Cupak Gerantang The Musical: Ketika Dongeng Lama Menyala di Panggung Rakyat

Minggu, 28 Desember 2025 - 10:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dende Wirasasih  tampil sebagai poros emosional cerita (Foto: ist)

Dende Wirasasih tampil sebagai poros emosional cerita (Foto: ist)

CERAKEN.ID- Sabtu malam (27/12), halaman Kantor Desa Kuripan Utara berubah menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Lampu-lampu sederhana, denting gamelan, tubuh-tubuh aktor yang bergerak dalam irama, serta tepukan penonton, menjadi saksi bahwa Cupak Gerantang The Musical tidak sekadar “dipentaskan”, tetapi dihidupi.

Pementasan ke-9 karya Gandes Soliha dan Wahyu Kurnia ini menandai sebuah capaian penting. Bukan hanya bagi tim produksi, tetapi juga bagi denyut teater rakyat Lombok hari ini.

Antusiasme pemirsa terasa sejak awal. Anak-anak, orang tua, pemuda, hingga warga yang mungkin baru pertama kali menonton teater musikal, larut dalam kisah klasik yang mereka kenal sejak kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun malam itu, Cupak Gerantang tidak sekadar dongeng. Ia menjelma menjadi refleksi moral, kritik sosial, dan perenungan tentang watak manusia yang terus berulang lintas zaman.

Dongeng sebagai Cermin Watak

Kisah Cupak dan Gerantang pada dasarnya adalah cerita tentang pilihan: antara jalan mudah dan jalan benar. Di tangan sutradara Wahyu Kurnia, cerita ini ditarik keluar dari wilayah folklor semata, menuju ruang etis yang lebih luas.

Cupak atau Loq Bosoq, yang diperankan langsung oleh Wahyu Kurnia, tampil bukan hanya sebagai tokoh antagonis, melainkan simbol kerakusan, kemalasan, dan manipulasi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sosial.

Sebaliknya, Gerantang atau Raden Panji (diperankan Fiyan Hidayat) adalah representasi kesatria yang bersandar pada ketulusan, kesabaran, dan kesetiaan. Pertentangan keduanya bukan sekadar konflik personal, tetapi konflik nilai.

Dan di sanalah kekuatan utama pementasan ini. Ia tidak menggurui, tetapi memperlihatkan konsekuensi dari setiap pilihan moral.

Dende Wirasasih (Tiara) tampil sebagai poros emosional cerita. Ia bukan sekadar “hadiah” bagi pemenang, melainkan subjek penderitaan yang menanggung akibat dari konflik dua lelaki.

Baca Juga :  Ketika Seni Berbicara dan Kemanusiaan Mendengar

Kesedihan, kesetiaan, dan daya hidup tokoh ini dimainkan dengan ekspresi yang menyentuh, terutama pada babak-babak pasca kehilangan Gerantang.

Dipentaskannya pertunjukan ini di halaman kantor desa bukan pilihan teknis semata, melainkan sikap artistik. Ruang terbuka memungkinkan interaksi langsung antara pemain dan penonton.

Tawa, teriakan, bahkan keheningan penonton menjadi bagian dari dramaturgi. Di titik ini, teater kembali ke akar sosialnya: seni sebagai peristiwa kolektif.

Musik yang digarap oleh Andhika, Yuda, Jimy, Affan, dan Iful, menjadi tulang punggung suasana. Gamelan tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga penanda emosi dan ritme cerita.

Peralihan gending dari lirih ke tegang, dari riang ke muram, menjadi jembatan yang mengikat satu adegan ke adegan berikutnya.

Sementara itu, kehadiran penari (Hida, Nufus, Fida) memperkaya visual dan mempertegas nuansa ritual dalam kisah ini. Gerak mereka tidak sekadar estetis, tetapi simbolik: menyiratkan transisi batin, kekuatan gaib, dan kehendak takdir.

Cupak: Simbol Abadi Niat Buruk

Salah satu kekuatan naskah ini adalah keberaniannya mempertahankan Cupak sebagai tokoh yang konsisten dalam keburukan. Ia tidak bertobat, tidak menyesal, dan justru terus memoles dusta.

Dalam konteks sosial hari ini, Cupak terasa begitu dekat: sosok yang gemar mengklaim prestasi orang lain, memanipulasi keadaan, dan memanfaatkan empati publik.

Adegan pengkhianatan Cupak, saat sengaja menjatuhkan tali dan batu ke arah Gerantang, menjadi titik balik moral cerita. Penonton tidak hanya menyaksikan tragedi, tetapi juga mengenali pola kejahatan yang sering kali dibungkus dengan air mata dan kata-kata manis, sebagaimana monolog Cupak setelah kematian Gerantang.

Baca Juga :  Belian sebagai Diri Sendiri: Abdul Haris dan Pengetahuan yang Hidup

Namun naskah ini juga adil: keburukan tidak pernah benar-benar menang. Meski Cupak sempat berjaya dan hampir menikahi Dende Wirasasih, kebenaran menemukan jalannya sendiri melalui kesabaran, kecerdikan, dan keberanian Gerantang.

Pilihan menjadikan presean sebagai klimaks cerita adalah keputusan dramaturgis yang cerdas. Presean bukan hanya atraksi fisik, tetapi simbol kejujuran dan keberanian.

Di arena ini, dusta tidak bisa bersembunyi lama. Tubuh menjadi penentu kebenaran.

Pertarungan terakhir antara Cupak dan Gerantang, dengan iringan gending rangsang, menghadirkan ketegangan yang nyata. Ketika Cupak akhirnya tersungkur dan Gerantang menguasai permainan, penonton menyaksikan bukan sekadar kemenangan fisik, tetapi kemenangan nilai.

Blackout pada akhir pertunjukan justru memperkuat pesan: keadilan tidak selalu membutuhkan kata-kata penutup. Ia cukup dirasakan.

Pementasan ke-9 ini membuktikan bahwa Cupak Gerantang The Musical bukan proyek sesaat. Ia tumbuh melalui pertemuan berulang dengan penonton, menyerap energi rakyat, dan menyesuaikan napasnya dengan konteks ruang.

Di tengah dominasi hiburan digital, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang tak tergantikan: kebersamaan, keterlibatan emosional, dan refleksi nilai.

Lebih dari itu, pementasan ini menunjukkan bahwa teater tradisi tidak harus beku. Ia bisa musikal, segar, komunikatif, dan tetap berpijak pada akar budaya. Ia bisa lucu sekaligus getir, sederhana namun sarat makna.

Pada akhirnya, Cupak Gerantang The Musical mengingatkan kita bahwa kisah lama tidak pernah usang, selama manusia masih bergulat dengan nafsu, kekuasaan, dan cinta.

Selama ada panggung, sekecil halaman desa pun, kisah itu akan terus menemukan pendengarnya.(aks)

 

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA