Menemukan Sirin: Perjalanan Witari Ardini dalam Borka 2025

Minggu, 7 Desember 2025 - 10:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari seorang pelajar, ia menjelma menjadi pencipta wujud Sirin yang hidup, karakter yang lahir dari kerja belajar, kerja tubuh, dan kerja hati (Foto: ist)

Dari seorang pelajar, ia menjelma menjadi pencipta wujud Sirin yang hidup, karakter yang lahir dari kerja belajar, kerja tubuh, dan kerja hati (Foto: ist)

CERAKEN.ID- Mataram- Proses pendalaman karakter sering kali menjadi perjalanan yang penuh liku, dalam dunia teater. Ia menuntut bukan hanya kecermatan membaca naskah, tetapi juga keberanian untuk membuka diri pada pengalaman baru.

Bagi Witari Ardini, seorang pelajar yang memerankan tokoh Sirin dalam Lakon Borka 2025, proses itu justru menjadi ruang tumbuh yang membentuk rasa percaya diri dan kedewasaan artistiknya. Apalagi ia harus memerankanya kembali dalam perhelatan Festival Teater Indonesia, ini adalah kesempatan berharga dalam proses belajarnya.

Witari mengakui bahwa ia tidak bisa langsung memahami karakter hanya dengan membaca naskah. Sirin digambarkan sebagai sosok yang “centil”, tetapi centil seperti apa? Apakah centil yang manja? Centil yang nakal? Atau centil yang menggoda?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian mendorongnya untuk menelusuri lebih jauh. Ia melakukan pencarian di internet, mengamati beragam referensi, lalu membawa temuannya ke ruang diskusi bersama sutradara, Eko Wahono.

Proses ini menunjukkan kedewasaan Witari sebagai seorang aktor muda. Ia tak berhenti pada teks, melainkan membuka ruang dialog antara imajinasi, studi, dan arahan kreatif.

Baca Juga :  Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Sirin, bagi Witari, bukan sekadar peran yang harus dipahami, melainkan karakter yang harus dihidupi. “Mendalaminya berarti merasakan denyutnya, memahami gesturnya, bahkan menemukan ritme tubuh yang merepresentasikan diri Sirin,” ujar Tari, begitu ia sehari-hari dipanggil.

Perjalanan itu tidak instan. Kian hari, ia mulai menemukan detail-detail kecil: cara tertawa Sirin, cara ia menggoda, cara ia bermain dengan energi panggung. Dari sinilah tumbuh rasa nyaman yang menjadi fondasi penting: kenyamanan yang membuatnya tidak lagi sekadar meniru, tetapi menciptakan interpretasi personal.

Dalam setiap proses latihan, Witari menghadirkan dedikasi yang sederhana namun kuat. “setiap hari pelan-pelan Tari usahakan meningkat.”

Kalimat ini bukan hanya cerminan kerendahan hati seorang pelajar yang sedang belajar seni peran. Tetapi juga sikap mental yang jarang dimiliki aktor muda, kesadaran: bahwa pertumbuhan artistik terjadi secara bertahap, bukan dengan lompatan-lompatan besar yang instan. Di balik kesederhanaannya, tersimpan komitmen yang matang.

Bimbingan Eko Wahono sebagai sutradara menjadi salah satu pilar penting dalam pendalaman karakter ini. Diskusi-diskusi kecil yang Witari lakukan bersamanya membantu memperkuat pemahamannya tentang Sirin.

Baca Juga :  Pulang ke Palung: Phalonk, Tradisi yang Diciptakan Ulang, dan Jalan Pulang Seniman Daerah

Eko memberikan ruang aman bagi eksplorasi, ruang untuk mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Dalam ekosistem semacam ini, Witari tidak hanya memerankan Sirin, tetapi juga mempelajari dinamika kerja kolektif dalam produksi teater.

Perjalanan Witari Ardini dalam Lakon Borka bersama Teater Lho Indonesia, yang akan pentas pada 10 Desember 2025 di Taman Budaya Mataram, memberikan gambaran tentang bagaimana seorang aktor muda merayakan proses belajar.

Walaupun Lakon Borka pernah ia tampilkan pada tahun 2024, ia menunjukkan bahwa pendalaman karakter bukanlah proses sekali jadi, melainkan perjalanan panjang yang penuh eksperimen, pencarian, dan refleksi.

Sirin mungkin tampil sebagai tokoh centil di atas panggung, namun proses memerankannya justru memperlihatkan kedewasaan yang tumbuh perlahan di balik layar.

Dari seorang pelajar SMAN 2 Mataram, ia menjelma menjadi pencipta wujud Sirin yang hidup, karakter yang lahir dari kerja belajar, kerja tubuh, dan kerja hati. Dan mungkin justru itulah yang membuat Sirin bersinar: bukan karena centilnya, melainkan karena kerja pelan-pelan yang penuh kesungguhan. (Aks)***

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA