The Rites: Membaca Ulang Ritual Nyunatang dalam Bahasa Sinema

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ritual dipahami sebagai drama sosial, sebagaimana dikemukakan para antropolog, di mana tidak ada pemisahan tegas antara pelaku dan penonton (Foto: aks)

Ritual dipahami sebagai drama sosial, sebagaimana dikemukakan para antropolog, di mana tidak ada pemisahan tegas antara pelaku dan penonton (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Di antara ragam medium yang dipamerkan dalam Pameran Belian, karya video The Rites tampil sebagai ruang kontemplasi tersendiri. Diproyeksikan dalam satu kanal, karya ini mengajak penonton memasuki ritual Nyunatang Adat di Bayan, Lombok Utara, namun bukan melalui jalur dokumentasi yang lazim.

Muhammad Rusli “Oka”, sang perupa video, secara sadar menempatkan ritual bukan sebagai objek etnografis yang direkam untuk dilestarikan, melainkan sebagai peristiwa visual dan temporal yang dapat dibaca ulang melalui bahasa sinema.

“The Rites dalam Pameran Belian ini adalah film eksperimental yang berangkat dari ritual nyunatan di Bayan, Lombok Utara,” tulis Oka dalam jawaban tertulisnya, Kamis, 15 Januari 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan tersebut menegaskan posisi karya ini sejak awal: The Rites tidak berpretensi menjadi arsip budaya yang rapi dan informatif.

Ia justru membuka ruang tafsir, menggeser cara pandang terhadap ritual yang selama ini kerap dipahami sebagai rangkaian prosesi sakral yang linear, terstruktur, dan berurutan.

Dalam karya ini, ritual dihadirkan sebagai pengalaman yang padat, bertumpuk, dan simultan.

Alih-alih mengikuti alur prosesi secara kronologis, The Rites menyusun ulang fragmen-fragmen peristiwa, gerak tubuh, bunyi, ekspresi wajah, dan ruang, ke dalam satu bidang pandang. Nyunatan tidak lagi hadir sebagai “acara yang direkam”, tetapi sebagai pengalaman tontonan.

Peristiwa diproyeksikan dalam satu frame yang memuat banyak kejadian sekaligus, menciptakan sensasi kepadatan waktu.

Pendekatan ini tidak lahir dari konstruksi yang dipaksakan. Oka berangkat dari arsip ritual nyunatan yang memang menghadirkan berbagai peristiwa yang terjadi secara bersamaan. Dalam ritual tersebut, tidak ada satu pusat perhatian tunggal.

Banyak hal berlangsung serentak: tubuh-tubuh bergerak, bunyi ritual mengisi ruang, ekspresi emosi muncul silih berganti, dan relasi sosial terjalin dalam satu waktu.

Di ruang inilah Oka melakukan eksplorasi artistic, menghadirkan peristiwa dalam satu layar, tanpa harus memisahkannya menjadi urutan yang rapi.

Kamera, Tubuh, dan Negosiasi Ruang-Waktu

Proses kreatif The Rites dimulai dari pengamatan langsung terhadap arsip ritual Nyunatang sebagai praktik sosial dan spiritual yang sarat makna. Ritual ini bukan hanya penanda transisi biologis, tetapi juga peristiwa komunal yang melibatkan tubuh, keyakinan, dan relasi sosial.

Baca Juga :  Narasi yang Menyembuhkan: Membaca Belian sebagai Ruang Simbolik-Budaya

Oleh karena itu, kamera dalam karya ini tidak ditempatkan sebagai alat perekam objektif.

Sebaliknya, kamera diposisikan sebagai medium yang ikut bernegosiasi dengan tubuh, suasana, peristiwa, ruang, dan waktu ritual. Ia tidak sekadar merekam, tetapi turut “hadir” dalam peristiwa.

Kamera menjadi bagian dari dinamika ritual, kadang dekat, kadang menjauh, kadang terjebak dalam kepadatan situasi.

Tahap pascaproduksi menjadi fase yang sangat menentukan. Footage yang terkumpul tidak disusun berdasarkan kronologi peristiwa, melainkan melalui pendekatan komposisional.

Fragmen-fragmen visual diseleksi, dipotong, dan ditumpuk untuk membangun apa yang dapat disebut sebagai “irama visual”. Irama ini tidak mengikuti logika narasi konvensional, melainkan merepresentasikan intensitas ritual itu sendiri.

Penyusunan tersebut menghadirkan pengalaman seolah berbagai momen dalam prosesi terjadi bersamaan. Penonton tidak diarahkan untuk “memahami” ritual secara informatif, tetapi diajak untuk merasakan kepadatan peristiwa.

Mata penonton dipaksa bekerja aktif. Memilih, berpindah, dan menegosiasikan makna dari berbagai adegan yang tampil serentak di layar.

Karya ini dipilih dalam Pameran Belian karena kemampuannya menggabungkan gerak, durasi, dan suara dalam satu medium yang cair. Dalam konteks ritual nyunatang, video memungkinkan tubuh, gestur, dan bunyi-bunyian ritual hadir sebagai elemen utama, bukan sekadar ilustrasi visual.

Pemilihan medium video juga berangkat dari praktik artistik Oka selama ini. Pendekatan eksperimental dilakukan dengan memecah satu peristiwa ke dalam banyak sudut pandang visual, lalu menyatukannya kembali dalam satu layar.

Teknik ini secara tegas menolak narasi tunggal dan membuka ruang bagi pembacaan jamak.

Video, dalam The Rites, berfungsi sebagai ruang pertemuan antara dokumentasi dan interpretasi artistik. Ia tidak sepenuhnya meninggalkan realitas peristiwa, tetapi juga tidak terikat pada tuntutan representasi yang objektif.

Baca Juga :  Jurnalisme Teater, Ingatan Kolonial, dan Perlawanan Budaya Masyarakat Adat Gumantar

Di titik ini, ritual dipahami sebagai drama sosial, sebagaimana dikemukakan para antropolog, di mana tidak ada pemisahan tegas antara pelaku dan penonton.

Setiap individu yang hadir dalam ritual Nyunatang melalui gestur, peran, dan keterlibatannya bertindak sebagai aktor yang turut mewujudkan keberlangsungan ritual. The Rites menangkap kompleksitas ini melalui strategi visual yang menumpuk, bukan menyederhanakan.

Respon pengunjung terhadap The Rites tampak jelas di ruang pemutaran. Banyak penonton berlama-lama, mengamati detail visual, menyaksikan karya hingga selesai, dan mencoba memaknai ulang ritual yang mungkin sudah sangat akrab dalam kehidupan kultural mereka.

Sebagian penonton mengutarakan karya ini sebagai pengalaman baru dalam melihat tradisi. Ritual tidak lagi dipahami sebagai dokumentasi kegiatan atau tontonan seremonial, seperti video pre-wedding atau arsip keluarga, melainkan sebagai ekspresi artistik yang reflektif.

Karya ini membuka ruang dialog: tentang tubuh dan disiplin sosial, tentang tradisi dan perubahan, tentang identitas dan praktik artistik kontemporer.

Fase Bertumbuh dan Berani Bereksperiman

Kehadiran The Rites juga tidak terlepas dari konteks ekosistem berkesenian di Lombok yang saat ini berada dalam fase bertumbuh.

Munculnya ruang-ruang alternatif, komunitas mandiri, kurator muda, serta seniman yang berani bereksperimen lintas medium menjadi penanda penting.

Berbagai pameran, festival, diskusi, dan pementasan turut membentuk lanskap seni yang semakin dinamis.

Namun demikian, tantangan masih terasa. Terutama dalam hal keberlanjutan ruang, akses distribusi karya, dan dukungan infrastruktur jangka panjang.

Oka “bermimpi” tahun 2026 menjadi momentum terbentuknya ekosistem seni yang lebih saling terhubung antara seniman, ruang pamer, komunitas lokal, akademisi, dan pemerintah daerah.

Harapan lainnya adalah semakin banyak karya yang berangkat dari praktik dan pengetahuan lokal, tetapi diolah dengan pendekatan kontemporer.

Dengan demikian, Lombok tidak hanya diposisikan sebagai “objek budaya”, melainkan sebagai subjek aktif dalam wacana seni nasional dan internasional.

Sebagaimana dicontohkan The Rites melalui bahasa visual yang eksperimental dan reflektif. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA