Teman Baca: “Revolusi” dari Lapak Buku ke Produksi Pengetahuan

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ia hadir di celah-celah kota dan waktu, sebagai revolusi sunyi yang terus berjalan (Foto: ist)

Ia hadir di celah-celah kota dan waktu, sebagai revolusi sunyi yang terus berjalan (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Komunitas Teman Baca terus menjalankan kerja misinya: menghidupkan bacaan, membuka percakapan, dan merawat daya kritis. Ketika saya singgah untuk kedua kalinya, yang terasa bukan sekadar tumpukan buku atau jadwal kegiatan, melainkan sebuah keyakinan yang bertahan: literasi bukan proyek instan, melainkan laku panjang yang menuntut kesabaran.

Setidaknya ada tiga program utama yang menjadi ranah eksekusi Komunitas Teman Baca. Pertama, Teman Lapak, yakni menggelar buku-buku agar dapat dibaca bebas di ruang publik. Buku-buku itu tidak dipajang sebagai komoditas, melainkan sebagai undangan.

Siapa pun boleh singgah, membuka halaman, dan tenggelam sejenak dalam dunia yang sering kali terlewat di tengah hiruk-pikuk keseharian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, Teman Ulas, sebuah siniar atau podcast yang membicarakan buku. Di sini, buku tidak dibiarkan selesai pada pembacaan personal, tetapi ditarik ke ruang dialog.

Gagasan diuji, dipertanyakan, bahkan dibantah. Buku tidak diposisikan sebagai otoritas tunggal, melainkan sebagai pemantik percakapan yang setara.

Ketiga, Teman Bicara, ruang untuk membahas peristiwa literasi secara lebih luas: dari isu kebudayaan, pendidikan, hingga persoalan sosial yang bersinggungan dengan teks dan konteks.

Ketiga program ini, jika dirajut, membentuk satu kesatuan ekosistem: membaca, membicarakan, dan memaknai.

Namun perjalanan itu tak selalu mulus. “Kami sempat down manakala Covid melanda,” ujar Dedy Ahmad Hermansyah, founder Komunitas Teman Baca, ketika mengurai masa-masa sulit.

Pandemi memukul hampir seluruh aktivitas berbasis pertemuan fisik. Lapak-lapak buku terpaksa berhenti, diskusi tatap muka lenyap, dan semangat kolektif diuji oleh jarak serta ketidakpastian.

Alih-alih berhenti, kondisi itu justru memantik pilihan baru. Media digital dimanfaatkan, pola kegiatan disesuaikan, dan misi tetap dijaga.

“Pantang mundur sebelum berhasil,” bukan sekadar semboyan, melainkan prinsip bertahan. Di tengah keterbatasan, Teman Baca belajar beradaptasi tanpa kehilangan arah.

Baca Juga :  Mendengar yang Tak Terucap: Kisah Para Belian dalam Kamera Anton Sumekah

Refleksi perjalanan itu tertulis jelas dalam akun Facebook Dedy Ahmad Hermansyah. Tahun 2026 menandai satu dekade Komunitas Teman Baca berdiri sejak diinisiasi pada 2016.

Sepuluh tahun bukan waktu singkat untuk sebuah komunitas berbasis kerelawanan. Banyak yang datang, banyak pula yang pergi. Dedy menyebut fase-fase itu dengan jujur: fase awal mencari bentuk, fase pasca bencana, fase era Covid-19, hingga fase pasca pandemi yang masih terus berlanjut.

Nama-nama yang pernah menemani mungkin tak lagi hadir secara fisik, tetapi jejaknya tetap hidup dalam ingatan. Inilah ciri komunitas yang sehat: ia tidak bergantung pada satu figur semata, tetapi pada ingatan kolektif dan kerja bersama yang pernah terjadi.

Komunitas Teman Baca, pada mulanya, lahir dari keinginan yang sangat sederhana. Menyediakan ruang mini, bagi diri sendiri terutama, dan bagi teman-teman, untuk membaca dan berdiskusi. Tidak ada target besar, tidak ada jargon bombastis. Hanya kebiasaan membeli buku, membaca, dan berbagi.

Tak dinyana, kebiasaan itu menumpuk menjadi sesuatu yang signifikan. Sepuluh tahun terakhir, buku yang terdata mencapai lebih dari 4.000 eksemplar.

Angka itu belum termasuk buku-buku yang dipinjam tak kembali, atau yang hilang jejak entah ke mana. Sebuah ironi kecil yang justru menandakan satu hal: buku-buku itu hidup, berpindah tangan, dan dibaca.

Seseorang pernah mendefinisikan Teman Baca sebagai “perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum.” Awalnya, definisi itu terasa janggal, bahkan dianggap terlalu narsis.

Namun waktu membuktikan, fakta sering kali berjalan lebih dulu daripada definisi. Buku-buku milik pribadi telah menjelma menjadi milik bersama, setidaknya dalam praktik.

Memasuki 2026, tantangan baru pun menanti. Komunitas Teman Baca mulai belajar mereproduksi pengetahuan. Ini bukan langkah kecil.

Baca Juga :  The Rites: Membaca Ulang Ritual Nyunatang dalam Bahasa Sinema

Jika sebelumnya fokus pada pembacaan kritis dan efektif, kini orientasinya bergerak lebih jauh: bagaimana pengetahuan yang dibaca, didiskusikan, dan diperdebatkan dapat diolah kembali menjadi karya, gagasan, atau praktik yang relevan dengan konteks sosial.

Langkah ini menandai kedewasaan komunitas. Membaca tidak lagi berhenti pada konsumsi, tetapi berlanjut pada produksi. Dari pembaca menjadi pengolah. Dari penerima menjadi pencipta.

Menggerakkan komunitas, seperti diakui Dedy, memang melelahkan. Ia menguras waktu, energi, dan emosi.

Tetapi pada saat yang sama, ia juga sangat menyenangkan dan mencerahkan. Di dalamnya ada proses belajar bersama anak muda, membuka pikiran, mengasah kemanusiaan, dan yang tak kalah penting melawan dorongan individualistik kapitalisme.

Di tengah dunia yang semakin mendorong kompetisi dan pencapaian personal, Teman Baca memilih jalan berkumpul. Duduk bersama, membaca bersama, dan membicarakan persoalan kemanusiaan di luar ruang-ruang formal. Tanpa sertifikat, tanpa panggung kehormatan, tanpa janji popularitas.

Seruan “Mari kita bergerak dan bertumbuh bersama-sama” bukanlah ajakan kosong. Ia berangkat dari pengalaman konkret selama satu dekade. Revolusi, sebagaimana ditulis Dedy, tidak selalu berupa ledakan besar.

Ia juga bisa hadir dalam bentuk perlawanan sehari-hari: membuka buku, menggelar lapak, merekam percakapan, dan menjaga ruang dialog tetap hidup.

Di sanalah Teman Baca berdiri. Tidak di pusat kekuasaan, tidak pula di menara gading. Ia hadir di celah-celah kota dan waktu, sebagai revolusi sunyi yang terus berjalan.

Sebab dari membaca, orang belajar berpikir. Dari berpikir, lahir keberanian untuk memahami dan mengubah.

Dan mungkin, dari lapak-lapak kecil itulah masa depan literasi dirawat. Halaman demi halaman, percakapan demi percakapan. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA