Catatan Agus K Saputra
CERAKEN-ID- I Gusti Lingsartha Patra dikenal sebagai perupa yang konsisten mengangkat isu sosial dan budaya. Namun menyebutnya semata sebagai pelukis terasa terlalu menyederhanakan perjalanan panjang hidup dan batin yang ia tempuh. Dalam diri Lingsartha, seni tidak berdiri sebagai tujuan, melainkan sebagai jalan, jalan sunyi yang menghubungkan manusia dengan alam, sejarah, dan kesadaran spiritualnya sendiri.
Ia terlahir dari keluarga etnis Bali yang hidup dan berasimilasi di Lombok. Masa kecilnya dihabiskan di Mataram dan Gerung, Lombok Barat, dua ruang sosial yang kelak membentuk fondasi cara pandangnya terhadap dunia.
Pada usia enam tahun, keluarganya pindah ke Dusun Babakan, Gerung. Meski sang ayah tetap menyekolahkannya di sebuah SD di Cakranegara hingga kelas dua, perjumpaan Lingsartha kecil dengan masyarakat Sasak di Gerung menjadi pengalaman kultural yang menentukan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika pindah sekolah di Gerung, lingkar pergaulannya berubah drastis. Teman-teman yang sebelumnya didominasi etnis Bali dan Tionghoa berganti dengan anak-anak Sasak. Ia melebur sepenuhnya dalam pergaulan itu, tanpa sekat.
“Hampir setiap hari saya menghabiskan waktu bersama teman-teman Sasak. Saya mengenali mereka hingga keluarganya, seolah telah menjadi bagian dari keseharian saya,” kenangnya.
Ayahnya memberi kebebasan penuh untuk mengenal dunia, dengan segala perbedaan suasana dan latar. Kebebasan itu menjadi ruang belajar yang tak ternilai.
Dari sanalah tumbuh kepekaan Lingsartha terhadap keragaman, sekaligus rasa hormat pada kehidupan yang berjalan apa adanya.
Wayang, Pasar, dan Alam: Sekolah Pertama Kesadaran
Pada masa kanak-kanak itulah Lingsartha mulai mengenal Wayang Sasak, wayang serat Menak, yang sempat menumbuhkan cita-cita menjadi seorang dalang. Seorang temannya, penjual terasi di Pasar Gerung, pandai membuat wayang.
Setiap jam istirahat sekolah, Lingsartha kecil kerap nongkrong di pasar, belajar membuat wayang dari kardus bekas.
Malam hari, bila ada pementasan wayang di lapangan atau pasar Gerung, ia hampir tak pernah absen. Bahkan, tak jarang ia tertidur hingga pagi di bawah panggung pertunjukan. Wayang, baginya, bukan sekadar tontonan, melainkan ruang belajar tentang kisah, nilai, dan kehidupan.
Memasuki SMP, ketertarikannya mulai bergeser. Ia melihat ayahnya melukis, meski saat itu belum sepenuhnya terpikat. Yang lebih memanggil justru alam.
Ia sering keluyuran ke bukit-bukit sekitar Gerung, bahkan tidur di sana. Di rumah seorang temannya yang tinggal di perbukitan, Lingsartha turut menggembala sapi, menikmati keheningan malam dengan angin dingin yang berhembus pelan.
Dari wayang ke alam, dari pasar ke bukit, pergeseran itu bukan kebetulan. Alam perlahan menjadi guru utama.
“Alam adalah pustaka bagi saya. Alam juga ibu dan rumah ibadah,” ujarnya suatu ketika. Di sanalah ia belajar membaca kehidupan tanpa perlu banyak kata.
Selepas SMP, ia melanjutkan pendidikan SMA di Mataram. Warna kehidupannya kembali berubah. Di sinilah ketertarikannya pada seni rupa mulai menguat. Ia mengisi majalah dinding sekolah dengan karya cat air dan puisi.
Namun kecintaannya pada alam tak surut. Setiap malam Minggu, bersama beberapa teman, ia menelusuri bukit-bukit di kawasan Gunungsari dan berkemah. Urusan asmara remaja nyaris terabaikan, alam lebih memikat.
Tahun 1984, Lingsartha lulus SMA dan diterima di Fakultas Sastra Indonesia Universitas Udayana, Denpasar. Namun Denpasar tak pernah benar-benar membuatnya betah. Ia keluar pada semester tiga.
Setelah itu, ia mengajar kegiatan ekstrakurikuler di SMA Gerung, sebuah jeda yang mempertemukannya kembali dengan akar.

Tahun 1986, ia mengambil keputusan besar: hijrah ke Yogyakarta dan kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, memilih Program Studi Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta memberinya bahasa visual yang lebih sistematis, sekaligus ruang perenungan yang lebih dalam tentang fungsi seni dalam kehidupan sosial.
Pulang ke Mataram pada 1989 menjadi tantangan terberat. Seni, dalam realitas kala itu, belum bisa diandalkan sebagai sumber nafkah, sementara ia telah membangun keluarga. Namun Lingsartha tidak menyerah.
Ia mengajukan berbagai desain poster ke instansi pemerintah, dengan ide-ide visual yang menurutnya penting untuk disuarakan. Beberapa desain diterima dan dari sanalah ia mulai menafkahi keluarga.
Sejak itu, pergaulannya dengan para seniman di Mataram semakin intens, meski sebelumnya ia telah akrab dengan kawan-kawan seniman ayahnya. Tantangan hidup, belenggu keluarga, pergeseran zaman dan tradisi, semuanya melebur menjadi warna yang memperkaya kanvas kehidupannya.
Namun satu hal tetap dominan: alam. Kesan mendalam tentang alam terus hadir dalam karya-karyanya. Lingsartha rajin “membaca alam” sebagai pembelajaran hidup.
Seni, baginya, adalah ibadah. Ia tak memasang target dalam berkesenian. Ia bekerja sebagai bentuk bakti kepada semesta, tanah air, dan Tuhan.
Kegelisahan, Musik, dan Puisi
Selain melukis, Lingsartha juga pernah menekuni musik, mencipta lagu, menjadi guru sekolah, bahkan menjadi fungsionaris partai politik besar. Semua itu, katanya, hanyalah untuk melengkapi warna dalam kanvas hidupnya.
“Melukis hanya salah satu saluran ekspresi,” ujarnya. “Ada kalanya saya jenuh atau tak mampu menyuarakan kegelisahan dengan warna. Maka saya bersuara dengan nada atau kata. Jika warna, kata, dan nada tak lagi mampu, saya memilih diam, menyepi ke kampung ibu saya di Gerung atau ke atas bukit.”
Dua musikalisasi karyanya, Hymne Nusantara dan Mencari Satu, menjadi bahasa kegelisahan tentang pencarian ke dalam diri dalam perangkap ruang dan waktu. Lagu-lagu itu ditulis sepenuhnya olehnya, diaransemen oleh Agus Sapta, dan diunggah ke YouTube oleh adiknya tanpa ambisi publikasi dari dirinya sendiri.
Puisi pun pernah menjadi saluran penting, terutama pada tahun 2016, saat ia mengalami peristiwa traumatik: ditahan selama lima hari. “Mereka mungkin berhasil mengurung tubuh saya, tapi tidak dengan jiwa saya,” katanya. Dari peristiwa itu, puisinya lahir sebagai perlawanan sunyi.
Tentang dunia politik yang kini ia “tutup buku”, Lingsartha berbicara dengan nada getir. Idealisme, menurutnya, sering berhenti sebagai konsep indah di atas mimbar. Dalam praktik, nihil.
Negeri yang kaya, beradab, dan berbudaya justru kehilangan roh cinta pada dirinya sendiri. Warisan leluhur menjadi seremoni kosong.
Namun ia masih menyimpan keyakinan: suatu saat alam akan menggunakan caranya sendiri untuk membongkar segalanya dan memaksa manusia menyalakan kembali kesadaran.
“Saya bersyukur lahir di negeri yang indah dan kaya. Sayangnya, saya juga lahir di antara banyak penjarah dan perusak alam tanah pusaka ini,” ujarnya lirih.
Sesaot dan Praktik Spiritualitas
Pada Pameran Mandalika Art Community bertema “Resonansi” di Galeri Taman Budaya Provinsi NTB yang berlangsung hingga 30 Desember 2025, Lingsartha turut serta dengan karya berjudul “Sesaot” (105 x 85 cm, akrilik di atas kanvas). Lukisan ini berangkat dari pengalaman langsung melukis di tepi Sungai Sesaot, sebuah lokasi dengan aliran air jernih dari pegunungan.
Tanpa membawa kanvas sendiri, ia melukis menggunakan kanvas yang disiapkan seorang sahabat, Mahendra, di tengah kebersamaan para pelukis. Proses itu menegaskan kembali relasinya dengan alam dan komunitas, dua hal yang selalu ia jaga.
Dari perjalanan panjang itu, setidaknya ada dua catatan penting yang bisa dipetik dari I Gusti Lingsartha Patra: ia sedang menjalani praktik spiritualisme, dan ia membangun kepekaan bahwa seni adalah sarana kepedulian terhadap sesama dan semesta.
Pada akhirnya, pertanyaan yang terus mengusiknya tetap menggantung: “Setelah semua ini… setelah berkarya… lalu apa?” Mungkin jawabannya tidak pernah final. Sebab bagi Lingsartha, hidup adalah proses membaca, membaca alam, membaca diri, dan merawat kesadaran, setapak demi setapak.
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : Liputan































