Gagasan Prof. Muhamad Ali tentang Moyo–Satonda sebagai Laboratorium Adaptasi Dunia

Sabtu, 27 Desember 2025 - 15:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jika Wallace Line adalah kerangka besar, maka Moyo–Satonda merupakan salah satu ruang praksisnya (Foto: ntbprov.go.id)

Jika Wallace Line adalah kerangka besar, maka Moyo–Satonda merupakan salah satu ruang praksisnya (Foto: ntbprov.go.id)

Catatan Agus K. Saputra

CERAKEN.ID–Di tengah percakapan tentang masa depan pendidikan tinggi, Universitas Mataram (Unram) menghadapi sebuah persimpangan penting. Bukan semata soal pergantian kepemimpinan periode 2026–2030, tetapi tentang arah visi: apakah kampus akan tetap berjalan di jalur konvensional, atau berani melangkah ke terobosan yang menjadikan ruang belajar melampaui tembok kelas.

Prof. Muhamad Ali, Ph.D., calon Rektor Unram 2026–2030, menawarkan sebuah gagasan yang relatif segar namun berakar kuat pada realitas geografis dan ekologis Nusa Tenggara Barat (NTB): EduWisata. Sebuah konsep yang memadukan pendidikan, riset, dan pariwisata berbasis ilmu pengetahuan, dengan kawasan Moyo–Satonda sebagai salah satu episentrumnya.

“NTB telah menjadi sumber inspirasi dunia untuk kehidupan masa depan seperti Wallace Line dan Lesser Sunda. Saatnya kita eksplorasi untuk menarik mahasiswa dan peneliti asing,” ujar Prof. Ali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan ini tidak berhenti sebagai slogan. Ia membawa konsekuensi epistemologis: bahwa kampus di daerah seperti Unram justru memiliki keunggulan strategis yang tidak dimiliki universitas di pusat-pusat metropolitan, yakni laboratorium alam yang hidup.

EduWisata: Belajar di Luar Kelas, Membaca Dunia Secara Langsung

EduWisata atau wisata edukasi bukan sekadar perjalanan sambil belajar. Ia adalah model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memadukan rekreasi dengan tujuan pendidikan. Wisatawan, mahasiswa, dan peneliti tidak hanya melihat, tetapi mengalami langsung objek pembelajaran: alam, budaya, sistem sosial, hingga praktik agro dan sains.

Dalam konsepnya, EduWisata mencakup beberapa prinsip utama:

  • Integrasi pendidikan dan pariwisata, di mana kegiatan belajar formal dikemas dalam pengalaman yang menyenangkan dan interaktif.
  • Pembelajaran praktis, dengan keterlibatan langsung peserta terhadap objek dan subjek kajian.
  • Tujuan transformatif, yakni menumbuhkan pemahaman mendalam, kreativitas, dan kesadaran ekologis serta kultural.

Berbeda dengan wisata massal yang seringkali eksploitatif, EduWisata menempatkan pengetahuan sebagai inti, dan keberlanjutan sebagai etika.

Bagi Prof. Ali, model ini bukan sekadar inovasi akademik, tetapi juga strategi internasionalisasi kampus. Dengan EduWisata, Unram tidak hanya “menunggu” mahasiswa dan peneliti asing datang, melainkan mengundang dunia untuk belajar langsung dari NTB.

Nama Wallace Line bukanlah istilah asing dalam dunia biologi evolusioner. Garis imajiner yang diperkenalkan Alfred Russel Wallace ini memisahkan fauna Asia dan Australia, dan menjadikan wilayah di antaranya termasuk Nusa Tenggara sebagai zona transisi biologis paling penting di dunia.

Baca Juga :  Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Menurut Prof. Ali, Wallace Line bukan hanya warisan ilmiah, tetapi juga narasi besar tentang adaptasi kehidupan.

“Wallace Line adalah laboratorium adaptasi dunia. Ia mengajarkan bahwa makhluk yang bertahan hidup bukan yang paling kuat, melainkan yang paling mampu beradaptasi,” ujarnya.

Dalam konteks krisis iklim global, pelajaran ini menjadi semakin relevan. NTB, dengan ekosistem darat dan lautnya yang khas, menyimpan data alam tentang bagaimana spesies beradaptasi terhadap tekanan lingkungan, perubahan iklim, dan isolasi geografis.

EduWisata berbasis Wallace Line berarti mengubah teori evolusi, ekologi, dan adaptasi dari teks buku menjadi pengalaman langsung di lapangan, sebuah pendekatan yang sangat diminati oleh mahasiswa dan peneliti internasional.

Jika Wallace Line adalah kerangka besar, maka Moyo–Satonda merupakan salah satu ruang praksisnya. Kawasan ini berada dalam wilayah Lesser Sunda, gugusan pulau yang dikenal memiliki biodiversitas laut dan darat yang luar biasa, serta fenomena geologi yang langka.

Pulau Satonda, dengan danau air asinnya yang terbentuk akibat letusan gunung purba dan interaksi laut, telah lama menarik perhatian ilmuwan dunia. Nama-nama seperti Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak tercatat sebagai peneliti yang mengincar kawasan ini untuk mempelajari fenomena biogeokimia, mikrobiologi, dan evolusi ekosistem purba.

“Lesser Sunda, di antaranya Moyo–Satonda, merupakan laboratorium alam laut yang sangat kaya biodiversity dan fenomena alam,” jelas Prof. Ali.

Dalam perspektif EduWisata, kawasan ini bukan sekadar destinasi eksotis, melainkan ruang belajar multidisipliner: biologi laut, geologi, klimatologi, antropologi, hingga kebijakan lingkungan. Mahasiswa tidak hanya mencatat, tetapi mengamati, berdiskusi, dan berinteraksi dengan realitas yang mereka pelajari.

Gagasan EduWisata juga mengandung kritik halus terhadap model internasionalisasi pendidikan tinggi yang selama ini bertumpu pada publikasi, ranking, dan kerja sama formal semata. Prof. Ali menawarkan pendekatan yang lebih kontekstual: internasionalisasi berbasis keunggulan lokal.

Unram, dalam pandangan ini, tidak perlu meniru universitas di kota besar. Justru dengan memaksimalkan posisi NTB sebagai kawasan strategis ekologis dunia, Unram dapat menjadi magnet akademik global.

Baca Juga :  Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama

Mahasiswa dan peneliti asing datang bukan hanya untuk kuliah, tetapi untuk mengalami langsung “teks hidup” yang bernama alam NTB. Kampus menjadi penghubung antara pengetahuan global dan kearifan lokal.

Dampak Sosial dan Kultural: Dari Kampus ke Masyarakat

EduWisata tidak hanya berdampak pada dunia akademik. Jika dikelola dengan baik, ia berpotensi menggerakkan ekonomi lokal, memberdayakan masyarakat sekitar, dan memperkuat kesadaran konservasi.

Masyarakat di sekitar Moyo dan Satonda tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi dapat berperan sebagai pemandu lokal, mitra riset, dan penjaga pengetahuan tradisional. Dengan demikian, EduWisata menjadi ruang pertemuan antara sains modern dan pengetahuan lokal.

Namun, di sinilah tantangan terbesar: memastikan bahwa EduWisata tidak berubah menjadi pariwisata eksploitatif dengan label akademik. Dibutuhkan kebijakan etis, kurikulum yang jelas, serta kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor.

Konsep EduWisata memang menjanjikan, tetapi belum banyak dikembangkan secara sistematis di Indonesia. Tantangannya meliputi infrastruktur, regulasi, kesiapan SDM, serta sinergi antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pertanyaan kritisnya bukan lagi apakah EduWisata mungkin dilakukan, melainkan bagaimana memastikan ia berjalan berkelanjutan dan bermartabat.

Di sinilah kepemimpinan kampus diuji. Gagasan Prof. Ali membuka ruang diskusi bahwa rektor bukan hanya administrator, tetapi arsitek visi akademik yang berani membaca masa depan dari konteks lokal.

Pada akhirnya EduWisata yang ditawarkan Prof. Ali bukan sekadar program unggulan, melainkan cara pandang baru terhadap pendidikan tinggi. Bahwa belajar tidak selalu harus berada di ruang tertutup; bahwa alam adalah buku terbuka yang selama ini kurang dibaca secara serius; dan bahwa NTB bukan daerah pinggiran, melainkan pusat pengetahuan adaptasi dunia.

Jika Unram mampu mengartikulasikan visi ini secara konsisten, maka Moyo–Satonda tidak hanya akan dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang belajar global tentang masa depan kehidupan di bumi.

Dan mungkin, dari sana, Unram tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membangun peradaban pengetahuan yang berakar pada bumi tempat ia berpijak.

#Akuair-Ampenan, 27-12-2025

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak
Bahagia yang Tak Bisa Sendiri
Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur
Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030
Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D
Ahmad Saufi: Menyambungkan Sekolah dengan Pasar Kerja
Dari Dapur ke Kanvas: Sun Noosea dan Jalan Reva Adhitama
Dari Berlin ke NTB: Diplomasi Budaya, Sastra, dan Bekal Kepemimpinan Ahmad Saufi

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 08:50 WITA

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:04 WITA

Bahagia yang Tak Bisa Sendiri

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:27 WITA

Lalu Payasan: Menjaga Agama Lewat Adat, Merawat Sasak Lewat Tafakur

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:47 WITA

Ketika Angka Berbicara dan Konfigurasi Berubah: Pelajaran dari Pemilihan Rektor Unram 2026–2030

Rabu, 7 Januari 2026 - 22:27 WITA

Mencoba Menakar Peluang Prof. Muhamad Ali, Ph.D

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA