Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Metode Suzuki lahir dari kegelisahan Tadashi Suzuki terhadap tubuh aktor modern yang semakin terputus dari tanah dan ruang (Foto: aks)

Metode Suzuki lahir dari kegelisahan Tadashi Suzuki terhadap tubuh aktor modern yang semakin terputus dari tanah dan ruang (Foto: aks)

CERAKEN.ID–  Di ruang latihan yang sunyi namun penuh ketegangan energi, tubuh-tubuh aktor berdiri tegak, kaki menapak kuat ke lantai, napas dijaga agar tidak liar, dan pikiran dipaksa hadir sepenuhnya pada momen kini. Tidak ada gerak yang dibiarkan mengalir tanpa kesadaran.

Setiap langkah, hentakan, dan diam memiliki maksud. Inilah suasana latihan teater dengan Metode Suzuki.

Satu pendekatan keaktoran yang tidak sekadar melatih keterampilan bermain peran, tetapi membongkar ulang relasi aktor dengan tubuh, ruang, dan makna kehadiran di atas panggung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi sebagian orang, metode ini terasa keras, repetitif, bahkan melelahkan. Namun bagi mereka yang menjalaninya dengan tekun, Suzuki justru membuka pintu pemahaman baru tentang keaktoran.

Tubuh tidak lagi diperlakukan sebagai alat pelengkap dialog, melainkan sebagai pusat utama penciptaan makna. Dari ruang latihan itulah lahir kesaksian para aktor tentang bagaimana Suzuki bekerja, bukan hanya pada otot dan napas, tetapi juga pada etika, sikap batin, dan cara berpikir.

Tubuh, Ruang, dan Kesadaran

Pikong, nama panggung dari Fitri Rachmawati, menyebut Metode Suzuki sebagai jalan untuk memahami tubuh secara utuh. Baginya, latihan ini mengajarkan bahwa tubuh aktor harus bergerak dengan tujuan yang jelas dan tunduk pada aturan yang baku di atas panggung.

Tidak ada gerak yang sekadar indah, tidak ada posisi yang hadir tanpa alasan dramaturgis.

“Dengan metode ini, seluruh tubuh aktor bisa menjadi satu kesatuan dengan panggung atau ruang tempat ia memainkan peran,” ujar Pikong.

Kesadaran ruang, menurutnya, bukan lagi teori yang dihafal dalam kelas, tetapi pengalaman langsung yang menuntun aktor saat mewakili karakter dalam pertunjukan. Blocking tidak dikerjakan sebagai kewajiban teknis, melainkan sebagai bahasa tubuh yang sadar dan hidup.

Latihan Suzuki juga mengajarkan pengelolaan napas yang ketat. Aktor dilatih untuk tidak boros mengeluarkan energi vokal maupun pernapasan.

Napas dijaga, ditakar, dan dikendalikan. Dalam tekanan fisik yang berat, aktor justru belajar menemukan ketenangan dan kestabilan.

Lebih jauh, Pikong melihat Suzuki sebagai daya imajinatif. Metode ini membangun perasaan bahwa tubuh aktor dan alam sedang berada dalam satu siklus keseimbangan.

Ada hubungan tak kasatmata antara pijakan kaki, denyut napas, dan energi ruang. Dari sanalah imaji lahir, bukan sebagai rekaan semata, tetapi sebagai respons tubuh yang hidup.

Baca Juga :  Mendengar yang Tak Terucap: Kisah Para Belian dalam Kamera Anton Sumekah

“Yang utama bagi saya adalah ketajaman fokus,” tegasnya. Fokus ini mengatur arah berpikir aktor agar tidak sekadar berperan, tetapi membawa misi dan pesan kepada penonton.

Suzuki, bagi Pikong, juga mengajarkan kerendahan hati, sebuah sikap yang justru kian langka di tengah kecenderungan aktor yang cepat merasa puas dan enggan belajar ulang.

“Padahal belajar ulang itu sangat penting,” katanya.

“Dan satu lagi,” tutup Pikong, “metode Suzuki melatih disiplin.”

Sebuah disiplin yang ia buktikan dalam proses penciptaan naskah-naskahnya, seperti Kinrohosi dan Leang, yang menggunakan pendekatan jurnalisme teater dan dilatih dengan Metode Suzuki sejak tahap awal.

Latihan yang Menjadi Tradisi

Bagi Sopiyan Sauri, Metode Suzuki bukan pengalaman sesaat, melainkan praktik yang tumbuh menjadi kebiasaan kolektif.

Ia pertama kali bersentuhan dengan metode ini pada tahun 2020, semester awal perkuliahan di Jurusan Sendratasik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Mataram, dalam mata kuliah Olah Tubuh Dasar yang diampu oleh akademisi Wahyu Kurnia.

Latihan berlangsung selama enam bulan, dengan 24 kali pertemuan. Namun proses itu tidak berhenti ketika kelas usai. Justru sejak saat itulah, Suzuki menjadi dasar latihan rutin setiap kali menjelang penggarapan pertunjukan.

“Setiap ada garapan, kami selalu menggunakan olah tubuh Metode Suzuki sebagai dasar awal,” ujar Sopiyan.

Latihan ini digunakan untuk memperkuat ketubuhan, vokal, fokus, pernapasan, hingga improvisasi dalam bermain teater. Dampaknya, menurutnya, sangat nyata.

Dari tahun 2020 hingga 2026, praktik Suzuki terus dilakukan secara konsisten dalam setiap proyek teater yang mereka kerjakan.

“Sekali lagi, Metode Suzuki ini sangat berguna untuk pementasan teater,” tegas Sopiyan.

Ia mencontohkan proses latihan lakon Kinrohosi, yang sejak awal dibangun dengan pendekatan Suzuki, sehingga aktor memiliki fondasi fisik dan mental yang kuat sebelum memasuki wilayah dramatik yang lebih kompleks.

Tubuh sebagai Pusat Keaktoran

Pengalaman panjang juga dialami Salam Efendi. Masuk kuliah pada tahun 2020, ia mulai menapaki dunia akademik seni dengan beragam pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap seni pertunjukan.

Sejak semester awal, ia telah dikenalkan dengan berbagai mata kuliah seni, mulai dari keaktoran, olah tubuh, hingga apresiasi seni pertunjukan lintas disiplin.

Baca Juga :  Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Metode Suzuki hadir sejak awal perjalanannya sebagai aktor. Dalam mata kuliah olah tubuh semester satu, Salam mulai menyadari bahwa tubuh bukan sekadar alat, melainkan pusat utama kerja aktor.

Kesadaran ini semakin menguat ketika pada tahun 2022, di semester tiga, ia mengikuti mata kuliah keaktoran dengan ujian akhir berupa pementasan drama musikal yang dipersiapkan selama enam bulan.

Latihan berlangsung hampir setiap hari, dengan disiplin tinggi. Berbagai metode keaktoran diterapkan, namun Suzuki menjadi pendekatan yang paling dominan dan konsisten.

Pementasan seperti Cupak Gerantang the Musical, Megantaka, Kinrohosi, dan Hikayat Tolak Bala menjadi ruang konkret bagi Salam untuk mengalami langsung bagaimana metode ini bekerja.

“Metode Suzuki membentuk tubuh aktor, menguatkan pijakan, mengontrol pernapasan, menjaga fokus, serta membangun energi permainan secara individu dan kolektif,” ungkapnya.

Dalam tekanan fisik yang berat, ia justru dilatih untuk tetap tenang dan hadir secara emosional. Emosi dan imaji tidak lagi dibuat-buat, tetapi muncul dari tubuh yang benar-benar bekerja.

Bagi Salam, Suzuki bukan sekadar teknik latihan, melainkan cara membangun kehadiran aktor di atas panggung. Kesadaran ini bahkan memengaruhi cara pandangnya dalam mengapresiasi seni pertunjukan lain.

Ia belajar menjadi penonton yang lebih peka, reflektif, dan kritis dalam membaca sebuah pertunjukan.

Sebagaimana diketahui, Metode Suzuki lahir dari kegelisahan Tadashi Suzuki terhadap tubuh aktor modern yang semakin terputus dari tanah dan ruang.

Ia mengembangkan pendekatan yang menempatkan kaki sebagai fondasi, pusat gravitasi sebagai sumber energi, dan pernapasan sebagai penggerak kesadaran.

Metode ini telah berkeliling dunia, masuk ke Indonesia di bawah naungan Bumi Purnati, dan kini menemukan ruang hidupnya di Lombok.

Di tangan para aktor muda, akademisi, dan komunitas teater lokal, Suzuki tidak sekadar direproduksi sebagai metode asing, tetapi diolah menjadi praktik yang kontekstual.

Ia menjadi disiplin tubuh, etika kerja, sekaligus jalan pencarian artistik.

Latihan-latihan yang sunyi, melelahkan, dan berulang itu pada akhirnya membentuk aktor yang lebih sadar: sadar tubuhnya, sadar ruangnya, sadar misinya.

Satu upaya untuk mengembalikan teater pada akarnya: pada tubuh yang menapak tanah, napas yang jujur, dan kehadiran yang utuh di hadapan penonton.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang
Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA