Muzhar: Melukis Jalan Hidup, Merawat Ekosistem Seni Rupa Lombok

Rabu, 24 Desember 2025 - 16:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“TNGR (Taman bermaiN Gunung Rinjani)”, berukuran 100 x 100 cm dengan mix media (Foto: aks)

“TNGR (Taman bermaiN Gunung Rinjani)”, berukuran 100 x 100 cm dengan mix media (Foto: aks)

CERAKEN.ID- Di sudut-sudut Kota Mataram, di ruang pamer sederhana hingga galeri resmi, nama Muzhar kian akrab di telinga pelaku seni rupa Nusa Tenggara Barat. Ia bukan hanya dikenal sebagai perupa visual dengan gaya ekspresionisme mix media, tetapi juga sebagai sosok penggerak yang tak lelah merawat denyut seni rupa Lombok.

Di balik kanvas-kanvasnya yang berani dan penuh gestur, ada perjalanan hidup yang keras, pilihan-pilihan berisiko, dan mimpi panjang tentang ekosistem seni yang berdaulat di tanah kelahirannya.

Dikenal pula dengan nama Muzhar Art atau Muzhart, ia kini menjabat sebagai Ketua Lombok Art Community (LAC), sebuah komunitas seni rupa yang menjadi rumah bersama bagi para seniman lintas generasi di Lombok. Dari jalanan, dari keterbatasan ekonomi, Muzhar menapaki dunia seni bukan sebagai pelengkap hidup, melainkan sebagai jalan hidup itu sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Jalanan ke Kanvas

Perjalanan seni Muzhar tidak ditempuh lewat jalur akademik yang mulus. Ia mengasah bakat melukisnya secara otodidak, belajar dari pengalaman langsung, pergaulan, dan keberanian bereksperimen.

Seni hadir lebih dulu sebagai dorongan batin, jauh sebelum ia mengenal istilah kuratorial atau wacana estetika.

Bakatnya mulai menemukan ruang ketika ia bersekolah di MAN 1 Mataram. Sebelumnya, saat menempuh pendidikan di SD dan SMP berbasis sekolah agama, kegemarannya menggambar belum sepenuhnya mendapat tempat.

Namun di bangku SMA, Muzhar mulai berani menunjukkan kemampuannya. Ia mengikuti berbagai lomba seni, bahkan kerap mendaftar tanpa sepengetahuan sekolah.

“Ketika pengumuman pemenang, baru sekolah tahu kalau saya berprestasi,” kenangnya sambil tersenyum.

Kaligrafi menjadi pintu awal yang membantunya menemukan arah. Dari sana, ketertarikannya pada bentuk, garis, dan ekspresi visual berkembang semakin liar. Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Bumigora Mataram, jurusan Desain Komunikasi Visual.

Namun jalan akademik kembali berhadapan dengan realitas hidup. Keterbatasan ekonomi dan waktu memaksanya berhenti di semester tujuh.

Keputusan itu tidak mudah. Tetapi bagi Muzhar, seni bukanlah sesuatu yang bisa ditunda. Ia memilih meninggalkan bangku kuliah demi menekuni seni lukis secara penuh, sebuah keputusan yang bagi banyak orang dianggap nekat, bahkan irasional.

Dalam praktik artistiknya, Muzhar memilih ekspresionisme mix media sebagai bahasa visual utama. Pilihan ini bukan semata soal gaya, melainkan sikap terhadap seni itu sendiri.

Baca Juga :  Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama

“Media apa saja bisa menjadi sebuah karya seni,” ujarnya. “Merespon sesuatu di sekitar, bahkan sampah pun bisa menjadi media dan bahan dalam berkarya. Karena secara tidak langsung dengan hal seperti ini bahwasanya seni itu tidak baku.”

Bagi Muzhar, seni adalah respons terhadap ruang hidup, pengalaman personal, isu sosial, hingga kegelisahan ekologis. Kanvas bukan ruang steril, melainkan medan pertempuran emosi, gagasan, dan keberanian bereksperimen.

Campuran material, tekstur kasar, dan sapuan spontan menjadi ciri yang menegaskan bahwa ekspresi tidak harus rapi, tetapi jujur.

Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik terhadap pandangan sempit tentang seni rupa yang kerap dianggap eksklusif dan elitis. Muzhar justru ingin mendekatkan seni pada keseharian, pada realitas yang sering luput dari perhatian.

Sejak 2018, Muzhar aktif di Lombok Art Community (LAC). Tiga tahun kemudian, pada 2021, ia dipercaya menjadi ketua. Peran ini menempatkannya bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai fasilitator, penghubung, dan penggerak.

Ia melihat kondisi ekosistem seni rupa di Mataram dan NTB dengan jujur, tanpa romantisasi.

“Saya melihat ekosistem seni rupa di Mataram/NTB ini seperti kita sedang baru melangkah untuk membangun itu. Bukan yang sudah berjalan dengan lancar dan terbangun kokoh,” katanya.

“Dibalik proses dan sukses ada do’a orang tua yang selalu terakses”, berukuran 45 x 103 cm dengan media campuran di atas kanvas (Foto: aks)

LAC, menurutnya, adalah ruang belajar bersama. Tantangan memang ada termasuk fakta bahwa sebagian besar anggota komunitas berasal dari generasi yang lebih tua. Namun hal itu tidak ia anggap sebagai hambatan.

“Ini menjadi tantangan dan peluang besar. Bahkan bisa saja menjadi sebuah kemudahan,” ujarnya.

Justru dari pertemuan lintas generasi itulah terjadi pertukaran pengalaman, nilai, dan semangat. Muzhar percaya, ekosistem seni tidak dibangun oleh satu individu, melainkan oleh kesadaran kolektif.

Salah satu tantangan terbesar yang ia lihat adalah keraguan generasi muda untuk menjadikan seni sebagai profesi. Dunia seni masih sering dipandang tidak menjanjikan secara ekonomi. Bagi banyak anak muda, seni hanyalah hobi, bukan masa depan.

Muzhar memahami keraguan itu. Ia sendiri hidup di dalam realitas tersebut. Namun justru dari pengalaman itulah tumbuh tekadnya untuk menciptakan ekosistem yang lebih suportif.

Ia bermimpi melihat lebih banyak anak muda Lombok berani memilih seni sebagai jalan hidup. Bukan dengan janji instan, melainkan dengan membangun ruang pamer, diskusi, edukasi, dan jejaring yang memungkinkan seniman bertahan dan berkembang.

Baca Juga :  Resonansi yang Tak Terlihat: Membaca “Bawah Tanah” I Nyoman Sandiya
Karya sebagai Sikap: Dari Rinjani hingga Doa Orang Tua

Dalam Pameran Mandalika Art Community bertema “Resonansi” di Galeri Taman Budaya Provinsi NTB yang berlangsung hingga 30 Desember 2025, Muzhar menampilkan dua karya yang merepresentasikan dua sisi penting dalam praktik seninya: kritik sosial-ekologis dan refleksi personal-spiritual.

Karya pertama berjudul “TNGR (Taman bermaiN Gunung Rinjani)”, berukuran 100 x 100 cm dengan mix media. Karya ini merujuk pada Taman Nasional Gunung Rinjani, kawasan yang memiliki nilai ekologis dan sakral bagi masyarakat lokal.

Melalui gestur visual yang kuat, Muzhar menyuarakan kegelisahannya terhadap arus modernisasi: rencana pembangunan kereta gantung, seaplane, dan glamping yang berpotensi mengubah karakter alam Rinjani.

Bagi Muzhar, modernisasi yang tak terkendali bukan hanya mengancam kelestarian alam, tetapi juga memudarkan nilai sakral dan kepercayaan lokal. Jika dibiarkan, Rinjani berisiko kehilangan marwahnya, berubah menjadi sekadar “taman bermain”.

Karya kedua berjudul “Dibalik proses dan sukses ada do’a orang tua yang selalu terakses”, berukuran 45 x 103 cm dengan media campuran di atas kanvas. Di sini, Muzhar menyingkap sisi personal yang lebih lirih.

Karya ini berbicara tentang doa orang tua sebagai kekuatan tak kasatmata yang menyertai setiap proses hidup.

“Di balik kemudahan kita dalam berproses dan meraih sukses, ada kekuatan doa orang tua yang sangat mustajab,” tulisnya dalam deskripsi karya.

Dua karya ini menunjukkan spektrum praktik seni Muzhar: dari kritik terhadap struktur besar hingga penghormatan pada nilai paling intim dalam hidup.

Dengan demikian, Muzhar adalah potret seniman yang tumbuh dari keterbatasan, namun tidak terjebak di dalamnya. Ia melukis bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membangun ruang bersama.

Seni baginya adalah cara bertahan, cara bersuara, sekaligus cara merawat ekosistem.

Di tengah tantangan ekonomi, minimnya infrastruktur, dan keraguan generasi muda, langkah-langkah kecil yang ia tempuh bersama Lombok Art Community menjadi penting.

Ia mungkin belum sampai pada mimpi besarnya, tetapi ia telah memulai sesuatu yang esensial: melukis jalan hidup, sambil membuka jalan bagi yang lain. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA