia memutuskan untuk lebih serius menekuni bidang ini. Penampilan publik pertamanya berlangsung pada acara Natal 2015.

Meski sempat grogi, terlebih karena berhijab dan menghadapi shock culture, apresiasi penonton justru menguatkan langkahnya. Banyak yang tak menyangka bahwa pelukis pasir itu berasal dari Lombok.

Dalam proses kreatifnya, Cikughea memilih aliran realisme. Pilihan ini menuntut kontrol teknis yang tinggi.

Hembusan angin harus diminimalisir, pencahayaan harus stabil, dan setiap detail gerakan harus presisi. Menurutnya, tantangan paling sulit adalah membuat gambar pasir tampak hidup: memiliki napas, emosi, dan cerita.

Live sand animation di Artunity menjadi rangkuman perjalanan panjang itu. Dari kekaguman seorang siswi SMP, menjadi seniman yang menjadikan pasir sebagai medium kesaksian kemanusiaan.

Di malam amal untuk Sumatera itu, pasir bukan lagi sekadar butiran tak bernama. Ia menjelma suara alam, saksi kerusakan, sekaligus penanda harapan.

Artunity pun menemukan maknanya yang paling utuh: ketika seni benar-benar berbicara, dan kemanusiaan bersedia mendengarkan.(aks)

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA